Loading...

BUDIDAYA GADUNG

BUDIDAYA GADUNG
GADUNG (Dioscorea hispida) Gadung (Dioscorea hispida) merupakan tumbuhan perambat, berumur menahun (perenial), panjang bisa mencapai 10 m. Batang berkayu, silindris, membelit, warna hijau, bagian dalam solid, permukaan halus, berduri. Daun majemuk, bertangkai, beranak daun tiga (trifoliolatus), warna hijau, panjang 20 – 25 cm, lebar 1 – 12 cm, helaian daun tipis lemas, bentuk lonjong, ujung meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, pertulangan melengkung (dichotomous), permukaan kasap (scaber). Bunga majemuk, bentuk bulir (spica), muncul dari ketiak daun (axillaris). Buah lonjong, panjang kira-kira 1 cm. Akar serabut.Bibit dan Waktu TanamBiasanya gadung diperbanyak dengan menggunakan umbi atau bijinya walaupun perbanyakan dengan stek masih dimungkinkan. Tetapi biasanya hasil panennya kurang memuaskan dibandingkan dengan umbi. Perbanyakan menggunakan biji juga kurang umum diterapkan. Gadung sebaiknya ditanam di awal musim hujan karena tanaman ini tidak ekonomis atau tidak umum di tanam di areal yang beririgasi teratur. Di areal dengan musim hujan kurang dari 8 bulan, penanaman awal sampai dengan 3 bulan sebelum datangnya musim hujan dapat meningkatkan hasil sebesar 30 %.Pengolahan Tanah dan Produksi TanamanTanaman gadung menghendaki tanah dengan drainase yang baik, subur, kandungan bahan organik yang tinggi, dan tekstur tanah yang ringan. Umbi ditanam sebanyak 3 atau 4 buah per lubang pada guludan-guludan. Penanaman ini dilakukan pada awal atau akhir musim hujan, tergantung pada kultivar dan jangka waktu pertumbuhan menuju kematangan. Sedangkan jarak tanam yang digunakan yaitu guludan berjumlah 30 – 36 setiap kompleks, sedangkan jarak antar tanaman adalah 37,5 – 50 cm, tergantung besarnya habitus tanamannya. Kemudian tanaman muda ditutupi dengan rumput kering pada saat penanaman berlangsung. Tanaman muda disarankan diikat pada bambu yang dipasang saat penanaman.Pemeliharaan1. Pemupukan dan Pengairan Sebelum penanaman, areal pertanaman dipupuk menggunakan pupuk NPK beberapa hari sebelum penanaman dilakukan. Pengairan merupakan hal yang tidak umum dilakukan untuk mengairi tanaman ini. Hujan merupakan sumber air yang paling diandalkan.2. Pengendalian Gulma, Hama dan Penyakit Tidak terdapat gulma penting yang dilaporkan mengganggu tanaman ini. Sedangkan hama yang penting yaitu yam beetle (Heteroligus claudius) yang pada stadium larva memakan jaringan umbi dan yam schoot beetle (Criocerts livida) yang pada stadium larva memakan daun-daun muda dan tajuk. Hama pertama biasanya ditanggulangi dengan melakukan rotasi tanaman dan melakukan penanaman yang lambat (late planting). Hama yang kedua dikendalikan melaksanakan penyemprotan pyrethrum. Hama yang lainnya adalah ulat yang menyebabkan umbi mengeras (rot). Hama ini dapat dikendalikan dengan eradikasi atau pemusnahan tanaman yang terinfeksi dan dengan rotasi atau pergiliran tanaman, sedangkan penyakit yang menyerang adalah mosaik virus yang menyebabkan penyakit white yam, yellow guinea yam I (paling mematikan), water yam, dan Chinese yam. Gejala yang ditimbulkan adalah tanaman menjadi kerdil atau terhambat pertumbuhannya. Pemilihan umbi yang sehat, pemusnahan tanaman yang terinfeksi dan tanaman liar merupakan cara yang dianjurkan untuk mencegah serangan penyakit-penyakit tersebut.PemanenanPanen dapat dilakukan setelah tanaman berumur 12 bulan. Pada budidaya tanaman ini dikenal istilah panen tunggal (single harvesting) dan panen ganda (double harvesting). Pada panen tunggal, tanaman dipanen setelah musim berakhir. Pemanenan dilakukan setelah sebagian besar daun menguning. Pemanenan ini dilaksanakan 1 bulan sebelum penuaan (senescence) sampai 1-2 bulan sesudahnya. Caranya adalah dengan menggali, mengangkat, dan memotong umbi agar terpisah dari tajuknya. Panen terdiri dari panen pertama (first harvest) dan panen kedua (second harvest).Panen pertama dilakukan pada saat pertengahan bulan, kira-kira 4-5 bulan sesudah tanam, secara hati-hati agar tidak merusak sistem perakaran, tanah digali di sekeliling tanaman dan umbi diangkat, kemudian umbi dilukai tepat pada bagian bawah sambungan umbi-tajuk. Selanjutnya tanaman ditanam kembali sehingga tanaman akan membentuk lebih banyak umbi lagi (re-tuberization) di sekitar luka setelah panen pertama. Saat tanaman menua pada akhir musim, panen kedua dilakukan. Saat ini tidak ada perlakuan khusus untuk menjaga sistem perakaran. Gadung biasanya dipanen dengan cara yang pertama atau panen tunggal. Sedangkan cara yang kedua lebih banyak dilakukan pada Dioscorea cayenensis dan Dioscorea alata.PenyimpananSangat sedikit gadung yang setelah dipanen kemudian diproses lebih lanjut, umbi harus disimpan dalam bentuk segar. Sebelum disimpan, umbi segar dipanaskan (curing) pada suhu 29-320 C dengan kelembaban relatif (relative humidity) yang tinggi. Proses ini membantu meningkatkan cork dan pengobatan luka pada kulit umbi.Terdapat 3 faktor yang diperlukan agar penyimpanan berlangsung efektif, yaitu :• Aerasi harus dijaga dengan baik. Hal ini diperlukan untuk menjaga kelembaban kulit umbi, sehingga mengurangi serangan mikroorganisme. Aerasi juga diperlukan agar umbi dapat berespirasi atau bernafas dan menghilangkan panas akibat respirasi tersebut.• Suhu harus dijaga antara 12-150C. Karena penyimpanan dengan suhu yang lebih rendah menyebabkan kerusakan umbi (deterioration) dan warna umbinya berubah menjadi abu-abu. Sedangkan penyimpanan pada suhu yang lebih tinggi membuat respirasi menjadi tinggi yang menyebabkan umbi kehilangan banyak berat keringnya. Secara tradisional, petani menyimpan umbi pada ruang yang teduh atau tertutup.• Pengawasan harus dilakukan secara teratur. Umbi yang rusak harus segera dikeluarkan sebelum menginfeksi yang lain, dan mengawasi kemungkinan serangan oleh tikus atau serangga.Cara Penurunan Kadar RacunUmbi gadung sebelum dikonsumsi atau dimasak, terlebih dahulu harus dihilangkan racunnya, karena dapat menimbulkan pusing-pusing bagi yang memakannya. Umbi gadung mengandung racun atau zat alkaloid yang disebut dioscorin (C13H19O2N), dimana racun ini apabila dikonsumsi, walaupun kadarnya rendah dapat menyebabkan pusing. Racun dioscorin dapat dihilangkan dengan beberapa cara yang khusus, diantaranya adalah cara Rumphius.Cara ini dapat menurunkan atau menghilangkan kadar racun umbi gadung. Langkah-langkah cara Rumphius adalah sebagai berikut :• Ambil umbi gadung secara hati-hati agar tidak terluka• Potong umbi menjadi beberapa potong dengan menggunakan pisau yang tajam.• Lumuri luka bekas potongan tersebut dengan abu dapur, dan biarkan atau simpan selama 24 jam.• Kemudian kupas kulit potongan umbi gadung tersebut hingga bersih.• Cuci potongan gadung yang telah dikupas dalam air mengalir.• Masukkan potongan umbi gadung ke dalam keranjang dan segera rendam dalam air garam selama 2 – 4 hari.• Angkatlah dan tiriskan potongan-potongan umbi gadung tersebut dari air garam, lalu cuci dengan air gula.• Selanjutnya, jemur potongan-potongan umbi gadung di bawah sinar matahari.• Ulangi perendaman dalam air garam, pencucian dengan air gula dan penjemuran hingga 2 – 3 kali agar racun dioscorin benar-benar hilang.Untuk mendapatkan kepastian bahwa umbi gadung sudah tidak beracun, dapat dicoba pada ternak. Apabila ternak yang memakan umbi gadung tersebut tidak menunjukkan gejala apa-apa, berarti umbi gadung tersebut sudah tidak mengandung racun. Namun sebaliknya apabila ternak yang memakannya menunjukkan gejala-gejala pusing-pusing berarti umbi gadung tersebut masih mengandung racun, oleh karena itu proses perendaman umbi gadung dalam air garam, pencucian dengan air gula dan penjemuran masih harus diulang sehingga racunnya benar-benar hilang.Cara lain untuk menghilangkan racun umbi gadung adalah cara konvensional dengan langkah-langkah sebagai berikut :• Kupas kulit umbi gadung yang masih segar sehingga bersih.• Potong umbi gadung tipis-tipis, lalu lumuri dengan abu kayu (abu dapur)• Jemur umbi gadung yang telah dilumuri abu kayu tersebut hingga benar-benar kering.• Rendam umbi gadung tersebut dengan air bersih yang mengalir selama 3 – 4 hari.• Tiriskan umbi gadung tersebut, lalu cuci lagi dengan air garam.• Angkat dan jemur umbi gadung hingga benar-benar kering.MANFAAT GADUNGPemanfaatan umbi gadung sampai saat ini yang paling banyak dilakukan oleh para petani adalah untuk membuat keripik. Keripik gadung dengan penampilan yang cukup menarik dan apabila dikonsumsi tidak menimbulkan rasa pusing banyak diminati oleh para konsumen.Pembuatan keripik gadung yang tidak beracun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :Alat dan BahanAlat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan keripik gadung yang tidak beracun adalah :Alat-alat yang dibutuhkan meliputi : pisau, wadah, tampah dan beberapa sarana penunjang lainnya.Bahan-bahan yang diperlukan adalah : umbi gadung, garam, abu dapur, bumbu dan penyedap.Cara PembuatanTahapan kegiatan dalam pembuatan keripik gadung yang tidak beracun adalah sebagai berikut :• Pilih umbi gadung yang masih segar.• Kupas kulit umbi gadung dengan pisau yang tajam hingga bersih.• Iris-irislah umbi gadung tersebut sehingga menjadi irisan-irisan yang tipis.• Lumuri umbi gadung tersebut dengan abu dapur sambil sedikit diremas-remas hingga lunak.• Jemur irisan umbi gadung yang berlumur abu dapur tersebut hingga benar-benar kering.• Rendam irisan umbi gadung dalam air mengalir selama 3 – 4 hari Apabila air perendaman tidak mengalir, maka air perendaman harus diganti setiap 2 – 3 jam sekali selama 3 – 4 hari.• Angkatlah irisan umbi gadung tersebut dari air perendaman kemudian cuci dengan air bersih hingga abu dapurnya benar-benar hilang.• Cuci irisan umbi gadung tersbeut dalam air garam (sekaligus berfungsi untuk pembumbuan)• Jemur kembali irisan umbi gadung tersebut sehingga benar-benar kering.• Irisan umbi gadung kering yang sudah berbumbu tersebut dapat segera digoreng, disimpan ataupun langsung dikemas untuk dijual. Selain untuk membuat keripik umbi gadung dapat dibuat berbagai olahan seperti pounded yam dan fried yam balls yang cukup popular dan paling tradisional di Afrika Barat, dengan cara pembuatan sebagai berikut :Pounded YamBahan dan Alat :Bahan yang diperlukan adalah umbi rebus, dan peralatan yang dibutuhkan adalah perebus dan penumbuk atau mortar.Cara Pembuatan :Cara pembuatan pounded yam adalah dengan merebus umbi gadung, kemudian menumbuknya pada mortar sampai berbentuk atau berupa bahan yang kental atau pasta. Pasta ini kemudian dibentuka menjadi bola atau bulatan. Bulatan ini kemudian dimakan dengan cara mencelupkannya dalam saus dan ditelan tanpa dikunyah terlebih dahulu.Fried Yam BallsBahan dan Alat :Bahan yang digunakan adalah umbi segar dan bumbu, sedangkan peralatannya adalah pengupas, pemarut dan penggoreng.Cara Pembuatan :Umbi segar dikupas kulitnya, kemudian diparut. Selanjutnya dicampur dengan bumbu-bumbu dan digoreng sambil dibentuk bola atau bulatan.Bentuk olahan lain yang paling umum dijumpai adalah tepung gadung, flake dan keripik (chips) gadung, bentuk tersebut adalah :Tepung GadungBahan dan Alat :Bahan yang diperlukan adalah umbi segar dengan peralatan pisau, mortar dan saringan.Cara Pembuatan :Umbi segar dikupas kulitnya kemudian dipotong-potong dengan ukuran kecil, selanjutnya potongan ini dijemur secara alami dibawah sinar matahari selama beberapa hari (sampai benar-benar kering). Potongan ini kemudian dihancurkan dengan menggunakan mortar atau penggilingan besar yang dijalankan oleh mesin dan disaring. Hasil tepung yang baik adalah berwarna putih dan berbentuk serbuk tepung. Potongan kering setelah dijemur dan tepung dapat disimpan selama beberapa bulan.Flake GadungBahan dan Alat :Bahan yang dibutuhkan adalah umbi segar yang telah dikupas, sedangkan peralatan yang dibutuhkan adalah panic, kompor, alat pemotong, plastik dan kulkas.Cara Pembuatan :Umbi segar dikupas lalu direbus. Umbi rebusan ini dipotong-potong yang menyerupai flake. Bentuk flake ini dikeringkan dengan roller drying lalu dikemas dalam plastik dan siap disimpan dalam keadaan dingin untuk jangka waktu yang lama. Cara menyajikannya adalah dengan menuangkan air panas kedalam flake tersebut sambil diaduk. Pengadukan ini akan menyebabkan flake berubah menjadi bubur yang kental seperti pasta dan dimakan sebagai saus atau makanan utama.Keripik GadungBahan dan Alat :Bahan yang diperlukan adalah umbi segar dan bumbu-bumbu, sedangkan peralatannya yaitu pisau, kompor, penggorengan dan plastikCara Pembuatan :Umbi dikupas kulitnya lalu dicuci sampai bersih dan dipotong-potong tipis. Potongan ini kemudian direndam dalam bumbu sesuai selera. Selanjutnya potongan digoreng menggunakan minyak, sesudah itu dikemas dalam plastik untuk disimpan, dikonsumsi atau dijual. Kegunaan lain dari umbi gadung adalah untuk pengobatan beberapa jenis penyakit, antara lain sebagai berikut :• Kencing manis• Nyeri empedu• Kusta• Keputihan• Mulas• Nyeri haid• Radang kandung empedu• Rematik (nyeri persendian)• Kapalan (obat luar)Contoh takaran dan meramunya adalah sebagai berikut :Untuk penyakit Kusta (Lepra)Penyakit kusta yang masih dini, dapat diobati dengan ramuan sebagai berikut :Bahan-bahan :• Rimpang gadung beberapa keeping• Buah jabe jawa beberapa butir• Lada putih secukupnya• Kelapa parutan secukupnya• Gula aren secukupnya• Air 150 ml.Cara pembuatan :Dibuat infusCara pemakaian :Diminum 1 kali sehari 100 ml dan diulang selama 14 hari.Keripik gadung cukup dikenal masyarakat di tanah air sebagai penganan ringan. Tumbuhan gadung (Dioscorea hispida Dennst) adalah salah satu jenis tumbuhan merambat yang umbinya dimanfaatkan dalam industri rumah tangga yang bisa dijadikan keripik. Namun, keripik yang sepintas hanya dianggap sebagai makanan ringan ini nyatanya memiliki berbagai khasiat obat. Kandungan kimia yang dikandung tumbuhan gadung adalah dioscorine (racun penyebab kejang), saponin, amilum, CaC204, antidotum, besi, kalsium, lemak, garam fosfat, protein, dan vitamin B1. Bagian yang bisa dimanfaatkan sebagai obat adalah umbinya. Menurut pakar tanaman obat, Prof Hembing Wijayakusuma dalam bukunya Tumbuhan Berkhasiat Obat, penyakit yang bisa diatasi dengan gadung adalah rematik. Umbi gadung bisa digunakan sebagai obat luar atau obat dalam. Pada pemakaian luar, umbi gadung diparut dan ditempelkan pada bagian yang sakit. Untuk pemakaian dalam, 15 sampai 30 gram umbi gadung segar atau 5 gram kering direbus lalu airnya diminum atau dijadikan keripik lalu dimakan. Mengatasi rematik, 30 gram umbi gadung, 10 gram jahe merah, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc lalu disaring dan diminum airnya. Lakukan secara rutin.Ekologi tanaman gadung adalah hutan tropis dengan curah hujan tinggi, hutan tanah kering dan dapat tumbuh di sela-sela tanaman lainnya. Dengan demikian tanaman gadung umumnya tumbuh liar di hutan-hutan jati, hutan bambu, pinggiran hutan terutama di tempat terbuka. Karena merupakan tanaman liar, umbi gadung jarang dimanfaatkan masyarakat. Namun di beberapa tempat/daerah gadung dimanfaatkan sebagai pangan alternatif pada saat kekurangan pangan sebagai makanan atau cemilan.Namun demikian tanaman gadung juga bisa dibudidayakan dengan menanam umbinya atau potongan umbi.Produktivitas tanaman gadung per satuan luas dalam 1 hektar dapat mencapai sekitar 20-40 ton. Sebagai tanaman liar, produktivitasnya biasanya tidak terialu tinggi karena kurangnya perawatan dan kerapatan tanamannya rendah. Jika dibudidayakan secara intensif dan dilakukan pemupukan, tanaman gadung bias menghasilkan umbi sekitar 40 ton /ha per tahun. Dalam waktu 1 tahun tanaman gadung tersebut menghasilkan umbi dalam bentuk rimpang besar.Umbinya bulat besar dengan kulit berwarna kuning kecoklatan dan berambut kasar, wama umbi putih sampai krem. Satu rimpang bisa mencapai berat 5-16 kg, tergantung pada varietas dan lingkungan tempat pertumbuhannya. Pada kondisi tanah yang cocok satu rimpang umbi dapat mencapai berat sekitar 40 kg.Budidaya gadung, persyaratan tumbuh tanaman gadung dengan ketinggian tempat antara 0-850 m di atas permukaan laut, dengan curah hujan antara 1000-1150 mm/tahun. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Perbanyakan bibit umumnya dari umbi. Cara bertanam yang biasa dilakukan adalah dengan cara membuat guludan dengan lubang-lubang pada guludan masing-masing sedalam 30 cm dengan lebar 100 cm. Umbi ditanam sebanyak 3-4 buah per lubang. Ke dalam lubang, bagian bawahnya ditambah sekam atau tangkai padi dan pupuk kandang secukupnya. Umbi yang akan ditanam ditaruh dalam lubang dan ditimbun dengan tanah. Diameter lubang sebesar 50 cm tujuannya agar di sekitar tanaman menjadi gembur, dan keadaan ini mempermudah pemanenan setelah berumur 1 tahun. Selain itu dapat juga dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk NPK secukupnya.Pengendalian hama penyakit, hama penting yang menyerang tanaman gadung adalah Heteroligas Claudius dan Giocerts IMda yang pada stadium muda memakan daun muda dan tajuk daun. Cara pengendaliannya dengan rotasi tanaman atau eradikasi tanaman yang terserang. Penyakit yang sering menyerang adalah Mozaik virus. Gejalanya tanaman kerdil dan terhambat tumbuhnya. Pengendaliannya dengan cara pemilihan umbi yang sehat dan pemusnahan tanaman yang terinfeksi.Pemanenan dan Penanganan PascapanenTanda-tanda tanaman gadung telah siap dipanen apabila daun yang menempel pada batang mulai rontok, pangkal batang lapuk dan tertepas dari umbinya. Pada saat itu umbi gadung harus segera dipanen. Jika terlambat umbi gadung menghasilkan serat relatif lebih banyak sehingga pada saat diolah menjadi produk, serat tadi akan menurunkan mutu produk olahan. Panen dapat dilakukan 2 kali, panen pertama pada umur 4-5 bulan dan panen kedua pada umur 12 bulan.Cara pemanenan dilakukan dengan cara pemotongan batang kurang lebih 30 cm apabila batang belum lapuk, dibersihkan dari yang menempel, dan dengan hati-hati ditarik umbinya. Peralatan yang digunakan agar dihindari alat yang dapat melukai umbi, seperti cangkul, linggis sehingga tidak menggores bagian umbinya. Umbi yang terluka saat pemanenan akan menurunkan kualitas umbi, selain itu bagian luka akan menstimulir terbentuknya kadar HCN selama umbi belum diolah. Hal ini berakibat, kadar residu HCN dalam produk olahan menjadi tinggi. Tempat penyimpanan umbi hasil umbi sebaiknya di ruang teduh dan tertutup.Potensi tanaman gadung (dioscorea hispida dennst) sebagai tanaman industri dan bahan pangan, belum banyak dilirik. Pengembangan tanaman ini baru sebatas untuk makanan ringan, meski manfaat serta khasiatnya cukup banyak.Anggota Dewan Pembina Yayasan Leuser Internasional, Marzuki Usman, ditemui di Banda Aceh mengatakan, potensi tanaman gadung sebagai tanaman industri sangat banyak. Namun, diakuinya, pengembangan ke arah tersebut masih sangat minim.Gadung masih dikenal sebagai makanan orang miskin. Padahal, kalau melihat potensi dan kandungan gizi yang ada di dalamnya, tidak kalah dengan tanaman yang lain, tuturnya.Dia menjelaskan, tanaman gadung tidak memerlukan perawatan yang terlalu besar karena memang selama ini tumbuh secara liar. Namun, dengan pengelolaan yang baik, bisa dipastikan tanaman gadung memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.Lebih lanjut dia menjelaskan, berdasarkan hasil sebuah penelitian, satu hektar tanaman gadung bisa menghasilkan 40 ton tepung gadung. Tepung gadung itu sendiri bisa digunakan lebih lanjut untuk membuat nasi gadung, kentang gadung, roti gadung hingga kek ataupun brownies dari bahan dasar tanaman ini. Selama ini memang baru dikenal sebagai bahan dasar keripik dan beberapa jenis kek saja. Tapi, kalau melihat potensinya, sangat besar, katanya.Mantan Kepala Badan Pengawas Pasar Modal pada era mantan Presiden Abdurrahman Wahid ini mengatakan, di Jambi, pemerintah daerah mendorong budidaya tanaman gadung bersama dengan pengembangan tanaman mahoni. Dibawah hutan mahoni, umbi gadung disebarkan. Perhitungannya, kalau terdapat 100 hektar pohon mahoni, setidaknya masyarakat penggarap, dengan teknologi tertentu bisa menghasilkan 4000 ton tepung gadung. Pohon mahoninya juga sudah bisa dimanfaatkan, ujarnya.Hasil penelitian, menurut Marzuki, tanaman gadung juga bisa diolah menjadi bahan biodiesel atau bio-etanol. Perhitungannya, dalam 10 kilogram umbi, setidaknya bisa menghasilkan dua hingga tiga liter bahan bakar nabati. “Tapi, ini masih perhitungan kasar. 10 kilogram bisa menghasilkan tiga liter bahan bakar nabati, sudah sangat bagus,” katanya.Hasil penelitian tim Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh, menyebutkan, sampai saat ini, tidak ada satupun petani di wilayah provinsi ini yang mengusahakan tanaman ini sebagai tanaman bernilai ekonomi tinggi. S etiap satu batang umbi-umbian, dalam satu tahun, beratnya bisa mencapai lima kilogram. Masa panen tanaman ini adalah pada usia enam hingga 12 bulan.Disamping itu, tanaman gadung sebenarnya sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Diosgenin, zat yang terkandung pada tanaman ini, sudah lama digunakan sbagai bahan baku pembuatan pil anti-kehamilan. Secara et nobotanik, menurut tim peneliti, tanaman ini juga sudah digunakan sebagai obat tradisional yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit kencing manis, nyeri empedu, rematik hingga nyeri persendian.Sementara, untuk pembuatan etanol, kandungan metabolit primer gadung menjadi sumber bahan baku pembuatan etanol atau bahan bakar nabati.Meski demikian, gadung juga memiliki senyawa alkaloid yang diyakini sebagai racun, yaitu senyawa asam sianida.Untuk mengurangi risiko terjadinya keracunan, sebelum dimakan, harus dibersihkan dan direbus dulu hingga matang, kata tim peneliti. Sumber : http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/22742-gali-potensi-peluang-bisnis-budidaya-serta-aneka-olahan-gadung.html(Oleh : E. Rudy Suparsono R, SST Penyuluh Pertanian Muda Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kab. Semarang)