Upaya mewujudkan kedaulatan pangan merupakan komitmen pemerintah yang tiada henti dilakukan melalui peningkatan produksi padi. Strategi peningkatan produksi nasional saat ini dan kedepan ditempuh melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan perluasan areal tanam, baik melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) maupun perluasan lahan baku sawah. Upaya tersebut optimis dapat direalisasikan karena tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil penelitian, terutama yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), meskipun teknologi tersebut baru sebagian yang diterapkan oleh petani. Varietas Varietas unggul baru atau varietas lokal, adaptif lingkungan spesifik, tahan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) utama yang terdapat di lokasi, sesuai anjuran atau varietas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti Sintanur, Inpari 23 Bantul, beras berpigmen seperti Inpari 24 Gabusan, Jeliteng, Pamelen dan Pamera, Baroma (basmati beraroma) dsb. Umur panen sesuai dengan pola tanam atau ketersediaan air Disarankan dilakukan pergiliran Benih Benih bermutu/bersertifikat. Benih memiliki berat jenis tinggi, mempunyai mutu fisiologis (daya berkecambah dan vigor) tinggi, mampu memberikan pertumbuhan cepat dan Benih murni, bernas, bersih, dan Dormansi benih telah terlewati. Cara pengelolaan benih: Rendam benih selama 12 jam Tiriskan benih selama 12 jam – mematahkan dormansi benih, namun menghindari tumbuhnya calon akar Pupuk hayati - seed treatment Agri-Rice Pesemaian Lahan untuk pesemaian aman dari gangguan binatang, mudah diairi dan tidak dekat lampu untuk menghindari serangan hama. Media tumbuh pesemaian berupa campuran tanah dengan kompos jerami atau pupuk kandang dan abu dengan perbandingan tanah : kompos : abu 7 : 2 : 1. Kebutuhan benih 40 kg per ha. Pesemaian Padi organik dilakukan dengan cara kering (tidak digenang) dan dilakukan penyiraman setiap hari. Pesemaian bisa dilakukan di lahan sawah, lahan kering atau pekarangan dengan dilapisi plastik atau menggunakan nampan Saat benih berkecambah, ditambahkan Pesemaian dipantau setiap 2-3 hari sekali untuk memonitor hama wereng, penggerek batang atau hama lain. Apabila terpantau hama di persemaian, dikendalikan menggunakan insektisida nabati-hayati. Bibit dalam pesemaian siap ditanam dengan menggunakan bibit muda (umur 15-18 hari setelah sebar) Penyiapan Lahan Pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 5-10 ton/ha ditaburkan merata sebelum bajak singkal atau garu Pengolahan tanah dilakukan dengan olah tanah minimum atau juga bisa menggunakan olah tanah kering Pengolahan tanah ditujukan agar tanah melumpur dengan baik, kedalaman lumpur minimal 20 cm, tanah bebas gulma, pengairan lancar, struktur tanah baik, dan ketersediaan hara bagi tanaman meningkat Penyulaman Penyulaman tanaman dilakukan bila ada tanaman mati. Bibit yang digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari sisa bibit pesemaian yang ditanam di pinggir Penyulaman dilakukan sedini mungkin agar pertumbuhan tanaman seragam. Pengairan Pintu masuk air atau inlet dibuat pada pematang bagian depan dekat saluran tersier dan pada ujung petakan sawah dibuat “celah pintu” atau outlet pembuangan kelebihan Tinggi celah pintu pembuangan 5 cm dari permukaan tanah/lumpur, dapat bervariasi tergantung fase pertumbuhan tanaman padi. Sepuluh hari pertama setelah tanam, dilakukan penggenangan sedalam 2-5 cm, selanjutnya dibuat macak- macak, seterusnya secara intermitten, yaitu kondisi basah-kering dengan interval 7-10 hari selama fase vegetatif. Selanjutnya pada fase generatif, lahan digenangi lagi hingga ketinggian 2-5 cm di atas permukaan. Lahan dikeringkan pada 10-14 hari sebelum panen Penyiangan Penyiangan dilakukan sebanyak empat kali dengan selang waktu 10 Setiap selesai penyiangan dilakukan penyemprotan suplement Pupuk Organik Cair (POC) atau Mikro Organisme Lokal (MOL). Penyiangan gulma secara manual dan mekanis menggunakan landak/gasrok atau “hand rotary”. Penyiangan dilakukan pada kondisi air macak-macak. Pemupukan Pupuk kompos atau bahan organik yang sudah lapuk diberikan pada saat pengolahan tanah atau menjelang MOL yang terbuat dari bahan-bahan alami disemprotkan secara periodik 10 hari sekali dimulai dari 10 HST dengan konsentrasi 1-2 l MOL/14 l MOL ditujukan sebagai tambahan nutrisi bagi tumbuhan. MOL dapat dibuat antara lain dari bahan limbah sayur-sayuran, buah-buahan, keong mas, buah maja, bonggol pisang, nasi, dan rebung bambu. Sebagai bahan campurannya ditambahkan air bekas cucian beras, gula/molase/air kelapa dan urin sapi/kelinci yang difermentasi selama 10-15 hari. Atau juga bisa dengan memberian atau penggunaan Azolla, Sesbaria dan Blue Green Algae sebanyak 2 t/ha Sebagai sumber N, Sesbania rostrata dan azolla bisa tumbuh dalam kondisi tergenang. Sesbania berumur 30-40 hari, Azolla dibenamkan ke dalam tanah secara berkala Pengendalian Hama dan Penyakit Tindakan pencegahan terhadap hama dan penyakit dilakukan melalui pendayagunaan fungsi musuh alami dan pemantauan berkala. Pengendalian hama dimulai saat pengolahan tanah, pesemaian, hingga fase generatif tanaman, berdasarkan pada hasil pemantauan menggunakan pestisida nabati-hayati. Hama dan penyakit dikendalikan dengan menggunakan varietas tahan serta menanam secara serentak. Panen dan Pasca Panen Panen dilakukan saat tanaman matang fisiologis: 90-95% bulir gabah telah menguning dan kadar air gabah 22-27%. Panen dengan sabit dirontok dengan Threser, atau combine harvester. Perontokan dilakukan sesegera mungkin setelah Gabah kering panen dibersihkan sebelum Gabah dikeringkan sesegera mungkin setelah Pengeringan dengan penjemuran atau mesin Pengamatan kadar air dilakukan selama Pengeringan dilakukan hingga kadar air kurang atau sama dengan 14%. Gabah kering giling diistirahatkan selama satu malam sebelum digiling atau dikemas dalam karung Peningkatan produksi padi di Indonesia akan terus dilakukan sejalan dengan laju peningkatan penduduk dan alih fungsi lahan serta sejumlah tantangan lainnya melalui optimalisasi dan pengembangan budidaya pada berbagai agroekosistem. Pengelolaan agroekosistem yang beragam melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi spesifik lokasi menjadi kunci utama keberhasilan. Upaya optimalisasi dan pengembangan padi pada berbagai agroekosistem yang mengacu pada rekomendasi spesifik lokasi ini diharapkan dapat mencapai target peningkatan produksi padi setiap tahunnya serta berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Pustaka Rekomendasi Budidaya Padi Pada Berbagai Agroekosistem, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2020.