Hampir seluruh masyarakat di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali setiap hari melaksanakan persembahyangan di "Merajan/Sanggah" (Tempat Suci Umat Hindu yang ada di masing-masing pekarangan rumah). Salah satu sarana yang sering digunakan adalah "Canang Ceper", canang ceper ini dibuat dari janur dan umumnya diiyasi dengan bunga pacar air yang berwarna merah, putih maupun ungu di tambah bunga gumitir dan irisan pandan wangi. Dengan demikian sudah tentu bahwa bunga pacar air ini merupakan kebutuhan utama dalam membuat canang ceper tersebut, yang berdampak terhadap pluktuasi harga tergantung banyak sedikit ketersediaan dari bunga pacar air tersebut di pasaran. Bali merupakan pulau yang sangat lekat dengan budaya, setiap hari masyarakat Bali menggunakan bunga untuk hiasan. Bunga banyak diperlukan untuk hiasan hotel dan untuk sesajen yang dirangkai sedemikian rupa sehingga indah dipandang mata, baik hari-hari biasa maupun hari besar keagamaan. Salah satu bunga yang banyak diminati adalah bunga pacar air. Bunga ini termasuk dalam golongan tanaman hias yang sangat mudah tumbuh di lahan jenis apa saja. Daun berbentuk lancip, tidak terlalu lebar, dan bergerigi. Tanaman ini biasanya membentuk kumpulan bunga pada bagian ketiaknya yang nantinya akan berubah menjadi buah dan berisi biji untuk berkembang biak. Jika dilihat secara sekilas bentuk buahnya mirip dengan pepaya tetapi berkulit tipis, berbulu halus dan tidak terdapat daging buah melainkan hanya biji. Bila sudah tua kalau ditekan akan mudah pecah dan melempar biji yang ada didalammnya. Biji yang sudah tua akan berwarna coklat kecil-kecil dan berkulit tipis, sehingga mudah tumbuh. Seperti kebanyakan bunga, pacar air juga sangat cantik bila dijadikan tanaman hias baik di pekarangan atau halaman rumah. Tanaman pacar ada beberapa jenis, ada yang bunganya bersusun dan ada yang tidak bersusun. Petani di Subak Sidang Rapuh, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan lebih kurang 3% melaksanakan budidaya bunga Pacar Air pada setiap musim tanamnya. Bunga pacar ini dibudidayakan secara intensif, karena prospek bunga ini sangat bagus dan mudah dibudidayakan. Satu kilogram bunga pacar harganya bisa Rp 10.000 “ Rp 15.000 dimana satu pohon bisa berproduksi selama satu periode hampir 1 Kg. Masa panen satu pohon bunga pacar kalau perawatan baik bisa sampai 3 bulan. Kalau saja pelaku utama menanam 500 m2 atau 5 are dengan jarak tanam 70 cm x 70 cm maka, petani sudah mendapat pendapatan 1.020 x Rp 10.000 = Rp 10.020.000,- . Budidaya tanaman ini cukup mudah, pelaku utama biasanya mengolah tanah secara sederhana, dan dibuat guludan untuk mengatur drainasenya. Tambahkan pupuk organik dengan dosis 30 kg/are dan mulsa jerami di atas guludan untuk menjaga kelembaban tanah. Tanaman pacar ini tidak tahan dengan genangan atau terendam air terlalu dalam, dengan dibuat guludan maka tanah tempat tumbuh bunga pacar akan cepat kering. Tanaman ini dibudidayakan dengan menanam bijinya setelah dijemur beberapa hari, kemudian ditajuk dengan memasukan 2 biji kedalam lubang tanam, setelah diberi perlakuan pestisida agar tidak dimakan semut. Bibit bunga pacar bisa didapat dari biji buahnya dengan cara, carilah buah yang akan dijadikan bibit yaitu mulus tanpa cacat fisik dengan ciri buahnya besar, berwarna kuning kehijauan, matang di pohon, belum pecah/meletup, dan dari pohon yang berbunga lebat . Petik dan keringkan dibawah sinar matahari sampai meletup sendiri. Pilih biji yang berwarna cokelat dan buang yang berwarna putih. Jemur sampai biji kering sempurna lalu simpan ditempat kering.Perawatan tanaman ini dilakukan penyiraman selama 1 minggu setelah tanam, apabila tidak ada turun hujan. Setelah berkecambah dan tanaman berumur 3-4 minggu beri pupuk NPK dengan dosis 1 sendok makan. Ulangi pemupukan setelah umur 2 bulan, setelah itu hentikan pemupukan. Penyemprotan hama dan penyakit dilakukan seminggu sekali, umumnya pada saat musim hujan kalau tidak disemprot dengan fungisida maka bunganya akan mudah busuk. Agar tanaman tumbuh dengan baik, serta dapat berproduksi secara optimal maka pemeliharaan selalu dilakukan, dengan melakukan pengamatan setiap saat. Pengamatan disamping untuk memantau hama/penyakit, juga untuk mengetahui saat panen bunga yang tepat. Bila terlambat dalam pemetikan bisa membuat bunga menjadi layu, serta berwarna tidak cerah dan kehitaman. (I Nyoman Kuspianto,SP. BP3K Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali).