Loading...

BUDIDAYA KOPI LIBERIKA PADA LAHAN GAMBUT

BUDIDAYA KOPI LIBERIKA PADA LAHAN GAMBUT
Tantangan utama pengembangan pertanian di Indonesia adalah ketersediaan lahan. Ketersediaan lahan subur sudah mulai berkurang sehingga pengembangan pertanian saat ini adalah lahan suboptimal seperti lahan gambut untuk pengembangan komoditas perkebunan. Salah satu komoditas perkebunan yang dikembangkan di lahan gambut adalah kopi liberika yang memiliki citarasa khas nangka, sehingga dibeberapa daerah menyebut kopi ini sebagai kopi nangka. Kopi liberika mempunyai persyaratan tumbuh antara lain curah hujan 1.250 - 3.500 mm/tahun, curah hujan < 60 mm/bulan ± 3 bulan, kemiringan tanah < 30%, kedalaman efektif tanah > 100 cm, tekstur tanah berlempung dengan struktur tanah remah, kadar bahan organik tanah > 3,5%, ratio C/N tanah antara 10 - 12, kapasitas tukar kation tanah > 15 me/100 g tanah, kejenuhan basa > 35%, kadar N,P,K, Ca dan Mg tanah cukup - tinggi, ketinggian tempat 0 - 900 mdpl dan suhu udara 21 - 30oC dan pH tanah 4,5 - 6,5. Kopi liberika mempunyai daun tebal dan tajuk lebar, buah kopi berukuran lebih besar dengan kulit lebih tebal jika dibandingkan dengan kopi arabika dan robusta. Karena ketebalan kulitnya, kopi liberika tidak bisa di proses secara manual. Buah masak akan berwarna merah, orange kuning dan hijau kekuningan. Buahnya dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Penanaman kopi liberika dapat dilakukan secara tumpang sari, memerlukan naungan atau tanaman pelindung untuk mengurangi intensitas matahari sampai di kanopi daun sehingga layak untuk dikembangkan dalam agroforestri atau diversifikasi tanaman kopi dengan tanaman perkebunan lain yang cocok di lahan gambut. Bibit liberika siap tanam di lahan gambut sebaiknya memiliki tinggi minimal 70 cm dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m atau 3 x 3 m dengan lubang tanam ± 40 x 40 cm serta pembuatan parit draenase pada setiap jarak 10 - 15 m. Pemupukan dilakukan dengan frekuensi dua kali setahun, berupa pupuk anorganik yang mengandung unsur N, P, K, Mn, Cu dan Fe dengan dosis 300 - 400 g/pohon/semester dan ditambah kapur 500 g/pohon/semester atau menggunakan pupuk hayati mikoriza 10 g per tanaman dan pupuk anorganik 25 g urea, 20 g SP36, 20 g KCl dan 7,5 g kisserit per tanaman, kemudian dilakukan penutupan area piringan tanaman yang telah dipupuk menggunakan mulsa. Pemangkasan tanaman dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan panen dan optimasi pembentukan cabang sekunder produktif pada tajuk bagian bawah dengan maksimal ketinggian yang dipertahankan 180 cm. Sistem pemangkasan yang direkomendasikan adalah sistem batang tunggal dua etape. Penyiraman pohon kopi liberika disesuaikan dengan keadaan cuaca, seminggu 1 - 2 kali di siram dalam 1 bulan jika intensitas hujan rendah, 1 - 2 minggu sekali di siram dalam 1 bulan jika intensitas hujan sedang dan 1 bulan 1 kali di siram jika intensitas hujan tinggi. Kopi liberika secara umum memiliki ketahanan terhadap serangan hama penggerek buah kopi maupun penyakit karat daun. Walaupun demikian, pengendalian hama dan penyakit menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam budidaya kopi liberika. Pengendalian penggerek buah kopi secara efektif dapat menggunakan perangkap berisi senyawa antraktan sedangkan pengendalian penyakit karat daun dapat dilakukan secara kultur teknis dengan mengurangi kelembaban kebun dan pemilihan jenis tanaman penutup tanah atau secara biologis menggunakan jamur Trichoderma spp. Tanaman kopi liberika akan mulai berbuah pertama kali pada umur 2 tahun (buah pasir). Buah pertama ini harus dibuang untuk menghasilkan buah ceri pada umur 2,5 atau 3 tahun. Panen raya terjadi dalam 4 - 5 bulan dengan interval pemetikan 2 minggu sekali pada pohon yang sama. Setelah selesai panen, pohon harus di pangkas dan di buang cabang-cabang tuanya dan dikembalikan ketinggianya 180 cm. Rerata produktivitas kopi liberika dapat mencapai 1,1 ton biji kopi untuk penanaman dengan populasi 900 - 1.100 pohon/ha. Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Andre D. Mawardhi dan Doni Setiadi, 2018. Strategi Pemanfaatan Lahan Gambut Melalui Pengembangan Agroforestri Kopi Liberika (Coffe liberica). Proseding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2018, Palembang 18 - 19 Oktober 2018. Unsri Press. Pandam Prasetyo, Rudi Hidayat, Nyoto dan Herry Purnomo, 2019. Budidaya Kopi Liberika Di Lahan Gambut. Research Program on Forests, Trees and Agroforestry. No. 04, Mei 2019. Elis Kartika, Made Deviani Duaja dan Gusniwati Gusniwati, 2022. Respon Tanaman Kopi Liberika Bermikoriza Di Lahan Gambut Terhadap Aplikasi Pupuk Anorganik. Jurnal Agro 9 (2), 2022.