BUDIDAYA TANAMAN LADA Tanaman Lada atau banyak orang menyebutnya dengan Merica adalah tanaman yang memiliki nama latin "Piper nigrum L." Tanaman ini menurut catatan sejarah berasal dari Negara India, orang jawa timur dan jawa tengah menyebutnya dengan mrico/mrica di Jawa Barat menyebutnya dengan "pedes" sedangkan di Kalimantan dan Bangka Belitung menyebutnya dengan "Sahang" Berdasarkan catatan sejarah di Indonesia pada masa penjajahan Belanda tanaman Lada pernah menjadi komoditas ekspor utama, tercatat antara tahun 1930 “ 1938 rata-rata ekspor Indonesia meliputi 50.000 ton per tahun. Pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 1980 s.d saat ini rata-rata ekspor pertahun hanya sekitar 30.000 ton. Berdasarkan data International Pepper Community (IPC), ekspor lada hitam selama 2011 dari enam negara pengekspor utama (Brasil, India, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Sri Lanka) adalah 242.450 ton. Pada bulan Desember 2010, harga komposit lada hitam tercatat 4.572 dolar AS per metrik ton dan lada putih 7.025 dolar AS per metrik ton, lebih tinggi dari harga komposit pada 2009 yang berturut-turut 3.031 dolar AS per metrik ton dan 4.404 dolar As per metrik ton. Total produksi lada di Indonesia tahun 2011 sebesar 33.000 ton (18.000 ton lada hitam dan 15.000 ton lada putih). Jumlah tersebut lebih rendah daripada tahun 2010 yang mencapai 59.000 mt (terdiri dari 40.000 ton lada hitam dan 19.000 ton lada putih). Indonesia merupakan salah satu dari enam negara penghasil utama lada (Brasil, India, Malaysia, Vietnam, dan Sri Lanka), Total produksi lada di Indonesia tahun 2011 sebesar 33.000 ton (18.000 ton lada hitam dan 15.000 ton lada putih). Dari sisi permintaan, impor lada ke Amerika Serikat selama periode Januari “ November 2011 menunjukkan angka 64.276 ton yang terdiri dari 47.742 mt lada hitam, 5.331 mt lada putih. Indonesia tetap menjadi pemasok terbesar lada hitam keseluruhan untuk pasar AS, pengiriman 17.844 ton (37 persen), diikuti oleh Vietnam (12.424 ton), Brasil (11.427 ton) dan India (5285 mt). Daya saing lada Indonesia dipasar Internasional dapat ditingkatkan melalui peningkatan produktivitas, mutu hasil dan diversifikasi produk bila produk utama harganya jatuh. Hal yang terpenting adalah sistem kelembagaan pada tingkat petani dan penerapan jaminan mutu dan teknologi pengolahannya dengan melihat kondisi cuaca dan efisiensi perhitungan pembiayaannya. (Sumber: Data IPC, BPS, berbagai sumber terkait, data diolah F.Hero Purba.2012) http://heropurba.blogspot.com/2012/08/potensi-ekspor-lada-indonesia-dalam.html ________________________________________ Penghasil Lada di Indonesia antara lain Lampung, Bangka dan Kalimantan Barat. Untuk Jawa Barat sendiri, tanaman lada mulai diminati petani dan untuk mempercepat masa panen/produktif, saat ini sudah mulai sudah mulai diupayakan baik oleh BALITRO Bogor maupun penangkar bibit suatu jenis lada perdu yang berasal dari Lada Panjat dengan perlakuan khusus pada waktu pembibitan. 1. Varietas antara lain : - Varietas Jambi dan Lampung - Varietas Bulok Belantung - Varietas Muntok atau Bangka2. Syarat Tumbuh¢ Elevasi : Ketinggian berkisar dari 10 “ 500 m dpl (dataran rendah).¢ Iklim : A, B dan C¢ Curah hujan : di atas 2.000 mm per tahun.¢ Suhu : 25º - 26,5º C.¢ Ketinggian air tanah : relatif dalam (air tanah 0,5 M di bawah tanah terutama pada tanah gambut tidak ditolerir oleh tanaman Lada).¢ Jenis Tanah : - Laterit merah, Latosol coklat muda sampai coklat tua.- Tanah lempung yang mengandung pasir 20 - 45 % (clay loam).- Tanah lempung merah mengandung pasir - Lempung berpasir 52 % atau lebih.¢ Topographi : Landai, bergelombang dan berbukit. (catatan untuk tanah datar perlu drainase untuk menghindarkan genangan/pembusukan akar oleh genangan air terutama bagi tanaman muda). 3. Perbanyakan TanamanPerbanyakan tanaman lada secara Vegetatif yaitu dengan menggunakan stek cabang.¢ Bahan bibit : berasal dari pohon induk yang telah berumur 2 tahun dan telah mengalami pangkasan pertama (pada umur 8 -10 bulan) atau dari pemangkasan kedua (pada umur 18 -20 bulan).¢ Tinggi bibit : 5 “ 7 ruas.¢ Jenis setek daun :- setek batang atau setek cabang outotrop.- Buku pada setek daun berakar.¢ Warna daun : hijau.¢ Habitus : Bebas dari gejala serangan hama penyakit.¢ Polybag :- Warna : Hitam/putih- Ukuran : 30 cm x 20 cm x 0,08 mm. 4. Teknik Budidayaa. Penyiapan lahan ¢ Lahan dibersihkan dari rumput dan semak belukar.¢ Dilakukan pengajiran dengan jarak 2,5 M dalam barisan dan 4 M antar barisan (untuk lahan yang landai pengajiran mengikuti garis contour).¢ Untuk lahan yang sangat landai/derajat kemiringan yang tinggi diperlukan penyengkedan dengan mengikuti garis countour.¢ Derajat kemiringan tanah untuk kebun lada yang optimal adlah 15 %.¢ Setelah pembersihan lahan dan pengajiran, lalu dibuat lubang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm.¢ Setiap lubang sebaiknya diisi dengan pupuk kandang lalu dicampur dengan tanah lapisan atas sampai terbentuk guludan setinggi ± 20 cm.¢ Guludan dibiarkan 2 -4 minggu sampai guludan mantap. Guludan yang susut karena terbawa air harus diperbaiki dan areal di sekitar kebun dilengkapi dengan saluran air.Catatan :- Untuk tanaman lada panjat, di salah satu sisi lubang, ditanam tanaman panjatan untuk tempat merambatnya tanaman Lada yaitu antara lain Kapok, Dadap, Lamtoro dan Kalikiria atau Cebreng (Glyrisidia maculate) atau bisa dengan panjatan mati berupa tiang kayu (kayu ulin) atau tiang beton. Panjatan hidup bisa ditanam beberapa bulan sebelum penanaman Lada atau tiang untuk panjatan dari tanaman Lada Panjat.- Untuk Lada Perdu tidak diperlukan tiang panjat.c. Pemeliharaan Tanaman Lada :¢ Menjaga Kodisi Lahan- Membersihkan gulma- Menjaga kelancaran pembuangan air (saluran atau drainase)- Untuk tanah yang miring diupayakan membuat sengkedan.B- Penutupan tanah disekitar tanaman dengan mulsa.¢ Mengatur Pertumbuhan- Tunas baru yang mulai tumbuh ( ± 1 bulan st ) diikat pad tiang panjat.- Pengikatan sulur muda harus hati-hati, dan pengikatan ini berlangsung hingga batang mencapai tinggi 1,5 M.- Diusahakan agar ada 4 (batang) ortotrop yang tumbuh, dua batang tumbuh menjurus keatas dan dua batang lagi ke samping. ¢ Pembentukan Tanaman- Batang pokok dibiarkan tumbuh hingga 0,75 “ 1,0 M.- Potong ujungnya (ditop) untuk pembentukan cabang primer (3 “ 4 batang) - Cabang primer dibiarkan tumbuh hingga ± 0,5 M untuk kemudian dipangkas dan akan membentuk cabang dasar sekunder yang menghasilkan ranting-ranting yang bisa berbunga.- Setelah tanaman lada berumur ± 8 bulan dan mencapai tinggi ± 1 “ 1,5 M digali lubang yang melingkari pohon panjatan.- Jarak lubang dari pohon panjatan 20 “ 25 cm.- Ukuran lubang lebar 0.50 M, dalam 30 “ 40 cm dan diisi dengan pupuk kandang secukupnya.- Batang dilepaskan dari panjatan.- Daun dan ranting dari batang dibuang.- Masukkan batang dalan lubang secara mendatar melingkari pohon pemanjat, dengan kedalaman tidak lebih dari 20 cm.- Setelah tanaman berumur 16 bulan atau 8 bulan setelah dimasukkan ke lubang, tiang panjat sudah tertutup 2/3 bagian. Dilaksanakan pemangkasan kembali ( heading back ) hingga tanaman lada tersisa setinggi ± 30 cm diatas tanah.- Dihasilkan batang-batang ortotrop baru, pilih 12 batang yang paling kuat / baik pertumbuhannya dan ikat pada pohon panjatan.- Semua bunga pertama yang muncul pada masa ini harus dibuang. ¢ Pemupukan- Pupuk Organis/Kandang : 5 “ 10 kg per lobang tanam.- Tahun I (tanaman berumur 8 “ 12 bulan) : 100 gr NPK 2 : 1 : 1/ pohon atau 50 gr urea, 25 gr DS dan 25 gr Potash.- Tahun ke II 200 gr/pohon dari pupuk NPK dilakukan setiap 4 bulan sekali.- Tahun ke III 400 gr/pohon diberikan 6 bulan sekali.- Tahun-tahun selanjutnya 600 gr/ pohon menjelang pembentukan bunga dan 600 gr/ pohon setelah selesai panen. ¢ Pengendalian Hama dan Penyakit- Nematoda (cacing) terutama Rotylencuhus similes yang menyerang akar lada dengan gejala primer daun lada menguning. Pengendalian secara preventif dengan Temik 10 G dan Nemagon.- Kumbang Lophobaris piperis menyerang pucuk daun muda, cabang dan ranting, mulai buah dan buah yang muda. Ranting muda akan mati yang akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman maupun kemunduran produksi. Pengendalian secara preventif dengan Thiodan dengan dosis 1,5 “ 2 cc/liter air atau Lanate 5 gr/ 10 liter air.- Diplogophus Hewitti Dist yait5u sejenis wereng yang dapat merusak produksi lada. Pengendalian seperti pada pengendalian hama wereng tanaman padi.- Penyakit busuk pangkal batang akibat cendawan Phytophtora Palmivora yang akan mematikan tanaman. Pengendalian secara prevenrif dengan fungsida Dithane M. 45 dengan dosis 0,18 “ 0,24 % atau 180 “ 240 gram per 100 liter air, Maneb dan Brestan. 5. Panen¢ Umur 24 bulan setelah tanam, tanaman lada akan menghasilkan bunga pertama. Bunga pertama ini harus dirampes.¢ Umur 36 bulan setelah tanam akan dihasilkan bunga tahap kedua dan dipelihara untuk menjadi buah dan dipanen (F.H. Prayitno BPPKP Bulungan 2016)