Loading...

BUDIDAYA PADI DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO SUPER

BUDIDAYA PADI DENGAN SISTEM  JAJAR LEGOWO SUPER
Padi merupakan salah satu komoditi penting yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Di Indonesia salah satu tantangan yang muncul dalam budidaya padi adalah menurunnya produktivitas lahan yang disebabkan penerapan cara budidaya yang tidak memperhatikan keadaan faktor lingkungan dan tidak bersifat berkelanjutan. Penggunaan lahan secara terus menerus bisa menjadikan penurunan fungsi lahan dalam penyediaan berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Terdapat berbagai cara untuk meningkatkan produktivitas lahan. Namun penerapan budidaya yang baik dan benar menjadi syarat pokok dalam meningkatkan produktivitas tanaman, terutama padi. Teknologi Jajar Legowo Super, merupakan implementasi terpadu teknologi budidaya padi dengan lima komponen teknologi pelengkap, hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Jarwo atau jajar legowo sudah lama dikenal di kalangan petani, yang merupakan cara bertanam padi dengan jarak 2:1 atau 4:1. Pada jarwo super dilengkapi dengan pemanfaatan varietas unggul baru (VUB) padi dengan potensi hasil tinggi. VUB seperti Inpari 30, Inpari 32, serta Inpari 33. Komponen lainnya yakni penggunaan biodekomposer, yang merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa. Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu. Hasil aplikasi Biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah. Penggunaan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan PUTS (perangkat uji tanah sawah) juga menjadi komponen pada jarwo super. Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat Nitrogen dan pelarut Fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Selanjutnya, terdapat komponen pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan pestisida nabati dan anorganik, serta pemanfaatan alat mesin pertanian khususnya transplanter dan combine harvester. Pengembangan Inovasi Teknologi ini guna mengantisipasi menyusutnya lahan pertanian, sementara permintaan terus meningkat. Bila inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini dikembangkan di 20% dari total lahan pertanian irigasi saja, maka dapat menyumbang kenaikan produksi 3,84 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pertahun. ditulis oleh; Silvia Reni, SP