Loading...

Budidaya Padi �RAISA�

Budidaya Padi �RAISA�
Pendahuluan RAISA istilah nama dari Budidaya Padi Rawa Intensif, Super dan Aktual, merupakan pembaruan paket komponen teknologi dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi rawa. Namun demikian komponennya menjadi aktual, karena menggunakan hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian terkini untuk pengelolaan dan sistem produksi padi di lahan rawa. Dikatakan intensif karena teknologi ini mendorong peningkatan hasil. Komponen teknologi RAISA antara lain 1). Pengelolaan tata air mikro, pengaturan cara tanam dan populasi tanaman, 2). Penggunaan varietas unggul baru (VUB) adaptif dan potensi hasil tinggi (Inpara 2, 3, 8, 9), 3). Aplikasi pupuk hayati (BIOTARA, dan AGRIMETH), 4). Penggunaan ameliorasi dan remediasi sesuai sumber daya lokal, 5). Pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR), 6). Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Terpadu, dan 7). Penggunaan alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam dan panen (combine harvester) Pengelolaan Tata Air Mikro SISTAK (Sistem tata air satu arah dan tabat konservasi) Keuntungan sistem ini adalah air dapat dipertahankan pada musim kemarau dengan adanya tabat konservasi, peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 200-300, penggunaan pola tanam (padi-padi atau padi-padi-kedelai), aliran air satu arah sehingga pencucian lebih intensif, dan produktivitas padi meningkat 30%. HARKAT (Sistem tata air handil bersekat) Keuntungannya dari pengelolaan tata air ini adalah air dapat dipertahankan pada saluran handil yang berfungsi sebagai tandon (long storage), peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 200, penggunaan pola tanam (padi-padi), produktivitas padi meningkat 50%, dan tidak kekeringan di musim kemarau (bantuan pompa) PHOLDER DAN POMPANISASI Dengan penggunaan pompanisasi sebagai air pembuangan dan melalui penataan lahan dengan surjan. Keuntungannya adalah mengurangi resiko kegagalan panen, meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan meningkatkan efisiensi usaha tani dan pendapatan. Pengaturan cara tanam dan populasi tanaman Sistem budidaya padi yang diterapkan di petani dipengaruhi oleh ketersediaan air, lahan, dan kekurangan tenaga kerja. Sebagian petani lahan rawa lebih memilih cara tanam benih langsung karena keterbatasan pada tenaga kerja dan kemudahan di lapangan. Namun tantangannya cekaman abiotik (submergence, pH dan Fe) menjadi tantangan tersendiri untuk cara tanam benih langsung. Cara Tanam Jarwo Ganda untuk TABELA Pada umumnya petani lebih menyukai cara tanam dengan metode hambur, dengan kebutuhan benih yang cukup banyak, anakan per rumpun yang dihasilkan relatif sedikit karena populasi tanaman yang cukup rapat, malai padi yang lebih pendek, serta pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, penyemprotan yang tidak mudah selama pertumbuhan. BPTP Sumatera Selatan telah membuat alat bantu tanam AMATOR yang dimodifikasi untuk dapat digunakan pada lapisan olah tanah yang dalam maupun dangkal. Dimodifikasi dengan jarak tanam yang lebih rapat melalui cara tanam jajar legowo ganda sehingga petani tetap dapat memperoleh populasi yang cukup tinggi namun dengan pengaturan cara tanam yang lebih memudahkan dalam pemeliharaan. Penggunaan varietas unggul baru (VUB) adaptif dan potensi hasil tinggi (Inpara ) Varietas unggul dengan hasil tinggi spesifik lokasi yang bisa digunakan adalah varietas padi Inpara yang dirakit khusus untuk mengantisipasi cekaman biotik maupun abiotik di ekosistem rawa. Varietas ini sangat cocok dikembangkan pada lahan-lahan rawa dengan cekaman yang masih cukup tinggi. Varietas Inpara yang direkomendasikan antara lain Inpara 2, 3, 8, dan 9. Namun beberapa varietas Inpari juga dapat digunakan, khususnya untuk di lebak antara lain inpari 30, 42, dan 43. Beberapa keunggulan dari varietas inpara antara lain untuk varietas inpara 2 yaitu tekstur nasi pulen, toleran terhadap keracunan Fe dan AL, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III dan tahan terhadap blas, umur panen 128 hari. Sedangkan varietas Inpara 8 Agritan keunggulannya adalah Tekstur nasi pera, toleran keracunan Fe, agak rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, namun rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 3, tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII, agak tahan terhadap blas ras 133. Aplikasi pupuk hayati (BIOTARA dan AGRIMETH) Pupuk hayati merupakan pupuk yang mengandung mikroba untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, kesehatan tanah dengan kandungan bakteri penambat Nitrogen simbiotik, bakteri penambat Nitrogen non simbiotik, bakteri pelarut P dan bakteri penghasil fitohormon. Pupuk hayati yang digunakan yaitu pupuk “Agrimeth” yang diaplikasikan dengan dosis 400 g/ha lahan. Penggunaannya yaitu dengan cara benih padi yang telah diperam, ditiriskan dan dicampurkan dengan pupuk hayati sampai benar-benar merata, serta dibiarkan selama 30 menit pada tempat teduh. Benih yang telah tercampur ini kemudian segera ditanam (upayakan tidak ditunda lebih dari 3 jam dan tidak terkena paparan sinar matahari agar tidak mematikan mikroba yang telah melekat pada benih). Pupuk hayati lainnya yaitu “Biotara” yang merupakan pupuk hayati adaptif pada tanah masam lahan rawa dan mampu meningkatkan produktivitas tanaman serta keberlanjutan sumber daya lahan. Biotara mengandung konsorsia mikroba decomposer (Trichoderma sp.), pelarut P (bacillus sp.), dan penambat N (azospirillum sp.). Keunggulan dari pupuk hayati biotara adalah dapat mengikat N, meningkatkan ketersediaan hara P tanah, mendekomposisi sisa-sisa organik dan memacu pertumbuhan, meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P sampai dengan 30% dan meningkatkan hasil padi sampai dengan 20% di lahan rawa. Cara aplikasinya adalah sebelum pupuk hayati biotara diaplikasikan, bahan organik (jerami dan gulma) disebar merata pada saat pengolahan tanah. Pupuk hayati biotara dengan dosis 25 Kg/ha kemudian diaplikasikan dengan cara disebar merata atau dilarutkan dengan air dan disemprotkan merata pada sisa jerami atau gulma. Setelah 15 hari, sisa jerami/gulma dibalik sambil dibenamkan pada lapisan olah tanah dan lahan siap ditanami. Penggunaan ameliorasi dan remediasi sesuai sumber daya lokal Ameliorasi lahan merupakan upaya memberikan bahan amelioran untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga kondisi tanah menjadi lebih sesuai (favorable) bagi tanaman. Petani di lahan sulfat masam menggunakan beberapa bahan amelioran, antara lain bahan organik, pupuk organik, kompos, biochar dan kapur. Sedangkan remediasi adalah kegiatan pemulihan tanah yang sudah mengalami degradasi baik fisik, kimia maupun biologi. Proses ini dapat meningkatkan pH, retensi air dan hara, aktivitas biota tanah dan mengurangi keracunan dan pencemaran. Salah satu remediasi hayati dilakukan dengan memanfaatkan gulma yang banyak ditemukan yaitu purun tikus dan rumput bulu babi. Pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) Pemupukan tepat dan berimbang berdasarkan pada pengunaan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) atau DSS Pemupukan Padi Lahan Rawa (Aplikasi on line untuk menentukan kebutuhan kapur dan pupuk untuk tanaman padi di lahan rawa) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Terpadu Beberapa prinsip yang digunakan dalam pengendalian HPT terpadu adalah penggunaan pestisida nabati menggunakan sumber daya local, pestisida sesuai ambang ekonomi, pemanfaatan musuh alami dan pengggunaan tanaman perangkap (Refugia) Penggunaan Alat dan Mesin Pertanian Penggunaan alat dan mesin pertanian antara lain yaitu penggunaan alat mesin tanam (transplanter) dan alat mesin panen (combine harvester). Transplanter merupakan alat penanam bibit padi yang digunakan dalam jumlah, kedalaman, jarak dan kondisi penanaman yang seragam. Sedangkan pemanen kombinasi(combine harvester) adalah mesin yang digunakan untuk memanen tanamanpadi dengan keunggulan yaitu mampu menghemat biaya tenaga kerja dan mengefisiensikanusaha tani. Sumber Bacaan : - Budidaya Padi Rawa (BB Tanaman Padi, 2018) - Pengenalan Varietas Unggul Padi (BB Tanaman Padi, 2018) - Hama Utama Padi dan Pengendaliannya (BB Tanaman Padi, 2018)