Loading...

Budidaya Padi Gogo: Solusi Pertanian di Lahan Kering dalam Mendorong Swasembada Pangan

Budidaya Padi Gogo: Solusi Pertanian di Lahan Kering dalam Mendorong Swasembada Pangan

 

Padi gogo (upland rice) adalah tipe padi lahan kering yang menjadi alternatif penting dalam upaya peningkatan produksi pangan nasional, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan sumber air atau sistem irigasi permanen. Padi jenis ini memiliki keunggulan toleran terhadap kekeringan, menjadikannya pilihan ideal untuk ditanam di tegalan, perbukitan, atau bahkan di sela-sela tanaman perkebunan (tumpangsari).  Padi gogo ditanam secara tanam benih langsung (tabela) dan mengandalkan curah hujan sebagai sumber air utama. Meskipun demikian, budidaya yang efektif tetap memerlukan manajemen lahan dan tanaman yang baik. Beberapa varietas unggul baru (VUB) padi gogo, seperti Inpago dan Situ Bagendit, telah dikembangkan untuk memberikan hasil yang tinggi dan ketahanan terhadap penyakit seperti blas (penyakit patah leher).

 

Tahapan Kunci Budidaya Padi Gogo

1. Persiapan Lahan

Pengolahan Tanah: Umumnya dilakukan sebelum atau menjelang musim hujan. Tanah dapat dicangkul atau dibajak hingga gembur. Pengolahan tanah yang baik membantu aerasi dan penyerapan air.  Pemberian Bahan Organik: Untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kapasitas menahan air, sangat dianjurkan memberikan pupuk organik (kompos, pupuk kandang, atau sisa panen) sebelum tanam.  Koreksi pH (jika perlu): Jika pH tanah terlalu rendah (asam), dapat ditambahkan dolomit.

 

2. Penanaman

Waktu Tanam: Tanam sebaiknya dilakukan saat curah hujan sudah mulai stabil, biasanya pada awal musim penghujan.  Perlakuan Benih (Seed Treatment): Benih yang akan ditanam sering kali diberikan perlakuan fungisida/insektisida untuk melindungi dari hama dan penyakit di awal pertumbuhan. Teknik Tanam: Penanaman umumnya dilakukan dengan cara ditugal, yaitu membuat lubang tanam dengan tongkat. Setiap lubang diisi ±3−5 biji benih, kemudian ditutup tanah tipis.  Jarak Tanam: Sistem tanam yang dianjurkan bervariasi, seperti jarak tanam standar (misalnya 25×25 cm) atau menggunakan sistem Jajar Legowo (2:1 atau 4:1) yang terbukti dapat meningkatkan hasil.

3. Pemupukan

Pupuk Dasar: Pupuk organik dapat diberikan saat pengolahan lahan. Pemupukan Susulan: Pupuk anorganik (Urea, NPK/Phonska) diberikan secara bertahap (biasanya 2-3 kali), disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan hasil analisis tanah. Pemupukan diberikan dengan cara ditugal di samping atau di antara larikan tanaman.

 

4. Pemeliharaan dan Pengendalian OPT

Pengendalian Gulma: Gulma adalah pesaing serius bagi padi gogo. Penyiangan harus dilakukan sejak dini (10-15 hari setelah tanam) dan diulang menjelang pemupukan susulan, baik secara manual (menggunakan kored) maupun menggunakan herbisida.  Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman): Pengendalian hama dan penyakit (seperti penyakit blas) dilakukan sesuai dengan jenis dan tingkat serangannya, dengan mengutamakan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

 

5. Panen

Padi gogo umumnya dapat dipanen pada umur ±100−125 hari setelah tanam, tergantung varietas yang digunakan. Ciri siap panen adalah ketika sebagian besar gabah (≥95%) telah menguning atau masak fisiologis.

 

Potensi dan Tantangan

Budidaya padi gogo menawarkan potensi besar untuk memanfaatkan lahan kering yang luas di Indonesia. Keberhasilan budidaya ini tidak hanya meningkatkan hasil panen petani di lahan terbatas, tetapi juga berkontribusi pada diversifikasi sumber pangan.  Namun, tantangan utamanya adalah ketergantungan penuh pada curah hujan. Oleh karena itu, pengembangan teknologi konservasi tanah dan air, seperti pembuatan teras, rorak, serta pemanfaatan air hujan melalui embung, menjadi sangat krusial untuk menjaga ketersediaan air mikro dan menstabilkan produksi padi gogo