Loading...

BUDIDAYA JAGUNG TERSTANDAR

BUDIDAYA JAGUNG TERSTANDAR
Jagung dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan pangan pengganti nasi dan berbagai macam makanan olahan. Selain itu bagian dari tanaman jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti daun, batang, klobot dan janggelnya. Tanaman jagung sebagai bahan pangan (food) dan pakan ternak (feed) kebutuhannya terus meningkat untuk memenuhi kebutuhannya dilakukan upaya peningkatan produksi melalui perluasan lahan maupun peningkatan produktivitas dengan teknologi budidaya yang tepat (intensifikasi) yaitu melalui program Perluasan Areal Tanam Jagung (PAT Jagung) dan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GT-PTT). Selain melalui perluasan areal, peningkatan produksi juga dapat dilakukan dengan penerapan standar budidaya tanaman pangan khususnya jagung. Penerapan standar budidaya jagung mengacu kepada SNI 8969:2021 tentang Indonesian Good Agricultural Practices (IndoGAP) atau cara budidaya tanaman pangan yang baik. Pengelolaan tanaman jagung terstandar bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi jagung secara berkelanjutan. Berikut beberapa komponen utama dalam budidaya tanaman jagung terstandar menurut Andi Amran Sulaiman, dkk (2024). Penggunaan Varietas Unggul dan Benih Bermutu Penggunaan varietas unggul jagung memiliki peran dalam peningkatan produktivitas tanaman. Terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih varietas diantaranya yakni: kesesuaian tanah dan iklim, ketahanan terhadap OPT, toleran terhadap cekaman kekeringan dan kemasaman tanah, pola tanam dan tujuan penanaman, serta preferensi petani terhadap karakter jagung seperti umur tanaman, warna biji dan lain sebagainya. Bebrapa varietas unggul baru yang telah dirilis oleh Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Serealia, Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Kementerian Pertanian yaitu: untuk jagung komposit antaralain Srikandi Depu – 1, Srikandi Ungu – 1, Jakarin – 1 dan untuk jagung hibrida JHG 01, JHG 02, Nasa 29 dan lainnya. Benih yang unggul harus disertai dengan mutu benih yang baik karena mutu benih juga akan meningkatkan produktivitas hasil. Benih dapat dikatakan bermutu apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Berlabel dan bersertifikat. Secara genetik memiliki tingkat kemurnian varietas yang tinggi 99% untuk jagung hibrida. Secara fisiologis benih memiliki kemampuan berkecambah yang tinggi. Disarankan benih terpakai memiliki daya kecambah lebih dari 95%. Secara fisik warna dan ukuran benih seragam ,benih terbebas dari gejala serangan penyakit, kadar air biji rendah (9–11%). Pengelolaan Lahan Pengelolaan lahan dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah menjadi gembur, menghindari erosi permukaan tanah, kelongsoran tanah dan atau kerusakan sumberdaya lahan. Persiapan lahan diawali dengan sanitasi lahan dengan cara membersihkan gulma, sampah yang akan mengganggu aktivitas penanaman. Pengolahan tanah untuk budidaya jagung dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu Olah Tanah Sempurna (OTS), Olah Tanah Minimum (OTM) dan Tanpa Olah Tanah (TOT). Penanaman Jarak tanam yang dianjurkan dalam budidaya jagung yakni 70 cm x 20 cm, dengan 1 tanaman per lubang tanam atau 70 cm x 40 cm dengan 2 tanaman perlubang tanam. Pengaturan jarak tanam pada tanaman jagung sangat diperlukan agar pertumbuhan tanaman seragam, unsur hara yang merata, penggunaan lahan efektif, memudahkan pemeliharaan, menekan perkembangan hama dan penyakit serta mengetahui jumlah benih yang diperlukan pada saat penanaman. Benih ditanam dengan cara ditugal sedalam 3-5 cm. Benih dimasukkan dalam lubang tanam kemudian ditutup dengan tanah. Pemupukan Dalam budidaya dilakukan pemukukan dasar dengan pemberian pupuk kandang sebanyak 1-3 ton/ha yang diberikan pada lubang tanam. Kemudian digunakan pupuk anorganik berupa 350 kg/ha urea, 200 kg/ha SP-36 dan 100 kg/ha KCL. Pemupukan pertama diberikan pada umur tanaman 10–15 hari setelah tanam (HST) dengan dosis setengah dari jumlah pupuk urea, seluruh dosis SP-36 dan seluruh dosis KCL. Pemupukan kedua pada umur tanaman 30–35 hari setelah tanam dengan dosis setengah pupuk urea (Balitsereal, 2021). Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Penyiangan gulma merupakan proses pembersihan tumbuhan penganggu untuk menjaga kebersihan lahan dan mencegah persaingan nutrisi tanaman dan cahaya matahari. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan cangkul atau koret. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida berbahan aktif mesotrion, atrazin, isoksaflutol, thiencarbazone-metil saat tanaman jagung berumur 10–15 HST untuk mengendalikan mengendalikan gulma berdaun sempit, serta topramezon pada saat tanaman jagung berumur 10–21 HST yang untuk mengendalikan gulma berdaun lebar. Selain gulma OPT pada jagung adalah hama, hama utama pada tanaman jagung di antaranya: penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera), Ulat grayak (Spodoptera spp.), lalat bibit (Atherigona sp.), belalang (Locusta migratoria), Kutu daun (Aphids sp.), serta kumbang bubuk (Sitophilus zeamais.). pengandalian yang dapat dilakukan dalam mengatasi serangan hama yaitu secara kultur teknis, pengendalian hayati hingga secara kimiawi. Pada tanaman jagung, penyakit utama di antaranya: bulai yang disebabkan oleh Peronosclerospora spp., hawar daun yang disebabkan oleh Bipolaris maydis, karat daun yang disebabkan oleh Puccinia polysora, busuk tongkol yang disebabkan oleh Fusarium spp., Diplodioa maydis, dan Gibberella roseum, hawar pelepah dan upih daun disebabkan oleh Rhizoctonia solani, busuk batang disebabkan oleh Erwinia sp., virus mosaik disebabkan oleh maize mosaic virus (mmv). Pengendalian yang dapat diterapkan dalam mencegah dan mengatasi penyakit pada jagung yaitu pemilihan varietas tahan, melakukan penanaman serempak, melakukan rotasi tanaman, aplikasi pestisida dan sanitasi. Panen dan Pascapanen Panen jagung kering dilakukan pada saat masak fisiologis dengan ciri kelobot berwarna kuning, tekstur biji keras dan warna biji mengkilap, kadar air sudah mencapai sekitar 30–35%. Panen dilakukan pada saat jagung sudah berumur 80–110 hari setelah tanam, atau saat umur tanaman sudah mencapai maksimum. Panen jagung lebih baik dilakukan pada saat musim kemarau, terlebih jika yang diinginkan adalah biji kering. Hal ini karena waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil dapat lebih efektif. Pascapanen jagung meliputi berbagai tahapan seperti pemilahan, pengeringan, pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran. Pengeringan tongkol dilakukan segera setelah dipanen, hingga kadar air mencapai 18–20% dengan menggunakan alas berupa terpal. Pengeringan jagung pipilan sebaiknya dilakukan setelah proses pemipilan hingga mencapai kadar air 12–14% agar daya simpan lebih lama. Kemudian dilakukan proses pembersihan agar butiran jagung bersih dari kotoran seperti sisa tongkol, seresah, dan kotoran kotoran lainnya, lalu lakukan penyimpanan dan pemasaran. Dari berbagai sumber, Ditulis ulang oleh : Betty Mailina, SP, MP