Pemerintah Daerah Provinsi Lampung telah menetapkan program pengembangan kawasan pertanian nasional tanaman pangan khususnya padi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi. Terkait dengan hal tersebut berbagai upaya yang dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan sawah tadah hujan dan lahan sawah irigasi, salah satunya dengan budidaya padi sistem gogo rancah dengan tujuan untuk menghemat air, mempercepat waktu tanam dan meningkatkan indeks pertanaman (IP), sehingga dapat meningkatkan produktivitas, produksi dan pendapatan petani.Di Lampung tercatat bahwa lahan sawah tadah hujan hanya dapat ditanami sekali setahun. Pertanaman padi di areal tersebut produktivitasnya cukup rendah, bahkan sering gagal panen karena mengalami kekurangan air, baik untuk pengolahan tanah maupun untuk pertumbuhan tanaman. Petani pada umumnya menunggu sekitar dua bulan sejak turunnya hujan (musim hujan/MT I) untuk melakukan pengolahan tanah karena pada waktu tersebut air sudah mulai menggenangi sawah. Akibatnya waktu tanam tertunda, sehingga pada fase pertumbuhan generatif, tanaman sering mengalami kekeringan dan gagal panen. Oleh karenanya upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman kekeringan pada lahan sawah tadah hujan adalah dengan budidaya padi sistem gogo rancah. Sistem ini berarti bercocok tanam padi di sawah pada musim hujan, dengan menerapkan gabungan antara sistem gogo dan padi sawah. Sistem ini juga cocok untuk lahan sawah beririgasi yang mendapat pengairan terlambat. Menanam padi dengan sistem gogo rancah adalah cara bercocok tanam padi di lahan sawah tadah hujan yang mengandalakan air hujan dan lahan irigasi yang mendapatkan air pengairan terlambat. Berbeda dengan padi sawah yang memerlukan air sejak mulai masa pengolahan tanah dan tanam, sedangkan padi system gogo rancah pada masa pengolahan tanah dan tanam tidak memerlukan air yang cukup banyak, akan tetapi memasuki fase pemupukan, pemeliharaan tanaman membutuhkan air seperti tanaman padi sawah. Sehubungan itu budidaya padi sistem gogo rancah di Lampung menjadi program pengembangan kawasan padi yang dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan yang sering mengalami kekurangan air dan lahan sawah irigasi yang jadual pengairannya terlambat.Keunggulan Budidaya Padi Gogo Rancah Budidaya padi gogo rancah memiliki keunggulan antara lain; kebutuhan air lebih hemat, tenaga kerja lebih efisien, menghemat waktu. Selain itu budidaya padi gogo rancah dapat mempercepat waktu tanam, sehingga dapat meningkatkan IP padi, biasanya lahan sawah tadah hujan hanya dapat ditanaman 1 kali/tahun bisa menjadi 2 kali/tahun. Adapun kekurangannya, jika petani belum berpengalaman budidaya padi sistem gogo rancah, maka pengendalian gulma akan memerlukan waktu dan biaya lebih banyak. A. Varietas Pergiliran varietas harus dilaksanakan setiap 2-3 musim tanam guna memperpanjang sifat ketahanan suatu varietas atas serangan hama dan penyakit tertentu. Hama dan penyakit utama tanaman padi antara lain; wereng batang coklat (WBC), penggerek batang, blast (Pyricularia oryzae), hawar daun bakteri (HDB) atau kresek (Xanthomonas capetris sp) dan bisa dikendalikan dengan penerapan pergiliran varietas. Beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih varietas di wilayah tertentu yaitu; Varietas umur sedang 120 hari, agar tidak mengganggu pola tanam, ketahanan terhadap hama penyakit, potensi hasil, dan permintaan pasar (konsumen). Berhubung untuk Wilayah Lampung merupakan endemik hama WBC, penyakit Blas dan HDB, hama penyakit tersebut muncul setiap musim tanam, maka varietas yang dianjurkan antara lain; Inpari 32, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33, Inpari 42, Inpari 43, Inpari 46. Pemilihan varietas tersebut perlu disesuaikan dengan wilayah endemik. Jika di wilayah tertentu bukan merupakan endemik hama penyakit tersebut boleh menggunakan varietas lain sesuai dengan selera masyarakat/pasar, seperti Inpari 30, Inpago 8, Inpago 10, Inpago 12 dll. B. Penyiapan Lahan 1. Tanah diolah pada kondisi kering sebelum musim hujan. 2. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara olah tanah sempurna (OTS), dengan cara dibajak, dirotary atau dicangkul sampai gembur. Jika pH tanah rendah kurang dari 5,5, maka perlu dilakukan penaburan dolomite atau kapur Pertanian dengan dosis kurang lebih 1.000 kg/ha.3. Untuk meningkatkan produktivitas, tanah perlu diberi bahan organik (pupuk hijau, pupuk kandang, kompos) sebanyak 5-10 t/ha. C. Penanaman 1. Waktu tanam secara tepat dengan memperhitungkan hujan turun, dapat mengantipasi kekurangan air pada saat diperlukan, sehingga dapat menentukan keberhasilan budidaya padi sistem gogo rancah. 2. Penanaman dilakukan dengan cara tugal (4-5 biji/lubang), kemudian ditutup untuk menghindari gangguan burung dan tikus.3. Benih yang dibutuhkan adalah 40-60 kg/ha disesuaikan dengan jarak tanam. 4. Jarak tanam 30 cm x 30 cm, 25 cm x 25 cm, 20 cm x 20 cm atau jejer lewowo 2: 1 (30 cm x 20 cm), (25 cm x 15 cm) atau disesuaikan dengan jarak tanam yang terbaik di wilayah stempat.5. Sebelum ditanam, benih diperlakukan dengan mencampur insektisida butiran Furadan atau Dharmafur dengan takaran 2 kg/20 kg benih atau Fertera 1 kg/20 kg benih. Hal ini dilakukan agar benih terhindar dari gangguan hama seperti; semut, lalat bibit, uret, ulat grayak dan hama lainnya. 6. Penanaman padi gogo dapat dilakukan bersama tanaman lain. Saat hujan turun pertama, petani langsung menugal dan menanam benih, seperti halnya pada penanaman padi ladang. 7. Selain itu untuk mengendalikan gulma, maka penanaman padi gogo rancah dapat dilakukan setelah 7 hari saat hujan turun pertama, karena menunggu gulma tumbuh 2-3 daun lalu disemprot dengan herbisida kontak. Setelah gulma layu penanaman padi dapat dilaksanakan.8. Sekitar 1 bulan kemudian, hujan akan turun dengan normal. Pada saat itulah tanaman padi sangat membutuhkan air, maka pertanaman padi siap digenangi dengan sempurna. Sejak itu pertanam padi dipelihara seperti halnya padi sawah biasa.9. Dua bulan kemudian, jika hujan sudah akan berkurang, pada saat itu, lahan pertanamn padi memang memerlukan pengeringan untuk mempercepat pemasakan bulir dan mengurangi kadar air pada gabah. D. Pemupukan 1. Urea (250 -300 kg) + SP36 (100 - 150 Kg) + KCl (50-100 kg)/ha atau Urea + NPK Phonska atau sesuai dengan kesuburan tanah setempat. 2. Pemupukan dasar berupa Urea diberikan 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 14 hari setelah tugal bersama dengan keseluruhan takaran SP36 dan KCl atau NPK Phonska. 3. Pemberian pupuk disertai dengan penyiangan.4. Seluruh pupuk diisikan dalam larikan yang dibuat sepanjang baris tanaman pada saat tanah dalam kondisi lembab, kemudian tutupkembali dengan tanah atau dengan cara tugal pada jarak + 5 cm dari lubang tanam sedalam 7 cm.5. Pemupukan susulan I, berupa Urea 1/3 bagian diberikan saat tanaman berumur 25-30 hari setelah tugal dan pemupukan susulan II Urea 1/3 bagian diberikan saat tanaman padi menjelang primodia (40-45 hr) dengan indikator bagan warna (BWD). E. Pengendalian Gulma Gulma atau tanaman pengganggu tanaman pokok yang diusahakan petani telah menjadi persoalan serius dan harus segera dikendalikan terutama pada usahatani tanaman pangan seperti padi gogo rancah pada awal pertanaman. Persaingan dengan gulma dapat berupa kompetisi dalam mendapatkan cahaya, air dan unsur hara. Pertumbuhan gulma pada kodisi basah-kering (lembab) karena hujan, maka pertumbuhan gulma akan lebih cepat dan lebih banyak. Berbeda dengan pertanaman padi sawah, dengan adanya penggenangan dapat membatasi pertumbuhan biji gulma, sehingga benih padi yang ditanam pertumbuhannya akan lebih cepat dibanding pertumbuhan gulma. Oleh karena itu cara mengelola masalah gulma pada budidaya padi sistem gogo rancah diperlukan pengetahuan praktis dan strategi mengedalikannya sebagai berikut:1. Pembersihan gulma dilakukan sejak pengolahan lahan diawali dengan dengan cara membabat atau menggunakan herbisida, setelah gulma kering, dibakar sebelum pembajakan tanah. Selain meringankan pekerjaan, pembakaran gulma bermanfaat untuk menyuburkan tanah, karena abu hasil pembakaran sangat bermanfaat sebagai pupuk organik. 2. Pengendalian gulma berikutnya adalah 7 hari satelah hujan turun pertama, saat gulma berdaun 2-3 helai dengan menggunakan herbisida kontak.3. Penyiangan manual secara rutin dilakukan agar tanaman padi tidak terganggu oleh gulma dan agar tanaman bisa tumbuh dengan optimal. Penyiangan dilakukan dengan menggunakan cangkul, parak atau gasrok/landak (jika pertanaman sudah tergenang) atau kombinasi dengan herbisida yang dilakukan dengan cara hati-hati agar tanaman tidak terganggu pertumbuhannya. G. Pengendalian Hama Dan Penyakit 1. Hama yang sering timbul pada pertanaman padi gogo rancah antara lain; Lundi/uret, lalat bibit, penggerek batang, wereng batang coklat (WBC), walang sangit, dan tikus. 2. Penyakit yang sering menyerang adalah Blast, hawar daun bakteri (HDB) dan bercak coklat. 3. Untuk mengantisipasi hama WBC, penyakit Blast dan HDB dapat menggunakan varietas tahan, seperti Inpari 42, Inpari 43, Inpari 32 dll. 4. Pengendalian hama penyakit harus dengan prinsip pengendalian hama penyakit terpadu (PHT). Jika pengedalian hama penyakit terpaksa harus menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang selektif, yaitu tepat jenis, dosis, waktu, cara dan sasaran (sesuai petunjuk yang ada di kemasan) dengan mempertimbangkan ambang kendali. F. Panen 1. Dilakukan sebaiknya pada fase masak panen dengan ciri kenampakan 90% gabah sudah menguning. 2. Panen pada fase masak lewat panen, yaitu saat jerami mulai mengering, pangkal malai mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah rontok saat panen dan dapat menurunkan kulaitas beras. 3. Sebaiknya panen dilakukan dengan menggunakan mesin panen Combine Harvester atau sabit bergerigi dan perontokan dengan power treasher atau pedal tresher. 4. Perontokan dengan cara disabot pada papan sebaiknya dihindari, karena menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar sampai 5 %. Penyusun: Kiswanto dan Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung)Bahan : dari berbagai sumber