budidaya itik potong ala pak sutejo sendangrejo tayu akhir-akhir ini permintaan akan daging itik potong semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi, dulu permintaan daging yang berasal dari unggas didominasi daging ayam, baik ayam kampung maupun ayam pedaging, namun sekarang daging itik sudah diterima lidah konsumen baik dikalangan masyarakat bawah maupun kalangan atas, dan daging itik sangat mudah dijumpai di warung–warung makan baik di pedesaan maupun di perkotaan, baik yang lesehan sampai restoran. hal tersebut merupakan peluang baru yang menjanjikan keuntungan bagi peternak itik baik yang berskala rumah tangga (sambilan) maupun dalam skala besar seperti yang dilakukan pak sutejo yang sudah (6) enam tahun menggeluti usaha tersebut walaupun masih terbilang dalam usaha sambilan dimana mereka memelihara 500 ekor setiap periode pemeliharaan dengan interval 15 hari panen dengan umur itik 70 hari jadi dalam 1 bulan dapat panen 2 kali dengan pendapatan bersih antara rp. 900.000 – rp.1.200.000 setiap 15 hari atau rp. 1.800.000 – rp. 2.400.000 per bulan. tata laksana budidaya meliputi perkandangan kandang berupa bangunan semi permanen dengan ukuran 7 x 8 x 1 m untuk kapasitas 1000 ekor itik. lantai berupa tanah yang dipadatkan dan atasnya diberi sekam padi agar tidak becek, dinding kandang menggunakan terpal plastic dan anyaman bambu. untuk memelihara meri dibutuhkan sekat dari anyaman bambu atau jaring yang luasnya disesuaikan dengan pertumbuhan meri tersebut. pengadaan bibit bibit didapat dari pengusaha penetasan telur itik yang berada di desa margotuhu kecamatan tayu, kabupaten pati, ini sudah menjadi mitra dalam pengadaan bibit itik potong sejak memulai usaha. adapun jenis yang dipelihara adalah jenis itik tegal dengan jenis kelamin khusus jantan adapun umur bibit pada saat droping meri berumur 3 hari. pemberian pakan pakan yang diberikan berupa: dedak (katul), nasi aking, pur b 11 s, konsentrat 144 yang diberikan secara betahap sesuai dengan umur itik. selain diberi pakan, itik juga diberi suplemen yang dicapur dengan minuman berupa vitachik dan niobro. pada itik umur 0 – 7 hari (meri) diberi makan pur b 11 ss sebanyak 5 kg / hari, umur 8 – 20 hari pakan berupa pur b 11 ss 5 kg, nasi aking 2,4 kg/hari dinerikan 3 kali sehari, umur 21-36 hari, jenis makanan yang diberikan berupa nasi aking 5,86 kg, dedak 80 kg, konsentrat 144 sebanyak 3 kg/hari, diberitambahan makan hijauan berupa kangkung yang dicincang dicampur dengan ketiga jenis makanan, umur 37 – 55 hari, makanan yang diberikan adalah dedak 80 kg dan konsentrat 144 sebanyak 4 kg/hari, diberikan 3 kali sehari, dengan cara dedak dicampur air sedikit biar gembel, umur 56 -70 hari, jenis makanan yang diberikan sama yaitu dedak 80 kg, dan konsentrat 144 sebanyak 5,2kg per hari diberikan 3 kali. catatan: pada saat memutus jenis makanan yang lama dan memberikan makanan yang baru jangan spontan, harus sedikit demi sedikit agar itik tidak stress. hama dan penyakit serangan hama dan penyakit hampir jarang terjadi, yang sering terjadi adalah itik lumpuh akibat dari kesalahan dalam pemberian pakan, diantaranya itik diberi konsentrat yang berlebihan. panen dan pemasaran hasil dipanen mulai dari umur 60 hari hingga 70 hari, memilih itik yang bobotnya 1,3-1,5 kg/ekor, kemudian pada umur 70 hari semua itik dipanen. dalam memasarkan hasil ternak, tidak perlu repot-repot mengantar barang, karena pedagang mitra kerja datang sendiri kelokasi/ kandang mengambil itik yang dipanen tersebut. analisa untung rugi dalam analisa untung rugi dengan b/c ratio 9,65, berarti sangat layak, dan dapat dikembangkan.