Produk buah dan florikultura merupakan komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Keunggulan produk buah dan florikultura adalah mempunyai nilai jual yang tinggi, jenis yang beragam, sumber daya lahan dan teknologi yang tersedia, serta potensi serapan pasar di dalam negeri dan internasional yang terus meningkat. Produk buah dan florikultura juga memberikan sumbangan yang berarti bagi subsektor hortikultura maupun sektor pertanian, sebagaimana terlihat dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) buah dan florikultura yang setiap tahunnya cenderung meningkat. Kebutuhan buah dan florikultura yang terus meningkat di masyarakat tercermin dari permintaan pasar yang terus berkembang. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap buah juga semakin besar terutama buah pisang. Kegiatan pengembangan buah pisang pada ujungnya adalah menghasilkan produk yang bernilai tinggi dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani penerima manfaat. Budidaya pisang menjanjikan prospek yang cerah. Pisang (Musa paradisiaca sp.) merupakan tanaman tropis yang sangat populer. Buahnya digemari dan telah dikirimkan ke berbagai belahan dunia. Indonesia memiliki keanekaragaman buah pisang yang tinggi. Setidaknya terdapat 10 varietas buah pisang unggulan yang membanjiri pasar-pasar lokal maupun ekspor. Adapun buah pisang ini sudah ber-SNI yaitu : SNI 7422:2009. Syarat tumbuh tanaman pisang. Pisang merupakan tanaman khas daerah tropis. Tumbuh dengan baik mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1300 meter dari permukaan laut. Curah hujan yang diinginkan tanaman ini sektar 1500 sampai 2500 mm per tahun dengan temperatur 15-35°C. Tanaman pisang bisa tumbuh di atas hampir semua jenis tanah. Namun jenis tanah yang paling cocok adalah tanah yang bertekstur liat seperti aluvial, banyak mengandung kalsium, dan bahan organik. Persiapan bibit. Bibit memiliki peran penting dalam budidaya pisang. Untuk mendapatkan hasil maksimal selalu gunakan bibit yang bebas dari penyakit. Kalau bisa dapatkan bibit varietas unggul dari lembaga terpercaya. Terdapat 3 jenis bibit untuk budidaya pisang, yaitu berupa anakan, bonggol, dan hasil kultur jaringan. (1) Bibit anakan merupakan bibit yang diambil dari tanaman pisang yang telah memiliki tunas atau anak. Anak tersebut dipisahkan dari tanaman pisang yang telah dewasa dan sehat, (2) Bibit bonggol didapatkan dari bonggol tanaman pisang yang telah di panen. Kemudian tanaman tersebut di bongkar dan di ambil bonggolnya (bagian pangkal bawah). Bonggol dibersihkan, karanya di papas tanpa merusak tunas. Kemudian di belah-belah lagi seukuran mata tunas, atau sekitar 10x10x10 cm. Kemudian potongan bonggol di tanam di media tanam. Bibit dari bonggol siap digunakan untuk budidaya pisang setelah tumbuh 3-4 bulan, dan (3) Kultur jaringan merupakan teknologi untuk memperbanyak tanaman yang dilakukan di laboratorium. Bibit dari kultur jaringan ini biasanya terbebas dari segala penyakit dan bisa diadakan dalam jumlah yang banyak. Ukuran bibit juga seragam sehingga pengaturan waktu panen lebih mudah dilakukan. Persiapan lahan budidaya pisang. Pastikan lahan yang akan dijadikan tempat budidaya pisang terbebas dari penyakit Fusarium dan Pseudomonas. Bila sebelumnya lahan tersebut pernah terjangkit penyakit tersebut, lakukan pengendalian hama dan penyakit dengan benar. Bersihkan lahan dari gulma, cangkul atau bajak tanah dengan kedalaman 30-40 cm. Buat bedengan memanjang sesuai dengan kontur lahan. Jarak antar bedengan di atur sesuai dengan jarak tanam. Jarak tanam budidaya pisang tergantung pada varietas pisang.  Misalnya untuk pisang barangan sekitar 3Ô3 meter. Dengan populasi maksimal 1000 rumpun tanaman per hektar. Setiap jarak 50 meter buat parit untuk saluran drainase sedalam 1 meter. Lalu biarkan lahan tersebut selama 2-5 minggu. Penanaman bibit pisang. Setelah lahan selesai disiapkan buat lubang tanam ukuran 50x50x50 cm pada jarak tanam yang telah ditentukan. Kemudian berikan pupuk kandang sebanyak 15 kg per lubang tanam. Kebutuhan pupuk untuk 1 hekter kira-kira sekitar 15 ton. Pemeliharaan. Tindakan pemeliharaan yang diperlukan dalam budidaya pisang antara lain pemupukan, pengendalian gulma, penjarangan anakan, pembrongsongan tandan pisang, dan pengendalian hama. Pemupukan. Pemupukan dalam budidaya pisang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Lakukan pemupukan dengan cara memasukkannya pada lubang tugal dengan jarak sekitar 50 cm dari tanaman. Berikut tahapan pemupukan yang dianjurkan: (1) Pemupukan pertama dilakukan 1-2 bulan setelah penanaman. Pupuk diberikan per rumpun tanaman pisang dosis pupuknya Urea: 100 gram, SP36: 100 gram, KCl: 100 gram, (2) Pemupukan ke-2 dilakukan pada bulan ke 3-4. Dosisnya Urea: 100 gram, SP36: 100 gram, KCl: 100 gram, (3) Pemupukan ke-3 dilakukan pada bulan ke 6-7. Dosisnya Urea:150 gram, KCl: 200 gram, dan (4) Pemupukan ke-4 dilakukan pad abulan ke 9-10. Dosisnya Urea: 150 gram, KCl: 200 gram. Penyiangan gulma. Di awal pertumbuhan, sekitar 3 bulan pertama, lakukan penyiangan gulma lebih sering. Karena gulma akan berebut nutrisi dengan tanaman yang relatif masih lemah. Setelah tanaman berumur di atas 5 bulan, penyiangan gulma akan lebih jarang karena kanopi tanaman akan menutup area sekitar tanaman sehingga pertumbuhan gulma terhambat. Penyiangan gulma bisa dilakukan secara manual, namun apabila lahan budidayanya luas bisa menggunakan herbisida. Penjarangan anakan. Terdapat dua fungsi penjarangan anakan, yaitu untuk penyediaan bibit dan untuk merawat tanaman induk agar berbuah maksimal. Upayakan dalam satu rumpun tanaman pisang maksimal hanya ada 3 tanaman. Khusus untuk tanaman pisang cavendish sebaiknya dalam satu rumpun hanya ada 2 pohon, yang terdiri dari satu pohon induk dan satu anakan. Tidak semua tunas yang tumbuh bisa dijadikan anakan untuk pembibitan. Jumlah anakan yang bisa di ambil dalam satu tergantung dari populasi rumpun. Misalnya, bila dalam satu rumpun ada 3 pohon yang terdiri dari satu pohon induk dan dua anakan dewasa maka tunas yang bisa di ambil untuk dijadikan bibit hanya satu. Bila dalam satu rumpun ada 2 pohon yang terdiri dari satu induk dan satu anakan dewasa maka bisa di ambil maksimal 2 tunas untuk pembibitan. Kriteria anakan yang bisa di pilih untuk pembibitan adalah : (1) Tunas berasal dari pohon induk bukan dari anakan dewasa.  Tunas yang di ambil dari anakan dewasa pertumbuhannya kurang baik, mudah terserang penyakit dan bahkan bisa mati bujang, (2) Tinggi tunas 20-40 cm, (3) Bentuk bonggol besar ke bawah, dan (4) Terlihat sehat, kuncup daun baik. Pembrongsongan tandan. Pembrongsongan atau pembungkusan tandan dilakukan sebelum pisnag pertama membuka, jantung sudah mulai merunduk namun beum mekar. Gunakan pembungkus dari plastik khusus  heigrow berwarna biru atau kantong plastik yang mengandung insektisida. Tujuan pembungkusan untuk mencegah buah pisang terserang hama dan penyakit. Pohon yang berbuah banyak atau tandannya panjang hendanya di topang dengan bambu atau penopang lainnya. Tujuannya agar tanaman tidak roboh sebelum di panen. Pengendalian hama. Hama dan penyakit tanaman pisang yang paling ditakuti anatara lain layu fusarium, layu darah, dan serangan pohon kerdil. Pemanenan buah pisang. Umur panen buah pisang sebenarnya tergantung pada tujuan pasar atau distribusi. Untuk tujuan ekspor buah harus di panen lebih cepat. Namun secara umum buah pisang di panen pada tingkat kematangan 3/4 untuk pasar ekspor, dan untuk pasar lokal bisa di panen pada tingkat kematangan penuh. Kalau di lihat dari umur buah pisang bisa di panen sekitar 3-4 bulan di hitung sejak bunga mekar. Ciri-ciri buah yang sudah siap di panen bentuknya membulat, tidak ada lipatan sudut yang tajam. Bunga yang terdapat pada ujung buah sudah mengering dan mudah dipatahkan. Warna kulit berubah dari hijau tua menjadi hijau muda dan daun bendera pada tanaman sudah mengering. Bila di cek secara laboratorium, buah pisang siap panen memilki kandungan pati 19,5-20% dan kandungan gula 0,5-1%. Hal yang perlu di ingat, jangan sampai buah pisnag jatuh saat di panen. Tebang pohon pisang kira-kira dua pertiga dari atas tanah. Tiriskan getah yang menetes dari tandan. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBPSIP) Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan : Buku Saku Buah Pisang. 2016. Direktorat Buah dan Florikultura, Kementerian Pertanian RI. https://alamtani.com/panduan-teknis-budidaya-pisang/ https://agrozine.id/panduan-teknik-budidaya-pisang-begini-cara-yang-benar/ Sumber Gambar : Koleksi Pribadi