Jagung (Zea maize) adalah komoditas pangan kedua setelah padi, Komoditas ini mempunyai wilayah adaptasi yang cukup luas mulai lahan subur hingga lahan marginal.Dapat dikembangkan mulai agroekosistem lahan kering, lahan sawah tadah hujan hingga lahan sawah irigasi. Selain Peningkatan Produksi Padi dan Kedelai Usaha peningkatan produksi jagung di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas juga sedang digalakan melalui Kegiatan Demplot Tanaman Jagung di lahan sawah yang di laksanakan oleh Balai Penyuluhan Petania Perikanan dan Kehutana (BP3K) Kecamatan Banyumas bekerjasama dengan Kelompok Tani Sri Rahayu Desa Kedunggede seluas satu Hetare yang di tanam pada tanggal 31 Juli 2015. Demplot atau Demontration Plot adalah suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemontrasikan. Dengan adanya Demplot ternyata dapat menarik minat petani untuk melaksanakan budidaya jagung di lahan sawah secara monoultur. Untuk menekan biaya produksi usaha tani tanaman jagung di lahan sawah, salah satu cara yang dilakukan adalah menggunakan Teknologi Tanpa Olah Tanah (TOT) atau Tanam dengan Olah Tanah Minimum (TOM). Dengan Penerapan sistem tanam TOT memiliki keuntungan efisiensi waktu 15-20 hari bahkan 30 hari dibanding sistem tanam Olah Tanah Sempurna (OTS) selain itu juga dapt menghemat biaya pengolahan tanah. Tahapan pelaksanaan teknologi budidaya jagung sistem tanam Tanpa Olah Tanah (TOT) di lahan sawah adalah :1. Penyiapan Lahan (TOT)Lahan Sawah yang telah di penen di bersihkan dari sisa-sisa jerami potong atau bersihkan bongol tanaman padi menggunakan sabit sampai dengan sedekat mungkin dengan tanah supaya lahan menjadi betul-betul bersih dari jerami. Jika lahan banyak di tumbuhi gulma bisa di semprot menggunakan Herbisida, tiga – empat hari setelah aplikasi herbisida dikontrol kembali rumput/gulma yang belum terkena semprotan bisa di ulang. Takaran/Dosis bahan aktif herbisida per liter air biasanuya tercantum pada label pembungkus. Satu minggu setelah aplikasi herbisida dilanjutkan dengan penanaman penanaman. 2. Pembuatan Saluran irigasi / drainaseSaluran tersebut berfungsi untuk mengairi tanaman bila kekurangan air dan untuk membuang air jika air berlebihan terutama dimusim hujan. 3. Penggunaan Benih Varietas UnggulRespon varietas unggul berdaya hasil tinggi dan stabil sangat diperlukan sebagai komponen utama budidaya jagung. Jenis Varietas unggul yang di gunakan di setiap wilayah pengembangan dipilih berdasarkan kesesuaian varietas dengan lingkungan pertumbuhan setempat (spesifik lokasi) serta dukungan swasta sebagai pemasok sarana teknologi untuk kebutuhan petani.4. Penanaman Penanaman dilakukan dengan cara tanah di tugal biji dimasukan ke dalam lubang 1-2 biji/lubang. Selanjutnya lubang tanam langsung ditutup dengan pupuk kandang agar mudah ditembus kecambah tanaman. Fungsi lain dari pupuk kandang selain sebagai penutup lubang juga sebagai pupuk dari tanaman yang baru tumbuh. Satu minggu setelah tanam dilakukan penyulaman dengan bibit yang seumur agar efektif pertumbuhannya.5. Penggunaan jarak tanam Jarak tanam yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lahan, sifat varietas dan musim. Pada kondisi lahan subur sebaiknya digunakan jarak tanam agak lebar dibanding lahan kurang subur. Pada tanah subur pertumbuhan tanaman lebih besar dibanding tanah kurang subur sehingga membutuhkan ruang tumbuh yang lebih lebar. Jarak tanam yang di gunakan oleh petani di kelompok tani Sri rahayu adalah 70 cm X 40 Cm.6. Pemupukan Pemupukan dilakukan agar tanaman tumbuh dengan subur dan berproduksi optimal. Pemupukan didasarkan atas kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Pupuk yang umum digunakan adalah pupuk tunggal yaitu Urea sebagai pupuk N, SP-36 sebagai pupuk P dan KCl sebagai pupuk K. Karena pupuk tunggal KCl harganya sangat mahal karana non subsidi, maka pupuk Kalium diambil dari pupuk majemuk NPK. Takaran pupuk tunggal per hektar yang digunakan adalah 300 kg/ha Urea Sedang takaran pupuk majemuk per hektar yang digunakan adalah 400 kg/ha NPK Phonska dan menggnakan pupuk organik sebanyak 1000 Kg/ha (Pertoganik) 7. PengairanTanaman jagung termasuk komoditas yang tidak banyak membutuhkan air, namun bila terjadi defisiensi air segera diairi. Jumlah air yang digunakan tanaman dipengaruhi oleh suhu udara, angin, jumlah air tersedia dalam tanah dan kelembaban. Fase pertumbuhan tanaman jagung yang perlu pengairan yaitu: 1) fase pertumbuhan awal selama 15 – 25 hari, 2) fase fegetatif selama 25 – 40 hari, 3) fase pembungaan selama 15 – 20 hari, 4) fase pengisian biji selama 35 – 45 hari dan 5) fase pematangan selama 10 – 25 hari. Daya tahan air pada lahan sawah yang ditanami jagung dengan teknologi tanpa olah tanah lebih lama dibanding dengan teknologi olah tanah sempurna.8. Pengandalian OPT dan Pengendalian GulmaKegiatan pengendalian Guma, hama dan penyakit pada tanaman jagung dilakukan agar tanaman jagung tidak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya mengganggu hasil produksinya. Pengendalian terhadap hama dan penyakit dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:1. Secara mekanisme atau penanganan secara langsung dengan cara di ambil Gulma atau hamanya. 2. Secara Kimiawi- Untuk mencegah serangan penyakit digunakan fungisida/senyawa kimia pembasmi jamur/fungi. Misalnya, manzate, DIthane, Antracol, Cobox, dan Vitigran Blue. - Untuk pengendalian hama digunakan insektisida/senyawa kimia pembasmi serangga/insekta, yang berbentuk cairan yang disemprotkan. Misalnya, Diazinon 60 EC, Baycard 500 EC, HOpcin 50 EC, Klitop 50 EC, Mipcin 50 WP, Azodrin 15 WSC,Sedangkan yang berupa butiran adalah furadan 3G, Dharmafur, dan Curater. Di tulis oleh : Sugiyanto – THLTBPP BP3K Kec. Banyumas