Loading...

Budidaya Sayur Di Lahan Gambut Desa Pakning Asal Kecamatan Bukit Batu

Budidaya Sayur Di Lahan Gambut Desa Pakning Asal Kecamatan Bukit Batu
Polemik yang masih berlangsung hingga kini tentang praktek pertanian di lahan gambut adalah proses pembukaan lahan. Praktik pembakaran lahan jelas sudah dilarang. Sementara itu, pembukaan lahan dengan cara yang lebih ramah lingkungan menggunakan alat berat kadang tidak terjangkau. Maka tantangan di depan mata adalah bisakah sukses berbudidaya tanaman tanpa pembakaran lahan. Kelompok tani di Desa Pakning Asal mengolah lahan gambut menjadi lahan pertanian dengan komoditas hortikultura. Di atas lahan seluas 0,5 hektare, mereka menanam berbagai jenis sayuran. “Lahan 0,5 Ha itu tidak satu hamparan, masing-masing RT memiliki lahan di lokasinya masing-masing-masing. Tanaman yang bisa dikembangkan yaitu kangkung, kacang panjang, cabai rawit, pare dan jagung.” Ungkap Syarifuddin, Bapak Kepala Dusun. “Pembagian tugasnya sederhana, bapak-bapak yang mengolah tanah, ibu-ibu yang menanam, memelihara dan memanen.” Lanjutnya. Diceritakan bahwa pada awalnya lahan dibersihkan dari pokok kayu, semak dan rumput liar. “Biasanya dulu, banyak warga yang buka lahan dengan menggunakan api, sebab lahan gambut ini sangat mudah terbakar. Tapi karena kesadaran akan bahaya pembakaran lahan, maka perubahan berangsur dimulai.” Imbuhnya lagi. Dikatakan petani melakukan buka lahan dengan menggunakan alat sederhana, seperti cangkul dan parang. Cerita pun berlanjut bahwa setelah lahan bersih, mereka membuat batas tanaman dan menggemburkannya. Lahan kemudian dibagi-bagi sesuai dengan jumlah jenis tanaman yang akan ditanam. Dikatakan bahwa hal itu dilakukan agar ada batasan pengelompokan tanaman, tidak bercampur dan mempermudah saat panen. Semua itu dikerjakan secara berkelompok, mengerjakan sesuai kemampuan dan berdasarkan kebutuhan bersama. “Perkumpulan ini atas inisiatif sendiri, tapi kalau cuma ngumpul-ngumpul nggak ada wadahnya, rasanya percuma. Makanya kami sepakat untuk membentuk kelompok tani dengan SK dari pemerintah desa.” Ungkap Syarifuddin yang asli Siak, Bandar Sungai. Setelah berkelompok, warga di Dusun yang dipimpinnya saat ini, terutama ibu-ibu Rukun Tetanggga (RT) semakin aktif bertani. Pembagian kelompoknya adalah di RT 17 ada Poktan Berkah Tani, yang menanam kangkung, bayam dan sayur lainnya. Selanjutnya di RT 18, ada Poktan Harapan Bersama yang budidaya tanaman obat seperti kunyit dan jahe, serta yang terakhir di RT 19 ada Poktan Subur Makmur, melakukan budidaya tanaman sebagai bahan pembuat jamu, seperti kencur, serai dan sebagainya. Setiap akhir pekan, kelompok tani tiap RT melakukan kegiatan gotong royong, membersihkan gulma, menyiram, dan mengendalikan hama. Salah satunya kendala yang dirasakan, adanya gangguan dari hewan liar, seperti babi hutan dan monyet. Walau begitu selalu tiba masa panen. 30 hari sekali kelompok Berkah Tani memanen tanamannya. Hasil panen untuk kebutuhan rumah tangga, anggota bisa berhemat, tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sayur. Ada pun sebagian hasilnya dijual ke warung. “Hasilnya kalau dipanen satu kampet, biasanya dapat 200 sampai 300 ribu. Uang hasil penjualan masuk kas kelompok. Sebagian diputar lagi membeli benih sayur.” Tutupnya sumringah. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Unit Pelaksana Teknis-Balai Penyuluhan Pertanian (UPT-BPP) Kecamatan Bukit Batu menyatakan bahwa tidak perlu pesimis bertani di tanah gambut. Walaupun dalam upaya bertanam hortikultura di lahan gambut ini cukup banyak kendala. Tentu saja selalu ada harapan bila terus menggali potensi yang bisa dikembangkan. Teknologi pertanian ramah lingkungan sudah tersedia untuk lahan gambut. Bisa dilakukan dengan memperbanyak aplikasi Bokashi pupuk kandang yang berasal dari fermentasi kotoran ternak. Yang paling utama kebutuhan di lahan gambut adalah mekanisasi pertanian, misalnya Alsintan untuk memperluas area tanam sayur tanpa membakar lahan.