Budidaya Padi Jajar Legowo Super Peningkatan produksi padi merupakan suatu keharusan. Hal ini diimplementasikan sebagai wujud komitmen pemerintah agar Indonesia tidak lagi mengimpor beras. Wujud dari usaha peningkatan produksi beras nasional dengan dua cara, yaitu: (1) peningkatan indeks pertanaman; dan (2) perluasan lahan baku sawah.Badan litbang Kementerian Pertanian berusaha dengan menghasilkan produk-produk unggulan hasil dari inovasi yang dilakukan.Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi nasional sebesar 76,226 juta ton. Dengan rataan produktivitas padi nasional saat ini 5,28 ton/ha maka peningkatan produktivitas menajdi suatu keharusan di saat ini dan masa-masa mendatang. Perbedaan jajar legowo dan jajar legowo super dapat terlihat seperti berikut ini: (a) Jajar Legowo (Jarwo): merupakan sistem tanam pindah dimana antara 2 barisan tanaman padi terdapat lorong kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman padi, sedangkan dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris; (b) Jajar Legowo Super (Jarwo Super): Sistem produksi padi yang mengimplementasikan secara terpadu teknologi budidaya padi terbaik dari inovasi Balitbangtan berbasis cara tanam jajar legowo yang meliputi, VUB dengan potensi hasil tinggi, biodekomposer, pupuk hayati, pemupukan berimbang, pengendalian OPT dengan pestisida nabati, dan penggunaan alsintan (khususnya transplanter dan combine harvester) untuk menekan biaya tenaga kerja. Adapun komponen teknologi jajar legowo super diantaranya adalah: VUB dengan potensi hasil tinggi seperti varietas Inpari 30 Ciherang sub 1 dengan potensi hasil 13,9 ton GKP/ha, varietas inpari 32 HDB dengan potensi hasil 14,4 ton GKP/ha, dan varietas Inpari 33 dengan potensi hasil 10 GKG/ha. Varietas ini memiliki keunggulan yang berbeda satu dengan lainnya dengan tingkat kestabilan produksi yang baik serta unggul dalam beradaptasi terhadap cekaman biotik dan abiotik. Komponen lainnya adalah pemberian pupuk organik, yaitu: biodekomposer. Biodekomposer merupakan pupuk organik yang terdiri dari jerami segar dan pupuk kandang yang sudah matang. Dosis yang diberikan adalah 1-2 ton/ha. Perlakukan dilakukan sebelum pengolahan tanah ataupun bersamaan dengan pengolahan tanah kedua. Biodekomposer sendiri merupakan inovasi teknologi perombak bahan organk. Cara penggunaan bidekomposer yaitu dengan memberikan 2-4 kg/ha untuk 2-4 ton jerami segar. Campurkan dengan 400 liter air bersih. Lalu siramkan biodekomposer secara merata pada tunggul dan jerami di petakan sawah. Langkah selanjutnya adalah lakukan gelebeg dengan traktor. Setelah itu biarkan tanah dalam kondisi lembab selama 7 hari. Kelebihan biodekomposer adalah mampu mempercepat waktu pengomposan jerami dari 2 bulan hingga 3-4 minggu. Biodekomposer juga membantu meningkatkan ketersediaan hara NPK di dalam tanah sehingga lebih efisien dan dapat menekan perkembangan penyakit tular tanah. Pemberian aplikasi pupuk hayati. Untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah diperlukan mikroba. Pupuk hayati memiliki mikroba non patogenik yang dapat menambat nitrogen, melarutkan fosfat dan menghasilkan fitohormon. Fitohormon merupakan zat pemacu tumbuh tanaman. Keunggulan lainnya yang dimiliki oleh pupuk ini adalah kandungan mikroba yang memiliki aktivitas enzimatik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, pembungaan, pemasakan biji, meningkatkan vigor dan viabilitas benih. Cara mengaplikasikan pupuk hayati agrimeth pada saat benih akan disemai.Penggunaannnya adalah sebagai berikut: (1) benih padi direndam selama 24 jam, kemudian tiriskan. Kondisi benih dalam keadaan lembab, lalu dicampur dengan pupuk hayati; (2) taruh benih pada tempat yang teduh; (3) segera semai benih, jangan melebihi dari 3 jam; (4) sisa pupuk hayati disebarkan juga pada persemaian; (5) semai benih dalam kondisi tidak hujan. Persemaian dalam budidaya padi jajar legowo super adalah dengan menggunakan persemaian system dapog karena bibit ditanam dengan menggunakan alat tanam transplanter. Benih disebar dalam media dapog yang berukuran 18 x 56 cm dengan jumlah benih sekitar 100-125 gram/kotak. Dapog dibuat secara insitu menggunakan plastik lembaran dengan media tanam terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang. Perbandingan antara keduanya 3:2. Pada saat bibit berumur 14-17 hari setelah semai (HSS) dengan ciri tinggi 10-15 cm dan sudah memiliki 2-3 helai daun. Langkah selanjutnya adalah menanam bibit dengan menggunakan mesin indojarwo transplanter. Penggunaan alat ini bertujuan untuk mengefisienkan waktu tanam dan tenaga kerja petani. Penanaman dilakukan dengan menggunakan mesin indojarwo transplanter. Pada budidaya tanaman, kerapatan tanaman merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Tujuan pengaturan kerapatan tanaman agar dapat mengoprimalkan hasil budidaya yang dilaksanakan. Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan system tanam pindah dengan memberikan lorong kosong. Sistem tanam ini bertujuan untuk meningkatkan populasi tanaman padi per satuan luas sehingga adanya efek tanaman pinggir dan permudah pemeliharaan tanaman. Sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm meningkatkan populasi tanaman menjadi 213.333 rumpun/ha atau terdapat peningkatan 33,3% dibandingkan dengan sistem tanam tegel 25 x 25 cm dengan populasi 160.000 rumpun/ha. Penanaman dengan menggunakan alat tanam dilakukan pada saat kondisi air macak-macak untuk menghindari roda alat tanam terselip. Adapun cara lainnya dengan menggunakan bantuan alat "caplak". Tanam dengan umur bibit 15-18 hss dan gunakan 2-3 batang tanaman/rumpun. Penyulaman dilakukan tidak boleh melebihi dari 2 minggu setelah tanam. Pemupukan organik dengan memberikan pupuk kandang yang telah matang dan pemupukan anorganik dilakukan tiga kali yaitu pemupukan dasar pada umur 7-10 hari setelah tanam (HST), pemupukan pertama pada umur 25-30 (HST) dan pemupukan kedua pada umur 40-45 (HST). Untuk kecukupan N dapat dilakukan dengan menggunakan bagan warna daun (BWD) setiap 10 hari hingga menjelang berbunga. Penanganan hama dan penyakit tanaman dilakukan diutamakan penanaman secara serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian hayati, biopestisida, fisik dan mekanis, feromon dan mempertahankan populasi musuh alami. Pemantauan populasi hama dan penyakit secara rutin. Kendalikan hama wereng sedini mungkin. Hindari penggunaan pupuk N secara berlebihan. Untuk mengendalikan penyebaran penyakit tungro dengan mengatur kondisi pengairan sawah, yaitu menggenangi sawah saat terserang tungro. Sumber: BB Padi, Badan Litbang PertanianNama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.com