Loading...

Budidaya Jagung Pipil di Lahan Kering

Budidaya Jagung Pipil di Lahan Kering

Budidaya Jagung di Lahan Kering

Jagung merupakan salah satu komoditas yang dapat dibudidayakan di lahan kering. Namun, untuk memperoleh hasil panen yang optimal, diperlukan penerapan teknik budidaya yang tepat dan terencana dengan baik.

1. Persiapan Lahan

  • Lahan perlu diolah dengan baik agar kondisi tanah gembur dan subur.

  • Pengolahan dapat dilakukan secara:

    • Mekanis: menggunakan traktor roda 4 untuk membajak, meratakan dengan rotary, dan membuat lijer (guludan).

    • Minimum tillage: mencangkul ringan pada tanah yang rawan erosi.

    • Tanpa olah tanah (TOT): cukup membuat lubang tanam, kemudian menutupinya dengan mulsa jerami atau sisa tanaman.

  • Pengolahan dilakukan sekitar satu minggu sebelum tanam.

  • Buat saluran air untuk mencegah genangan di lahan.


2. Pemilihan dan Seleksi Benih

  • Gunakan varietas unggul dengan produktivitas tinggi dan tahan kekeringan, seperti:

    • Bisi 18

    • NK Perkasa

    • Sumo Sakti

    • Pertiwi 6

  • Syarat benih yang baik:

    • Daya tumbuh > 80%

    • Bersih, sehat, tidak keriput, dan tidak tercampur varietas lain

    • Seragam bentuk dan warna bijinya

  • Lakukan perlakuan benih dengan metalaksil 2 gram per kg benih untuk mencegah penyakit bulai.


3. Penanaman

  • Waktu tanam yang ideal:

    • Awal musim hujan atau awal musim kemarau.

  • Gunakan pupuk kandang atau kompos sebagai dasar untuk menyediakan nutrisi sejak awal pertumbuhan.

  • Metode penanaman:

    1. Cara ditugal: membuat lubang tanam dan memasukkan benih.

      • 2–3 benih/lubang untuk varietas non-hibrida.

      • 1 benih/lubang untuk varietas hibrida.

    2. Menggunakan alat dorong (gledeg/otok): lebih efisien dan hemat tenaga kerja.


4. Perawatan Tanaman

Perawatan dilakukan untuk menunjang pertumbuhan dan mencegah serangan hama penyakit.

Kegiatan utama:

  • Penyiangan: membersihkan gulma agar tanaman mendapatkan cahaya dan aerasi yang baik.

  • Pembumbunan: menutup pangkal batang dengan tanah agar tanaman kuat dan tidak mudah roboh.

  • Pengaturan drainase: menjaga agar air tidak menggenang.

  • Pengendalian hama dan penyakit: dilakukan secara rutin dan bijak.


5. Pengairan

  • Kebutuhan air tinggi pada fase vegetatif hingga pengisian biji.

  • Hindari genangan air karena dapat menyebabkan akar busuk dan gangguan pada fase generatif.

  • Idealnya, air diberikan hingga tinggi 60 mm untuk menjaga tanah tetap lembab.

  • Buat saluran irigasi agar air dapat mengalir lancar dan tidak menumpuk di lahan.


6. Pemupukan

  • Gunakan pupuk organik dan pupuk kimia sesuai kebutuhan tanaman.

  • Pupuk kimia sebaiknya ditugal (dimasukkan ke dalam tanah) untuk mengurangi penguapan.

  • Pemupukan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman.


7. Penyiangan dan Pembumbunan

  • Penyiangan dilakukan agar sinar matahari dapat menembus hingga batang bawah dan menjaga sirkulasi udara.

  • Pembumbunan dilakukan untuk memperkokoh tanaman.

  • Petani dapat menggunakan cara manual atau kimiawi untuk efisiensi waktu.


8. Pengendalian Hama dan Penyakit

  • Tujuannya untuk menjaga kesehatan tanaman dan mencegah gagal panen.

  • Upaya pengendalian meliputi:

    • Penggunaan varietas tahan hama dan penyakit.

    • Rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup hama.

    • Penggunaan pestisida secara bijak dan sesuai kebutuhan.


9. Panen dan Pascapanen

  • Jagung siap panen ketika:

    • Terbentuk lapisan hitam di ujung biji.

    • Kulit tongkol (klobot) sudah mengering.

  • Kadar air ideal saat panen: 14–15%.

  • Jika belum dijual, simpan jagung bersama klobotnya agar tahan 3–4 bulan dan tidak mudah rusak.

 

8 Juli 2025,

Penulis:

Tim BPP Abung Timur, Kab. Lampung Utara