Loading...

BUDIDAYA ITIK ALABIO DI LAHAN FOOD ESTATE

BUDIDAYA ITIK ALABIO DI LAHAN FOOD ESTATE
Pengembangan kawasan food estate atau dikenal juga dengan lumbung pangan di lahan rawa Kalimantan Tengah merupakan program peningkatan produksi pangan nasional. Program strategis ini tentu saja sangat penting untuk menopang ketahanan pangan di tengah pandemi COVID-19 yang sangat luas dampaknya. Banyak komoditas yang menjadi target pengembangan kawasan food estate ini. Salah satu diantaranya adalah komoditas peternakan. Khusus Kalimantan Tengah yang sebagian besar lahannya berupa rawa, komoditas yang paling cocok diantaranya adalah peternakan itik Alabio. Itik Alabio adalah itik yang berasal dari persilangan itik Kalimantan dengan Itik Peking (itik pedaging). Nama alabio diambil dari sebuah nama daerah di Kalimantan Selatan yaitu Alabio. Tepatnya berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Nama ini diberikan oleh drh. Saleh Puspo, seorang ilmuan yang banyak melakukan penelitian tentang itik ini. Itik alabio memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh itik lainnya, yakni postur tubuhnya ramping seperti botol. Bobot badan dewasa antara 1,59-1,72 kg. Itik alabio jantan memiliki warna bulu coklat totol-totol hitam atau putih pada bagian kepala atas, coklat abu-abu muda pada bagian punggung dengan ekor warna hitam melengkung ke atas, dada berwarna coklat putih keabuan, sayap berwarna coklat kerlip perak hijau kebiruan. Sedangkan itik alabio betina biasanya memiliki bulu hitam-putih pada bagian atas, coklat keabuan pada bagian punggung, dada, dan sayap dengan ekor lurus ke belakang. Warna ceker dan paruh kuning gading tua, sementara warna kerabang telurnya hijau kebiruan. Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari memelihara itik ini. Beberapa diantaranya adalah : 1) Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri ; 2) Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik; 3) Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija; 4) Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun; serta 5) Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Untuk melakukan budidaya itik alabio tidaklah sulit. Yang harus diketahui dan dipenuhi adalah beberapa persyaratan dan langkah yang mendukungnya. Diantaranya : a) pemilihan lokasi; b) sarana dan peralatan; c) pemeliharaan dan pembesaran; d) panen dan masa produktif; serta e) penanganan hama dan penyakit. PEMILIHAN LOKASI. Dalam pemilihan lokasi kandang, yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi cukup jauh dari keramaian atau pemukiman penduduk. Selain itu, mudah diakses dan dilewati alat transportasi dari dan ke lokasi pemasaran serta kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Yang tidak kalah pentingnya, kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi. SARANA DAN PERALATAN. Yang perlu diperhatikan adalah: 1) Pemilihan lahan, disamping jauh dari pemukiman agar bau kotoran ternak tidak mengganggu lingkungan sekitar, lahan juga memiliki luas yang cukup; 2) Pembuatan Kandang. Dengan ukuran 4 m X 12 m = 48 m2, dapat menampung 400 ekor itik alabio petelur; 3) Sediakan tempat pakan yang cukup pada kandang agar itik bisa leluasa menikmati pakan yang diberikan; 4) Tempat bertelur, yang terbuat dari kayu yang berbentuk kotak dan diisi dengan ampas padi; 5) Bibit itik, dapat diperoleh dengan cara pemesanan langsung di tempat peternakan itik Alabio. Perbandingan itik jantan dan betina adalah 1 : 10. Itik jantan tidak perlu banyak, karena telur yang dihasilkan hanya untuk dikonsumsi, bukan untuk diternak/ ditetaskan. PEMELIHARAAN DAN PEMBESARAN. Pada masa pembesaran sampai umur 6 bulan, anakan itik alabio hanya diberi makan pakan buatan/ voer. Pada umur dibawah 6 bulan tersebut, pakan harus selalu tersedia setiap saat dalam kandang dan tidak boleh sampai kosong. Setelah anakan berumur lebih dari 6 bulan, ganti pakan dengan dedak yang dicampur dengan sagu dengan perbandingan 1:1. Pemberian pakan dilakukan 4 kali sehari, yaitu masing-masing : pukul 07.00; 11.00; 14.00 dan 17.00. Jumlah kebutuhan pakan ternak dalam sehari untuk 100 ekor itik adalah sebanyak 7 kg dedak dan 7 kg sagu. Sekurangnya seminggu sekali, itik alabio dilepaskan dari kandang, agar dapat memakan rerumputan yang bisa menambah daya tahan tubuh dari itik alabio sendiri. PANEN DAN MASA PRODUKTIF. Panen telur dilakukan setiap hari. Setiap 100 rata-rata menghasilkan ± 90 butir telur per harinya. Masa produktif itik alabio bisa sampai 3 tahun. Itik alabio mulai bertelur setelah berumur 6 bulan. Masa bertelur itik alabio terbagi manjadi 3 tahap, yaitu : a) masa bertelur pertama tersebut selama 9 bulan, dilanjutkan dengan masa non produktif 3 bulan; b) masa bertelur kedua selama 7 bulan, dilanjutkan dengan masa non produktif 3 bulan; c) masa bertelur ketiga selama 5 bulan, dan setelah itu itik alabio tidak produktif lagi. Maka untuk mensiasati agar tetap dalam kondisi menguntungkan, itik alabio yang tidak produktif lagi tersebut diberi makan dengan intensitas yang tinggi sampai gemuk, setelah gemuk kemudian dijual, yang hasil dari penjualan tersebut digunakan untuk membeli bibit (anakan) itik alabio kembali. PENANGAN HAMA DAN PENYAKIT. Secara garis besar penyakit itik ini dikelompokkan dalam dua hal yaitu: 1) Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa; 2) Penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat. Jenis penyakit yang sering menyerang ternak itik adalah: a) Penyakit Duck Cholera. Penyebabnya: bakteri Pasteurela avicida. Gejalanya: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan. Pengendaliannya: sanitasi kandang, pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat; b) Penyakit Salmonellosis. Penyebabnya: bakteri typhimurium. Gejalanya: pernafasan sesak, mencret. Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat. (Inang Sariati). Informasi diambil dari berbagai