Kebutuhan komoditas jagung terus meningkat, baik untuk kebutuhan pangan maupun pakan. Peningkatan kebutuhan jagung terkait dengan makin berkembangnya usaha peternakan, terutama unggas. Sementara itu produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi semua kebutuhan, sehingga kekurangannya dipenuhi dari jagung import. Dari aspek sumberdaya yang kita miliki, maka Negara kita sebenarnya mampu berswasembada jagung, dan bahkan mampu pula menjadi pemasok jagung di pasar dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan adanya berbagai dukungan terutama teknologi, investasi maupun kebijakan. Secara teknis upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas maupun optimalisasi lahan dengan peningkatan Indeks Pertanaman. Balai Penelitian Serealia telah melakukan pengujian budidaya jagung dengan menerapkan IP 400 pada lahan kering. Konsep IP 400 ini ditujukan untuk optimalisasi ruang dan waktu dan waktu, sehingga indeks pertanaman dapat dimaksimalkan. Budidaya jagung dengan penerapan IP 400 atau 4 kali tanam dan 4 kali panen selama satu tahun dilaksanakan dengan cara sebagai berikut : Penanaman dilakukan dengan cara tanam sisip (relay planting) sebelum panen pertanaman I (pertama). Varietas yang digunakan dapat dari jenis komposit maupun hibrida yang memiliki umur sekitar 100 hari. Menerapkan pengaturan tanam cara legowo yaitu penanaman dengan jarak tanam sempit (50 cm) untuk setiap baris tanaman dan diikuti dengan jarak tanam lebar (100 cm) untuk barisan tanaman berikutnya. Sedangkan untuk jarak tanam dalam barisan 20 cm, satu tanaman per lubang yang ditempatkan di antara dua tanaman sebelumnya. Penanaman dengan cara legowo ini, populasi tanaman yang diperoleh sama dengan penanaman menggunakan jarak tanam tetap/normal (75 cm x 20 cm, 1 tanaman per lubang), yaitu populasinya sekitar 66.666 tanaman/ha. Pengaturan tanam cara legowo ini dimaksudkan untuk memudahkan penanaman cara sisip untuk pertanaman II (kedua), mengingat pada saat tanaman ke II (dua), pertanaman I (pertama) belum dipanen. Selain itu, juga memudahkan dalam pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida saat pertanaman I (pertama). Pada pertanaman II (kedua), setelah benih tumbuh sekitar 7 -10 hari setelah tanam, daun tanaman dari pertanamanI (pertama) dipangkas pada bagian di atas tongkolnya, untuk mempercepat pengeringan tongkol disamping memberikan peluang pertanaman II (kedua) yang baru tumbuh mendapatkan sinar matahari penuh. Hasil brangkasan tanaman dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian digunakan untuk mulsa penutup tanah. Pemupukan I dilakukan sesaat setelah pemangkasan daun di bagian atas tongkol tersebut. Pemupukan II dilakukan setelah tanaman berumur antara 30 - 35 hari setelah tanam. Setelah pertanaman II (kedua) berumur 15 hari dan pertanaman I (pertama) menunjukkan kelobotnya telah mengering, maka segera dilakukan panen dan pemangkasan batang. Pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tinggi pada saat musim hujan, dan berpeluang tergenang maka perlu dibuatkan saluran drainase diantara baris tanaman yang berjarak tanam lebar. Saluran drainase dalam bentuk parit perlu dibuat di antara baris tanaman terutama pada saat musim hujan di daerah yang curah hujannya tinggi. Dengan menerapkan Budidaya tanaman jagung dengan IP 400 akan dapat meningkatkan produksi dan menghemat biaya produksi. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber: IP 400 Cara Cepat Meningkatkan Produksi Jagung, Zubachtirodin dan A.M. Adnan, Balitsereal dalam Agroinovasi Sinar Tani Edisi 26 Januari - 1 Pebruari 2011. No. 3390 Tahun XLI.