Penulis : Erlina Sianturi BPP Kecamatan Pahae Jae 1. Persiapan Lahan Persiapan lahan dimulai dengan membersihkan gulma, jerami, dan sisa tanaman sebelumnya. Pengolahan tanah dilakukan secara bertahap, mulai dari pembajakan pertama untuk memecah tanah, diikuti pembajakan kedua untuk meratakan dan menggemburkan. Pematang dibuat untuk menjaga ketinggian air, serta saluran irigasi dibuat untuk mempermudah pengaturan pengairan. 2. Persemaian Benih Pilih benih padi unggul yang sehat, murni, dan bersertifikat. Benih direndam dalam air selama 24 jam untuk mempercepat perkecambahan, kemudian ditiriskan selama 24 jam. Lahan semai harus subur, bersih dari gulma, dan diberi pupuk dasar. Benih disebar merata, lalu lahan semai diberi pengairan yang cukup hingga bibit siap tanam. 3. Penanaman Bibit siap tanam pada umur 18–21 hari setelah semai. Sistem tanam jajar legowo disarankan untuk meningkatkan hasil produksi. Jarak tanam umum yang digunakan adalah 25x25 cm atau 25x15 cm tergantung varietas. Penanaman dilakukan dengan kedalaman 2–3 cm agar perakaran kuat dan tanaman tumbuh tegak. 4. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman mencakup pengairan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Pada fase vegetatif, ketinggian air dijaga 2–5 cm, kemudian dikurangi menjelang panen. Pemupukan dilakukan sesuai anjuran, misalnya Urea, SP-36, dan KCl dengan dosis dan waktu pemberian yang tepat. Pengendalian hama dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan musuh alami, penggunaan pestisida sesuai kebutuhan, dan menjaga kebersihan lahan. 5. Panen Panen dilakukan saat 90–95% bulir padi telah menguning, biasanya 30–35 hari setelah berbunga. Pemanenan dapat dilakukan dengan sabit, ani-ani, atau mesin panen untuk menghemat waktu. Gabah hasil panen segera dijemur hingga kadar air ±14% untuk mencegah kerusakan dan menjaga mutu.