Loading...

Budidaya Jagung Hibrida Dengan Sistem Jajar Legowo Disusun Oleh :muhajar, Sp Penyuluh Pertanian Pertama Bpp/upt Hpt Dan Keswan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah

Budidaya Jagung Hibrida Dengan Sistem Jajar Legowo Disusun Oleh :muhajar, Sp  Penyuluh Pertanian Pertama Bpp/upt Hpt Dan Keswan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah
BUDIDAYA JAGUNG HIBRIDA Dalam budidaya jagung ada beberapa komponen teknologi yang membutuhkan perhatian khusus terutama untuk komponen dasar yang meliputi : penggunaan varietas unggul, populasi tanaman dan pemupukan. Namun demikian bukan berarti bahwa komponen yang lain tidak penting, karena merupakan satu kesatuan yang akan berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas (hasil) jagung. TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG BENIH BERMUTU DARI VARIETAS UNGGUL DAN BERLABEL Benih yang digunakan dari varietas unggul hibrida dan berlabel yang tahan terhadap penyakit, toleran kekeringan, produktivitas tinggi, daya berkecambah minimal 85%. Kebutuhan benih 15 – 20 kg/ha. PERSIAPAN LAHAN Olah tanah sempurna (OTS) Tanpa olah tanah (TOT) Tanpa olah tanah menggunakan herbisida sistemik berbahan aktif gliifosat dengan dosis 4-6 liter/ha tergantung liputan gulma Buat saluran drainase untuk membuang kelebihan air di musim hujan atau di lahan sawah. PENANAMAN Sebelum benih ditanam, benih diberikan perlakuan dengan pestisida/fungisida berbahan aktif metalaksil dan pestisida lainnya seperti marshal,cruiser dan gauco. Untuk 1 kg benih dicampur dengan 2,5 g atau 2,5 ml bahan dicampur 10 ml air lalu benih dicampur secara merata,diangin anginkan sebentar lalu benih siap ditanam. Buat lubang tanam dengan menggunakan tugal sedalam 5 cm dan jarak tanam mengunakan sistem tanam jajar legowo (90 x (40 x 20 cm)) 1 biji/lubang. Masukkan benih dalam lubang tanam dan tutup dengan tanah atau pupuk kandang (1 genggam/ lubang tanam). ambar 3. Penanaman Jagung Salah satu keuntungan dari sistem jajar legowo ini adalah barisan yang kosong dapat dimanfaatkan untuk tanaman kacang-kacangan (tumpang sari) PEMUPUKAN Pemupukan sebaiknya sesuai hasil analisa tanah atau rekomendasi pemupukan setempat. Jika keduanya belum ada, disarankan mengunakan rekomendasi pemupukan sebagai berikut ; Takaran pupuk ; 250 kg Urea + 250 kg NPK/ha. Pupuk diberikan 2 kali : pertama ; 7-10 hari setelah tanam (50 kg/ha Urea + 250 kg/ha NPK), dan kedua; 30-35 hari setelah tanam (200 kg/ha Urea) PENYIANGAN Penyiangan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan herbisida pasca tumbuh (seperti Calaris, Kayabas dll), dengan dosis 1 – 2 liter/ha tergantung liputan gulma Penyemprotan herbisida dilakukan pada umur tanaman 15 – 21 hari PENGAIRAN Dilakukan terutama pada pertanaman pada musim kemarau Dilakukan pada saat tanam, 15 HST, 30 HST, 45 HST, 60 HST dan 75 HST Sumber air dapat dari irigasi permukaan atau sumur dangkal (sumur) dengan pompa PANEN DAN PASCA PANEN Jagung yang siap dipanen ditandai dengan ciri-ciri: kelobot mengering dan berwarna cokelat muda, terdapat lapisan hitam di pangkal biji (black layer), biji mengkilap dan bila ditekan dengan kuku tidak berbekas. Tongkol yang sudah dipanen segera dijemur, atau diangin-anginkan jika terjadi hujan Tidak menyimpan tongkol dalam keadaan basah karena dapat menyebabkan tumbuhnya jamur Pemipilan biji setelah tongkol kering (kadar air biji 17 – 19%) dengan alat pemipil Jagung pipilan dikeringkan lagi hingga kadar air biji mencapai sekitar 15% Jika cuaca hujan, pengeringan menggunakan mesin pengering, tidak dianjurkan menyimpan jagung pada kadar air biji lebih dari 15% dalam karung untuk waktu lebih dari satu bulan