Garut merupakan sumber potensial pengganti tepung terigu. Tanaman yang kini nyaris terlupakan di tengah gaya dan pola makan kita ini mengandung karbohidrat dan zat besi lebih tinggi dibandingkan tepung terigu dan beras giling. Sementara itu, kandungan lemaknya terendah ketimbang terigu dan beras. Kandungan kalori tepung garut pun hampir sama dengan beras dan terigu. Ini artinya garut sungguh layak dikonsumsi Tanaman garut berakar serabut. Rhizomanya mula-mula tampak berupa batang yang merayap, lalu menembus ke dalam tanah, dan membengkak menjadi suatu organ berdaging. Rhizoma garut memang khas, yaitu melengkung seperti busur panah, berwarna putih, berdaging, dan terbungkus sisik-sisik yang saling menutupi. Panjangnya sekitar 20 - 40 cm dengan diameter 2 - 5 cm. Jika diperhatikan, karakteristik umbi garut dapat dipilahkan menjadi dua, yakni: Garut Banana Jenis ini memiliki rhizoma berukuran pendek, gemuk, dan tumbuhnya menjalar di permukaan tanah. Garut Creole Jenis ini memiliki rhizoma berukuran panjang, kurus, dan tumbuhnya menembus ke dalam tanah. Sifat khas tanaman garut adalah sangat toleran terhadap lingkungan yang ternaungi. Oleh karena itu, ia sangat cocok ditanam di perkarangan atau kebun yang sudah ada pohon-pohonnya. Tanaman ini juga bisa beradaptasi dari dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Garut, irut, harut atau patat sagu merupakan salah satu anggota suku Marantaceae. Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan dikenal dengan nama Marantha arundinaceae L. Tanaman ini merupakan terna tegak dengan tinggi 60 - 80 cm, batang sejatinya terdapat dalam tanah, berbentuk kumparan menebal ke arah puncak. Daunnya berbentuk bundar telur hingga lanset bundar telur, berwarna hijau berbecak putih. Umbinya berwarna putih ditutupi dengan kulit yang bersisik berwarna coklat muda, berbentuk silinder. Tanaman ini berasal dari Amerika khususnya daerah tropik, kemudian menyebar ke Negara-negara tropik lainnya seperti Indonesia, India, Sri Lanka dan Philipina. Jenis tanaman ubi-ubian ini tumbuh pada ketinggian 0 - 900 m dpl, dan tumbuh baik pada ketinggian 60 - 90 m dpl. Tanah yang lembab dan di tempat-tempat yang terlindung merupakan habitat yang terbaik. Deskripsi tanaman: Tanaman semak semusim, tinggi 75-90 cm. Berbatang semu, bulat, membentuk rimpang, berwarna hijau. Daun tunggal, bulat memanjang, ujung runcing, bertulang menyirip, panjang 10-27 cm, lebar 4-5 cm, berpelepah, berbulu, berwarna hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, kelopak bunga hijau muda, mahkota bunga berwarna putih. Buah kotak, bulat berwarna hijau. Tanaman garut dikenal juga dengan ubi saga, sagu belanda, sagu rarut, maras dan sebagainya dan nama daerahnya biasa disebut Larut; Rarut; Jelarut; Salarut; Waerut; Nggarut; Irut; Angkrik; Arus ini memiliki tinggi berkisar 0.5 - 1.5 dengan perakaran dangkal dan ramping menjurus kedalam. Panjang rimpang/ umbi 20-40 cm diameter 2-5 cm, daun berbentuk oval dengan panjang 10-15 cm dan lebar 3-10cm. Tanaman ini diperbanyak dengan anakan dan rimpang / umbi. Hasil panen tergantung pada tajuk, kesuburan tanah dan teknik budidaya. Potensi hasil rimpang garut berkisar antara 12,5 ton per Ha. Kehilangan hasil dapat mencapai 5-20% tergantung lingkungan. Kerusakan tanaman oleh hama penyakit dan gangguan fisiologis. Keunggulan tanaman garut adalah mampu tumbuh maksimal dibawah naungan dengan intensitas cahaya minimal, tumbuh pada tanah miskin hara dan tidak membutuhkan perawatan yang khusus. Tanaman garut yang diambil hasilnya adalah rimpang/umbi yang dapat langsung dikonsumsi atau diolah menjadi tepung dan emping garut. Pengolahan Tanah Cangkul tanah perkarangan atau kebun, biarkan 2 minggu, lalu buat bedeng-bedengan berukuran lebar 100 - 120 cm dengan tinggi 20 - 30 cm, dan panjang disesuaikan lapangan. Buatkan lubang tanam, dan tambahkan pupuk kandang 7 ons/lubang. Biarkan selama sekitar 2 minggu. Jarak tanam 50 - 60 x 15 - 30 cm. Penanaman bibit Setelah itu, masukkan bibit ke lubang tanam dan berikan campuran Urea, TSP dan KCL sebanyak 2 kg/lubang (2 : 1 : 1). Segera tutup lubang dengan tanah. Pemeliharaan pemeliharaan yang meliputi penyiangan, pembumbunan, pengendalian hama penyakit, dan juga pemupukan. Pada umur 3,5 bulan dipupuk lagi dengan Urea dan KCL sebanyak 1 kg/tanaman (1 : 1). Caranya, pupuk ditaburkan sepanjang antar barisan tanaman. Selama pertumbuhan, tanah sekali-kali perlu digemburkan Nah, setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan, garut sudah bisa dipanen, dengan ditandai daun-daunnya mulai melayu. Kebutuhan bibit Kebutuhan bibit dicukupi dengan memanfaatkan ujung umbi sepanjang 4-7 cm, dengan memiliki 2-4 mata tunas. Uniknya, usia tanaman ini mencapai 7 tahun dan dipanen setiap tahun. Jadi ketika panen, tinggalkan sebagian ujung-ujung umbinya, yang kelak akan tumbuh menjadi tanaman baru lagi Perbanyakan tanaman garut dilakukan dengan memotong sebagian kecil dari rimpang yang bertunas. Tanaman ini biasanya ditanam pada permulaan musim hujan sesudah tanah digemburkan lebih dahulu. Secara umum tanaman garut sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa. Garut dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif maupun penghasil pati untuk bahan baku industri. Hal ini sejalan dengan arah dan sasaran kebijakan pembangunan pangan dan gizi yaitu dalam mewujudkan ketahanan pangan sebaiknya tidak bertumpu pada komoditas padi , jagung adan kedelai. Namun perlu ditunjang oleh berbagai komoditas pangan lainnya seperti umbi-umbian dan pisang sehingga terwujud diversifikasi pangan yang tersedia dan terjangkau masyarakat. Penulis: Yulia Tri sedyowati Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id