Loading...

Budidaya Padi di Lahan Kering dan Tadah Hujan

Budidaya Padi di Lahan Kering dan Tadah Hujan
Upaya mewujudkan kedaulatan pangan merupakan komitmen pemerintah yang tiada henti dilakukan melalui peningkatan produksi padi. Strategi peningkatan produksi nasional saat ini dan kedepan ditempuh melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan perluasan areal tanam, baik melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) maupun perluasan lahan baku sawah. Upaya tersebut optimis dapat direalisasikan karena tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil penelitian, terutama yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), meskipun teknologi tersebut baru sebagian yang diterapkan oleh petani. Lahan sawah tadah hujan (STH) merupakan lumbung padi kedua setelah lahan sawah irigasi (Anonim, 1992). Luas lahan STH di Indonesia sekitar 2,1 juta ha dan 900.000 ha diantaranya berada di pulau Jawa. Lahan STH tidak mempunyai sumber air irigasi kecuali betul-betul mengharapkan air hujan yang datangnya tidak menentu. Dalam musim yang normal, lahan STH dapat ditanami tiga kali setiap tahun (Pane et al., 1999). Lahan sawah tadah hujan tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Dilihat dari luasan, sawah tadah hujan bisa menjadi lumbung pangan kedua bagi Indonesia, namun demikian rata-rata produksi baru mencapai 3,0 t/ha hingga 4,0 t/ha, sedangkan hasil penelitian IRRI, hasil produksi di lahan tadah hujan bisa mencapai 7,5 t/ha. Ketidakpastian intensitas dan distribusi curah hujan merupakan faktor pembatas yang menentukan keberhasilan produksi di lahan sawah tadah hujan. Usaha tani padi sawah tadah hujan memiliki kemungkinan keberhasilan tinggi pada daerah yang memiliki bulan basah antara 4 hingga 8 bulan; yang dikombinasikan dengan pengelolaan air yang efisien dan teknologi budidaya yang tepat. Beberapa paket budidaya padi produksi tinggi untuk daerah sawah tadah hujan, antara lain: Pemilihan Varietas Padi Unggul yang Tepat. Varietas padi merupakan salah satu teknologi yang mudah diadopsi oleh petani yang mampu meningkatkan produktivitas padi. Berdasarkan tipologi lahan sawah tadah hujan, beberapa varietas unggul yaitu Inpari 26, Inpari 27, Inpari 28 Kerinci, Batutegi, Sarinah, Towuti sangat sesuai untuk lahan STH pada ketinggian lahan diatas 700 m dpl (meter diatas permukaan laut), namun kurang dari ketinggian 2000 m dpl. Pilihan varietas padi lebih beragam untuklahan STH dataran rendah hingga menengah, dengan ketinggian tempat kurang dari 700 m dpl. Beberapa varietas Inpari 10 Laeya, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 33, Inpari 32 HDB, Inpari 22, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR dan Silugonggo sesuai untuk ditanam pada bulan basah, sedangkan beberapa varietas berumur pendek (kurang dari 90 hari) seperti Dodokan akan sesuai ditanam pada lahan STH yang masuk dalam kategori bulan kering. Penggunaan padi unggul umur pendek berguna untuk menghindari kekurangan air pada saat tanaman memasuki phase generatif (menjelang panen). Penyiapan Lahan Penyiapan lahan dapat dilakukan pada musim kemarau (atau kondisi tanah kering karena pengeringan lahan saat panen musim tanam sebelumnya). Ada 3 macam penyiapan lahan yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi tanah, ketersediaan air dan lingkungan. Tanpa olah tanah (TOT) Langkah-langkah persiapan lahan tanpa olah tanah (TOT) adalah sebagai berikut: Lahan dibersihkan dari Gulma dengan cara disemprot dengan herbisida pra-tanam dengan bahan aktif metsulfuron, etil klorimuron, & 2,4 D natrium atau 2,4-D dimetil amina atau glifosat atau paraquat diklorid atau Triasulfuron Cara aplikasi herbisida Pra-tanam adalah: a.1. Lahan dalam kondisi kering a.2. Aplikasi herbisida sesuai dengan dosis anjuran a.3. Lahan dibiarkan hingga gulma/rumput menguning/mengering dan akar gulma sudah mati. Beberapa herbisida seperti Round-up memerlukan waktu sekitar 5 hari hingga perakaran mati, namun untuk herbisida kontak seperti Gramoxone, hanya memerlukan waktu 1 hingga 2 hari hingga gulma mati. Jika pada musim sebelumnya lahan ditanami padi, maka penyiapan lahan dengan sistem TOT dalam kondisi kering, dapat dilakukan dengan menambahkan bio-dekomposer untuk mempercepat pelapukan jerami sisa musim tanam sebelumnya. Olah Tanah Kombinasi (Kering dan Basah) Tahap-tahap penyiapan lahan dengan olah tanah kombinasi, sebagai berikut: Penyemprotan herbisida pra-tanam setidaknya 5 hari sebelum pengolahan tanah pertama. Penyiapan lahan dengan cara olah kering menggunakan wheel tractor (traktor roda) dengan bajak singkal (piringan) dalam kondisi kering tanpa air. Kondisi lahan dan hasil pembajakan disajikan dalam Gambar 3. Setelah pengolahan pertama, dapat dilanjutkan dengan olah tanah menggunakan rotary. Bajak rotary dapat dilakukan dalam kondisi tanpa air jika sistem tanam yang akan dilakukan adalah tanam benih langsung (tabela); tetapi jika akan menggunakan sistem tanam pindah maka sebaiknya rotary dan pengolahan tanah akhir (levelling) dapat dilakukan dalam kondisi Sistem Tanam – Sebar Benih Langsung Tabela Basah Hambur atau Sebar Benih Langsung dengan tangan (manual broadcasting). Kelebihan dari hambur atau sebar benih langsung adalah hemat tenaga kerja dan waktu, namun demikian dengan sistem hambur maka pengelolaan tanaman khususnya pengendalian gulma dan hama penyakit relatif lebih sulit. Di wilayah sentra tanaman padi seperti di Sulawesi dan Sumatera, Petani seringkali dihadapkan pada kondisi tanah dan kelangkaan tenaga kerja serta kelangkaan mesin pertanian sehingga hambur benih menjadi pilihan utama. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar hasil padi tinggi dengan sistem hambur, antara lain: Jika penyiapan lahan dilakukan dengan olah tanah basah (sempurna) maka hambur dapat dilakukan pada kondisi permukaan tanah agak keras dan tidak terlalu melumpur, untuk mengurangi resiko benih akan terendam di dalam lumpur. Cara sederhana untuk mengukur kekerasan tanah yang sesuai untuk tabela, adalah: a.1. Menguji dengan menyebar 10 benih ditas tanah, jika seluruh benih masih terlihat diatas tanah, berarti kekerasan tanah permukaan sudah sesuai untuk tabela a.2. Dengan menggunakan bola golf, Jika lebih dari setengah dari bola golf masih terendam ke dalam tanah, maka kondisi tanah permukaan masih terlalu melumpur/lembut untuk tabela. Dikhawatirkan akan banyak benih yang terendam masuk ke dalam tanah dan mati sehingga persen perkecambahan akan menurun. Persiapan dan perlakuan benih Perlakuan benih dibedakan antara sistem hambur dengan menggunakan tangan, dan atabela dengan menggunakan alat seperti atabela atau drum seeder. b.1. Hambur atau sebar langsung dengan tangan Benih bernas diseleksi dengan merendam benih dalam air bersih. Benih yang terendam adalah ciri benih bernas sedangkan benih yang mengapung adalah benih kurang bagus dan sebaiknya Benih bernas direndam selama 48 jam untuk mematahkan dormansi benih dan mempercepat proses perkecambahan. Benih ditiriskan selama 24 jam hingga calon akar (coleoptile) sudah muncuk diujung benih. Perlakuan benih hingga calon akar muncul sangat penting agar benih segera tumbuh menjadi bibit setelah disebar di sawah. Untuk lokasi yang mengalami masalah dengan hama burung, benih dapat dicampurkan dengan insektisida, sebagai contoh Sedangkan untuk lokasi yang tidak mengalami masalah hama burung, benih dapat dicampur dengan pupuk hayati, seperti AgriRice. b.2. Sebar benih dengan menggunakan alat tanam benih langsung (atabela) Benih bernas diseleksi. Benih bernas direndam selama 8-10 jam. Perendaman benih tidak lebih dari 10 jam untuk mematahkan dormansi benih, namun calon akar belum muncul. Benih dikeringkan selama 8-10 jam. Memasukkan benih padi ke dalam pipa “drum” penabur benih “seeder”. Atabela ditempatkan diatas lahan sawah yang telah diolah, dan siap digunakan dengan cara Atabela dapat berfungsi dengan optimal pada lahan sawah dengan kedalaman lapisan olah tanah kurang dari 20 cm. Jika kedalaman lapis olah tanah diatas 30 cm (lebih dari setengah roda atabela terendam dalam tanah) maka akan sulit untuk menariknya, dan persentase benihyang masuk ke dalam tanahdan tidak dapat berkecambah akan meningkat. Pengendalian Gulma Gulma dapat dikendalikan, baik dengan cara kimiawi menggunakan herbisida, maupun dengan cara manual (atau mekanik) baik secara manual dengan tenaga manusia, maupun menggunakan alat sederha seperti gasrok, serta menggunakan mesin seperti power weeder. Pengendalian gulma terpadu bisa dilakukan dengan cara menggabungkan pengendalian mekanik di awal pertumbuhan tanaman, dan dibarengi dengan pengendalian secara kimia dengan herbisida selektif pada saat bibit sudah tinggi (pasca tumbuh). Kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian menyebabkan pengendalian gulma secara kimiawi dengan aplikasi herbisida menjadi satu alternatif yang penting untuk dikembangkan. Aplikasi hersida bisa dilakukan sebanyak 3 kali, masing-masing (a). Herbisida pra-tanam yang diaplikasikan sekitar 7 hari sebelum tanam, atau pada saat pengolahan tanah ke-2; (b) herbisida selektif pra-tumbuh, diberikan pada saat benih sudah berkecambah (terlihat dari calon akar yang sudah tumbuh). Untuk benih yang sebelum disebar diberikan perlakuan priming air, pada hari ke-3 setelah sebar, benih mulai berkecambah; dan (c) Herbisida purna tumbuh diberikan ketika tanaman sudah memiliki sekitar 2-3 daun, atau sekitar umur 14 hss. Di sentra produksi padi yang masih memungkinkan untuk menggunakan tenaga kerja untuk penyiangan, maka pengendalian gulma secara manual bisa dilakukan, masing-masing pada (a) 14 hari setelah sebar atau ketika bibit memiliki 2 hingga 4 daun. Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan penyulaman (penanaman bibit) di tempat yang kerapatan bibit rendah; dan (b) Penyiangan pada umur 28 hss. Penyiangan mekanik, selain manual dengan tangan, bisa juga dilakukan dengan menggunakan gasrok. Pengendalian gulma secara mekanik ini, meskipun memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak, namun memiliki beberapa keunggulan antara lain ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia. Disamping itu, penyiangan mekanik dapat meningkatkan aerasi tanah sehingga perakaran padi dapat berkembang dengan baik. Pengelolaan Pemupukan Pada prinsipnya pemupukan untuk sistem tanam benih langsung hampir sama dengan sistem tanam pindah. Namun demikian, agar efektif dan efisien, dosis pemupukan disesuaikan dengan populasi (jumlah rumpun) tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Salah satu masalah dalam pengembangan tabela adalah populasi tanaman yang tinggi dapat memicu kerebahan tanaman. Untuk menghindari kerebahan tanaman, maka pemberian pupuk Nitrogen dapat dilakukan berdasarkan tingkat kehijauan warna daun padi. Secara umum, pemupukan di lahan sawah tadah hujan meliputi dosis pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 350 kg/ha dan 150 kg Urea/ha. Pupuk diaplikasikan 3 kali, masing-masing dengan dosis: Aplikasi ke-1: Pada umur 10-15 hari setelah sebar dengan dosis 150 kg NPK dan 50 kg Urea/ha Aplikasi ke-2: Pada umur 28-35 hari setelah sebar, dengan dosis 100 kg NPK dan 100 kg Urea. Aplikasi ke-3: Pada umur 45-55 hari setelah sebar, dengan dosis 100 kg NPK . Pengurangan pupuk Urea pada saat pengisian gabah dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan tanaman rebah (lodging) karena populasi tanaman pada sistem tanam benih langsung sangat tinggi. Pengendalian Hama Penyakit Terpadu Tikus Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan pemasangan LTBS (Linear Trap Barrier System) dan TBS (Trap Barrier System). Wereng Coklat Pengendalian wereng coklat dapat dilakukan dengan penanaman varietas tahan wereng coklat (Inpari 19, Inpari 13, Inpari 33, Inpari 42 Agritan GSR). Varietas tahan dapat menekan perkembangan populasi. Disamping itu, monitor pertanaman perlu secara rutin dilakukan, paling lambat 2 minggu sekali, untuk mengetahui tingkat predator dan hamanya supaya tetap seimbang. Virus Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian virus tungro, antara lain dengan penanaman varietas tahan (Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo) serta pergiliran vareitas padi, dan melakukan tanam serempak minimal pada luasan 50 ha. Pengendalian vector tungro berupa wereng hijau juga merupakan kunci pengendalian, disamping itu kita perlu menghilangkan sumber inokulum sebelum tanam, eradikasi singgang ataupun tanaman yang terinfeksi serta deteksi awal: inokulum awal, keberadaan vector. Pengamatan/ monitoring serta aplikasi insektisida (bahan aktif: Imidakloprid, pymetrozine) juga diperlukan jika tungro sudah melewati ambang. Peningkatan produksi padi di Indonesia akan terus dilakukan sejalan dengan laju peningkatan penduduk dan alih fungsi lahan serta sejumlah tantangan lainnya melalui optimalisasi dan pengembangan budidaya pada berbagai agroekosistem. Pengelolaan agroekosistem yang beragam melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi spesifik lokasi menjadi kunci utama keberhasilan. Upaya optimalisasi dan pengembangan padi pada berbagai agroekosistem yang mengacu pada rekomendasi spesifik lokasi ini diharapkan dapat mencapai target peningkatan produksi padi setiap tahunnya serta berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. DAFTAR PUSTAKA Rekomendasi Budidaya Padi Pada Berbagai Agroekosistem, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2020.