BUDIDAYA TEH Syarat Tumbuh Tanaman teh karena berasal dari sub tropis, maka cocok ditanam di daerah pegunungan. Garis besar syarat tumbuh untuk tanaman teh adalah kecocokan iklim dan tanah. Iklim. Faktor iklim yang harus diperhatikan seperti suhu udara yang baik berkisar 13 - 15 °C, kelembaban relatif pada siang hari >70%, curah hujan tahunan tidak kurang 2.000 mm, dengan bulan penanaman curah hujan kurang dari 60 mm tidak lebih 2 bulan. Dari segi penyinaran sinar matahari sangat mempengaruhi pertanaman teh. Makin banyak sinar matahari makin tinggi suhu, bila suhu mencapai 30°C pertumbuhan tanaman teh akan terlambat. Pada ketinggian 400 – 800 m kebun-kebun teh memerlukan pohon pelindung tetap atau sementara. Disamping itu perlu mulsa sekitar 20 ton/ha untuk menurunkan suhu tanah. Suhu tanah tinggi dapat merusak perakaran tanaman, terutama akar dibagian atas. Faktor iklim lain yang harus diperhatikan adalah tiupan angin yang terus menerus dapat menyebabkan daun rontok. Angin dapat mempengaruhi kelembaban udara serta berpengaruh pada penyebaran hama dan penyakit. Tanah. Tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman teh adalah tanah yang serasi. Tanah yang serasi adalah tanah yang subur, banyak mengandung bahan organik, tidak terdapat cadas dengan derajat keasaman 4,5 – 5,6. Tanah yang baik untuk pertanaman teh terletak di lereng-lereng gunung berapi dinamakan tanah Andisol. Selain Andisol terdapat jenis tanah lain yang serasi bersyarat, yaitu Latosol dan Podzolik. Kedua jenis tanah ini terdapat di daerah yang rendah di bawah 800 m dpl. Dalam rangka pembukaan dan pengelolaan kebun perlu dilakukan survei tanah agar diketahui klasifikasi kesesuaian tanah dan kemampuan lahan. Kesesuaian tanah yang ada dibagi kedalam kategori I, II, dan III. Sedangkan kemampuan lahan menghasilkan peta yang berisi kemiringan lahan, ketebalan tanah, peta kemampuan lahan dan peta rekomendasi penggunaan lahan. Elevasi. Sepanjang iklim dan tanah serasi bagi pertanaman teh, elevasi tidak menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman teh. Terdapat kaitan antara elevasi dan unsur iklim seperti suhu udara. Makin rendah elevasi pertanaman, suhu udara akan makin tinggi. Oleh sebab itu pada daerah rendah diperlukan pohon pelindung untuk mempengaruhi suhu udara menjadi lebih rendah sehingga tanaman teh tumbuh baik. Menurut keserasian elevasi di Indonesia terdapat 3 daerah, yaitu: Daerah rendah < 800 m di atas permukaan laut Daerah sedang 800 – 1.200 m di atas permukaan laut Daerah tinggi > 1.200 m di atas permukaan laut Bahan Tanaman Tanaman teh merupakan tanaman tahunan yang diberi nama seperti : Camellia theifera, Thea sinensis, Camellia thea dan Camellia sinensis. Tanaman teh terdiri dari banyak spesies yang tersebar di Asia Tenggara, India, Cina Selatan, Laos Barat Laut, Muangthai Utara, dan Burma. Sistematika tanaman teh terdiri dari : Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Class : Dicotyledoneae Ordo : Guttiferales Famili : Theaceae Genus : Camellia Spesies : Camellia sinensis L. Varietas : Sinensis dan Asamika Sejak tahun 1988 telah dianjurkan klon-klon yang terdiri dari seri Gambung yaitu, GMB 1, GMB 2, GMB 3, GMB 4, dan GMB 5. Klon ini mampu berproduksi di atas 3.500 kg kering per hektar per tahun pada tahun ketiga. Klon anjuran seri Gambung ini dibedakan menjadi (1) daerah rendah GMB 1, GMB 2, GMB 3, (2) daerah sedang GMB 3, GMB 4, dan GMB 5, (3) daerah tinggi GMB1, GMB 2, GMB3, GMB 4, dan GMB 5. Khusus untuk klon GMB yang akan ditanam di daerah rendah dan sedang memerlukan persyaratan: (1) pohon pelindung sementara maupun tetap, (2) harus diberi mulsa 20 ton per hektar untuk mempertahankan kelembaban tanah, (3) lahan harus diolah dengan kedalaman minimal 40 cm, lobang tanam lebih besar dan dalam disertai pembuatan rorak selang dua baris. Untuk meningkatkan produktivitas kebun, Pusat Penelitian Teh dan Kina telah menghasilkan klon baru seri Gambung 6 – 11 yang telah dilepas pada bulan Oktober 1998. Klon ini dianjurkan ditanam di daerah rendah sedang dan tinggi. Potensi klon dapat mencapai 5000 kg kering per hektar per tahun. Klon baru ini dianjurkan di tanam di daerah rendah sedang dan tinggi, yaitu klon GMB 6, GMB 7, dan GMB 9. Untuk GMB 8, GMB 10 dan GMB 11 dianjurkan untuk daerah sedang dan tinggi. Contoh varietas yang sudah dilepas dapat dilihat pada Dalam rangka mendukung pengembangan teh hijau telah dilepas oleh Menteri Pertanian tanggal 30 April 2009 sebanyak 5 klon teh Sinensis, yaitu : GMBS 1, GMBS 2, GMBS 3, GMBS 4, dan GMBS 5. Potensi hasil GMBS 1 dapat mencapai 1.939 kg/ha/th, GMBS 2 sebesar 2.151 kg/ha/th, GMBS 3 sebesar 1.839 kg/ha/th, GMBS 4 sebesar 2.107 kg/ha/th, dan GMBS 5 sebesar 2.165 kg/ha/th. Dalam rangka pengembangan budidaya teh dapat menggunakan bahan tanaman yang berasal dari biji atau stek. Bahan Tanaman Asal Biji Bahan tanaman asal biji diambil dari kebun biji yang dikelola secara khusus. Kebun biji dibedakan menjadi : (a) Kebun biji biklonal terdiri dari 2 klon. (b) Kebun biji poliklonal terdiri lebih dari 2 klon. Kebun biji dapat dibangun dengan cara tanaman dibentuk berbaris, segi empat, atau ganda segi tiga dengan jarak tanam 4 m x 5 m dan 5 m x 6 m. Untuk bahan tanaman berasal dari biji, dapat digunakan sumber penghasil biji kebun biji di Gambung dan Pasir Sarongge. Salah satu sumber tanaman penghasil biji Pasir Sarongge dapat dilihat pada Pemungutan biji teh. Pohon teh berbuah sepanjang tahun dengan dua fase pembuahan. Fase pertama pembuahan lebat di musim kemarau dan tidak lebat di musim penghujan. Biji teh masak 8 bulan setelah pembungaan. Beberapa ciri biji teh yang baik sebagai berikut : warna kulit biji hitam dan mengkilat, biji penuh terisi berwarna putih, berat jenis lebih berat dari air sehingga akan tenggelam, bentuk dan ukuran harus sesuai dengan jenis klonnya. Biji yang dipungut yang telah jatuh di tanah. Biji yang dikumpulkan segera dimasukkan di bak air untuk dipisahkan yang baik dan jelek. Biji yang baik, yaitu biji yang tenggelam untuk dijadikan benih. Sebelum biji disimpan biji dikeringanginkan dan dicampur dengan fungisida. Disarankan biji segera dipakai karena daya kecambah biji teh cepat menurun. Penyimpanan biji. Biji yang belum akan dipakai disimpan dalam kaleng agar dapat tahan lama dengan daya kecambah yang masih baik sebagai berikut : (1) Biji hasil pungutan yang tenggelam dalam air diberi fungisida dan dicampur merata dengan bubuk arang, kemudian dimasukkan ke dalam kaleng. Sebelum biji dimasukkan dalam kaleng, kaleng harus dicuci bersih dan dikeringkan, setelah itu dalamnya dilapisi kertas koran. (2) Kaleng ditutup dengan penutup yang rapat. Di atas kaleng diberi lobang pada setiap sudutnya. (3) Kaleng disimpan di tempat yang teduh tidak terkena sinar matahari, tetapi tidak lembab. Alas kaleng diberi ganjal kayu dan disusun tidak bertumpuk. (4) Daya tahan biji teh yang disimpan dengan cara ini dapat mencapai empat bulan. (5) Biji yang akan dikecambahkan sebelumnya diambil dari kaleng, kemudian direndam dahulu dalam air selama 2-4 jam. Biji yang terapung jangan dipergunakan. Pembibitan teh asal biji. Pesemaian biji dapat dilakukan langsung di tanah atau dengan polibag. Prinsip kedua cara di atas harus melalui : pemilihan lokasi lahan subur, topografi rata atau landai (terbuka kena matahari), dekat sumber air, rendah pemeliharaannya, dekat jalan, pengawasan serta transportasi bibit mudah. Persiapan lahan pesemaian dilakukan 6 bulan sebelumnya berupa pembukaan hutan, belukar, pembongkaran pohon dan tunggul serta pembuatan bedengan selebar 90 cm, tinggi 10-15 cm dan panjang sesuai kebutuhan. Pengecambahan biji dilakukan pada bangunan ukuran lebar 100 cm, panjang 400 cm, tinggi atap bagian depan 150 cm, dan bagian belakang 75 cm. Bagian belakang, sisi kiri dan kanan ditutup rapat dengan dinding bambu. Pinggir bedengan dibuat dari papan, bambu atau bata 30-40 cm. Hamparan pasir kali yang dicampur fungisida setebal 5 cm, kemudian di atasnya dihamparkan biji yang ditutup lagi dengan pasir Siram dengan air bersih dan tutup dengan karung basah yang steril. Penyiraman dilakukan apabila keadaan pasir sudah kering Biji-biji yang disemaikan dikeluarkan dari pasir, biji yang baik akan belah dan berkecambah. Biji ini segera dikecambahkan di bedengan atau polibag. Penanaman biji. Langsung di tanah di bedengan, pada lobang sedalam 3 cm dengan kecambah menghadap ke bawah. Jarak tanam biji di pesemaian 15 cm x 15 cm. Setelah ditanam dibuat naungan dari paku andam atau rumput alang-alang/sasak bambu. Langsung biji di polibag, dilakukan dengan menanam biji sedalam 3 cm dengan kecambah menghadap ke bawah. Kemudian disiram dengan air. Naungan untuk pesemaian cara polibag dapat dibuat individu atau kolektif dengan paku andam, alang-alang atau sasak bambu. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan umur 10 – 12 bulan. Bibit yang tidak baik hendaknya tidak dipakai sebagai bibit . Pemeliharaan pesemaian teh asal biji. Tempat pesemaian perlu diperhatikan agar biji yang disemaikan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagaiberikut : (1) Biji yang tidak tumbuh dalam waktu satu bulan segera disulam dengan biji baru. Paling lambat penyulaman sampai umur dua bulan setelah penanaman. (2) Penyiangan dilakukan setiap satu setengah bulan secara manual tergantung dari gulma yang tumbuh. (3) Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila terlihat adanya serangan hama dan penyakit. (4) Bibit di persemaian diberi pemupukan empat kali dalam satu tahun untuk mempercepat pertumbuhan. Selain itu dapat diberi pupuk daun setelah bibit berumur empat bulan. (5) Pemberian air harus dilakukan terutama pada musim kemarau. Pemindahan bibit teh asal biji ke lapangan. Setelah bibit berumur 2 tahun di pesemaian dan telah memenuhi syarat untuk dipindahkan ke kebun dilakukan dengan cara pembongkaran sebagai berikut : (1) Batang dipotong setinggi 15 – 20 cm di atas tanah dua minggu sebelum dibongkar. (2) Bibit dibongkar sedalam 60 cm dengan cangkul. Kemudian bibit dicabut dengan tangan agar akar rambut tidak rusak, sedang akar tunggang dan akar cabang yang terlalu panjang dipotong dan disisakan 30 cm. (3) Bibit yang telah dibongkar dari bedengan pada hari yang sama harus sudah ditanam di kebun. Bibit yang batangnya kecil dari normal sebaiknya tidak dipakai Bahan Tanaman Asal Setek Pembibitan dengan cara ini merupakan cara tercepat dalam memenuhi kebutuhan bahan tanaman skala besar karena keunggulannya sama dengan pohon induknya. Stek teh yang diambil, kebun induknya harus dikelola khusus agar terjamin kemurnian bahan tanaman dan mempunyai potensi produksi dan kualitas tinggi. Cara pengambilan setek. Cara pengambilan setek adalah sebagai berikut : ranting setek diambil 4 bulan setelah dipangkas, ranting setek dipotong setinggi 15 cm dari bidang pangkasan pada perbatasan warna coklat dan hijau. Setek diambil dari ranting setek sepanjang 1 ruas dan mempunyai 1 helai daun. Setek yang dipakai adalah bagian tengah ranting setek berwarna hijau tua. Pemotongan setek dilakukan dengan pisau tajam, dimana setiap potongan diambil ruas dengan satu lembar daun 0,5 cm di atas dan 4- 5 cm di bawah ketiak daun dengan kemiringan 45°. Setek yang dikumpulkan ditampung dalam ember berair maksimal 30 menit. Setek segera ditanam di pembibitan, apabila tempatnya jauh perlu dikemas dalam kantong plastik. Sebelum ditanam dan dikemas dikantong plastik dicelupkan ke dalam larutan fungisida dan hormon tumbuh selama dua menit. Pesemaian. Pesemaian setek perlu disiapkan jauh sebelum penanaman bibit setek di kebun agar dicapai ketepatan waktu tanam. Lokasi pembibitan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : (1) Tempat terbuka agar mendapatkan solar radiasi optimal. (2) Drainase tanah baik agar pertumbuhan akar berkembang optimal. (3) Dekat sumber air untuk memudahkan penyiraman dan pemberantasan hama penyakit. (4) Dekat dengan jalan utama agar pengangkutan dan pengawasan mudah. (5) Tanah pengisi kantong plastik tersedia pada lokasi pembibitan. (6) Dipilih topografi yang melandai ke arah Timur agar mendapat solar radiasi pagi yang baik. 3. Pembuatan bedengan. Cara pembuatan bedengan dan penyusunan polibag dilakukan sebagai berikut : (1) Ukuran bedeng lebar satu meter dan panjang tergantung keadaan tetapi maksimal 15 meter. Antar bedeng satu dengan yang lain diberi jarak 60 cm. Sedang antar bedengan dibuat parit untuk saluran air sedalam 10 cm. (2) Lantai bedengan sebelum diratakan digemburkan dengan garpu. (3) Polibag disusun dengan rapih berbaris tegak kemudian ditutup plastik agar tidak kena air hujan. Media tanah untuk polibag perlu dicampur dengan pupuk, fungisida, fumigan dan tawas (4) Di atas bedengan dibuat rangka sungkup dari bambu. Bentuk sungkup ini setengah lingkaran atau bentuk seperti atap rumah. (5) Sesudah itu bedengan disungkup dengan lembaran plastik polibag yang telah diatur dalam bedengan disiram dengan air sampai dengan cukup basah. Penanaman setek di dalam polibag dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Tangkai setek dicelupkan pada larutan fungisida dan hormon tumbuh selama 1 – 2 menit. (2) Setek ditanam dengan menancapkan tangkainya ke dalam tanah di polibag dengan daun menghadap kearah tangan. Arah daun harus condong ke atas tidak saling menutupi. (3) Setelah setek ditanam disiram air bersih jangan sampai tangkai setek goyah. (4) Penyiraman disesuaikan dengan keadaan tanah. Penyiraman pertama 3-4 minggu, seterusnya diatur sesuai kebutuhan. (5) Bedengan ditutup dengan sungkup plastik selama 3-4 bulan. (6) Pembukaan sungkup dilakukan setelah setek berakar dan pertumbuhan tunas sudah merata ± 15 cm . (7) Pembukaan sungkup dilakukan bertahap selama 2 jam pada minggu 1 dan 2, dan selanjutnya bertahap 4, 6, 8 dan 12 jam sampai tanpa sungkup. 4. Seleksi bibit. Pelaksanaan seleksi bibit dilakukan pada umur 6 bulan setelah bibit tumbuh. Bibit yang tumbuh sehat dipisahkan dari yang kecil. Bibit yang baik dipindahkan keluar agar beradaptasi di bawah sinar matahari. Untuk sementara diberi naungan dari alang-alang atau paku andam. Adaptasi dapat juga dilakukan dengan cara membuka plastik naungan secara bertahap.Kriteria bibit siap tanam sebagai dasar penentuan mutu bibit sebagai berikut : (1) Umur bibit minimal 8 bulan (2) Tinggi minimal 30 cm dengan jumlah daun 5 helai. (3) Tumbuh sehat, mekar dan berdaun normal (4) Perakaran baik, terdapat akar tunggang semu dan tidak ada pembengkakan kalus. (5) Beradaptasi minimal 1 bulan terhadap sinar matahari. Persiapan Lahan Persiapan lahan untuk penanaman teh terdiri atas 2 kegiatan: (1) untuk penanaman baru, dan (2) untuk penanaman ulang. A. Persiapan lahan untuk penanaman baru Survei dan pemetaan tanah - Jalan kebun, kontrol dan transportasi - Lokasi emplasmen buat pabrik, perumahan, dll. - Peta kebun dan peta kemampuan lahan - Pembuatan fasilitas yang mendukung pengembangan kebun Pembongkaran pohon dan tunggul - Pohon dan tunggul dibongkar langsung - Pohon dimatikan dulu dengan cara pengulitan, baru dibongkar - Pohon dimatikan dengan menggunakan larutan kimia yang dioleskan pada batang yang dikuliti Babad dan nyasap Pembabatan pohon dan tunggul dilakukan setelah pembongkaran pohon dan tunggul selesai. Setelah pembabatan tanah disasap dengan cangkul sedalam 5-10 cm untuk membersihkan gulma. Pekerjaan ini dilakukan musim kemarau. Pengolahan tanah Pencangkulan pertama dilakukan sampai sedalam 60 cm untuk menggemburkan tanah. Selanjutnya pencangkulan kedua sedalam 30-40 cm setelah 2-3 minggu setelah pencangkulan pertama sambil meratakan tanah. Pembuatan jalan dan saluran drainase. Selesai membuat petakan tanah berukuran 20 x 20 m, perlu segera dibuat jalan kebun untuk memudahkan pekerjaan pemeliharaan tanaman. Lebar jalan kebun cukup 1 m dengan panjang tergantung keadaan. Jangan terlalu banyak membuat jalan sehingga banyak lahan terbuang atau terlalu sedikit sehingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan. Selesai pembuatan jalan, dibuat saluran drainase untuk mencegah erosi. Pembuatan saluran drainase agar mempertimbangkan kemiringan serta letak jalan kebun. B. Persiapan Lahan Untuk Penanaman Ulang Penanaman ulang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas yang sebelumnya rendah karena teh tua yang jumlahnya sudah cukup besar lebih dari 50% dan pohonpohon pelindungnya sudah tua. Teknik pelaksanaan persiapan lahan untuk penanaman ulang adalah sebagai berikut : (1) Pembongkaran pohon pelindung yang tidak dikehendaki agar sumber hama/penyakit, persaingan hara, air dan lain-lain dapat dihindari. (2) Pembongkaran perdu teh tua harus mempertimbangkan kemiringan lahan, agar erosi tidak terlalu besar. Untuk lahan datar dan landai, pembongkaran perdu teh dapat dilakukan dengan pencabutan, sedang daerah kemiringan 30% perdu-perdu teh tidak perlu dibongkar tetapi dimatikan dengan bahan kimia. Pembongkaran dapat menggunakan takel (3) Sanitasi lahan untuk persiapan lahan yang berasal dari kebun yang telah terserang penyakit cendawan akar sebagai berikut : (1) Penanaman rumput Guatemala selama dua tahun, setelah itu baru ditanami teh, (2) lahan siap tanam difumigasi terlebih dahulu dengan methyl bromida. Caranya dengan mengalirkan methyl bromida ke dalam lembaran plastik yang menutupi tanah selama dua minggu. Setelah itu sungkup dibuka selama dua minggu baru dapat ditanami teh lagi, (3) lahan difumigasi dengan Vapam menggunakan alat suntik tanah sebanyak 8 ml/lobang. Jarak antar lobang 30 cm x 30 cm. Penyuntikan pada saat tanah lembab/basah, atau setelah disuntik Vapam kemudian disiram air. Setelah satu bulan tanah dapat ditanami teh kembali. (4) Pengolahan tanah setelah teh dicabut dilakukan dengan cara dicangkul seperti pada pengolahan tanah untuk penanaman baru. Sedangkan untuk lahan yang perdunya dimatikan dengan bahan kimia, pengolahan tidak perlu dilakukan, cukup dengan penataan tanah dan pembuatan lobang tanam. Bila masih terdapat rumput liar, maka perlu disemprot dengan herbisida. Penanaman Sebelum ditanami perlu dilakukan penetapan jarak tanam dengan pengajiran. Setelah itu baru dilakukan pembuatan lobang tanam sesuai letak ajir. Selesai pembuatan lobang tanam baru dilakukan penanaman. 1. Jarak Tanam Makin besar jumlah populasi, tajuk semakin cepat menutup. Jarak tanam yang dianjurkan berdasarkan kemiringan lahan adalah sebagai berikut. Jumlah tanaman per hektar berdasarkan kemiringan lahan Kemiringan lahan Jarak tanam (cm) Jumlah tanaman (phn/ha) 0 – 15 % 120 x 90 9.260 15 – 30 % 120 x 75 11.110 > 30 % 120 x 60 13.888 Dalam batas tertentu 120 x 60 x 60 18.500 2. Pengajiran Pengajiran dilakukan sebelum tanaman ditanam bermaksud agar jumlah tanaman teh sesuai dengan jarak tanam yang ditetapkan. Ajir yang dipakai panjang 50 cm dengan tebal 1 cm. Cara pengajiran pada lahan datar dan landai dengan membuat ajir induk pada kedua sisi lahan, kemudian dilakukan dengan sistem barisan lurus atau zigzag sesuai jarak tanam. Pada lahan miring pengajiran dilakukan dengan sistem kontrol. 3. Pembuatan Lobang Tanam Karena jarak antara 2 ajir dekat, maka lobang tanam dibuat di antara kedua ajir yang telah ditanam. Ukuran lobang tanam untuk bibit asal stump biji adalah 30 x 30 x 40 cm dan untuk bibit asal setek 20 x 20 x 40 cm. Lobang dibuat 1 minggu sebelum ditanam. 4.Penanaman Sebelum ditanam lobang diberi pupuk dasar 11 g urea + 5 g TSP + 5 g KCl. Untuk daerah pH tinggi lobang diberi belerang murni sebanyak 10-15 g atau 50-100 g belerang lumpur tiap lobang. Bibit asal stump biji atau bibit asal polibag setelah ditanam, lobang tanam diratakan agar bekas penanaman tidak nampak cekung atau cembung. 5.Penanaman Tanaman Pelindung Ada 2 macam tanaman pelindung : tanaman pelindung sementara dan tetap. Tanaman pelindung sementara dipakai jenis Crotalaria sp dan Tephrosia sp. Tanaman bersifat ganda karena menambah kesuburan tanah dimana bintil akar dapat mengikat unsur hara N. Setelah tanaman teh berumur 2-3 tahun sebaiknya sudah ada pohon pelindung tetap yang ditanam setahun sebelum teh ditanam atau bersamaan. Jenis pohon pelindung yang dianjurkan : Albizia falcata, Albizia sumatrana, Albizia chinensis, Albizia procera, Derris microphylla, Leucaena glauca, Leucaena pulverulenta, Erythrina subumbrans, Erythrina poeppingiana, Gliricidia maculata, Acacia decurens, Media azedarach dan , Grevillea robusta Pengelolaan Tanaman Untuk mencapai tujuan pengelolaan tanaman yang baik, maka kegiatan yang harus dilakukan terdiri atas : penyiangan, pembuatan rorak, penyulaman, pengelolaan tanaman pelindung, dan pembentukan bidang petik. 1. Penyiangan Apabila penanaman tanaman teh telah selesai dilakukan, tanah perlu diratakan kembali. Satu setengah atau 2 bulan setelah tanaman ditanam, gulma mulai tumbuh dan perlu disiangi. Penyiangan dapat juga dilakukan dengan herbisida bila tersedia. Penyiangan dengan cara manual perlu diulangi 1,5 – 2 bulan kecuali ada gangguan serangga hama/penyakit penyiangan dilakukan dengan cara strip weeding. 2. Pembuatan Rorak Sesuai dengan kemiringan tanah rorak dibuat 2 – 3 baris tanaman secara selang seling dengan ukuran panjang 200 cm, lebar 40 cm dan dalam 60 cm. Rorak perlu dikuras 3 kali dalam setahun. Tanah yang menutup dikeluarkan dari rorak agar berfungsi kembali. Fungsi dari pada rorak ini sebagai kantong peresapan air yang berguna dimusim kering. Rorak disamping mencegah erosi dapat memperbaiki abrasi tanah dan tempat penampungan bahan organik. Jumlah rorak di daerah datar jumlahnya dapat sama atau lebih dibanding lereng yang miring, tergantung aliran air. 3. Penyulaman Penyulaman tanaman yang mati harus diganti dengan yang baru. Bibit untuk menyulam adalah bibit terbaik dari klon yang sama. Penyulaman dilakukan mulai 2 – 4 minggu setelah adanya penanaman. Penyulaman harus dilakukan sampai tanaman berumur 2 tahun. Penyulaman tahun pertama diperkirakan sekitar 10%, tahun ke 2 sebesar 5% sehingga tanaman menghasilkan populasi menjadi penuh. 4. Pengelolaan Pohon Pelindung Jenis pohon pelindung yang berfungsi ganda sebagai pelindung dan penghasil hara nitrogen seperti : Crotalaria usaramoensis, C. anaggreoides dan Tephrosia sp. Dapat ditanam selang dua baris di antara tanaman teh. Bila tinggi tanaman telah lebih 1 m, tanaman ini perlu dipangkas 50 cm karena akar mengganggu tanaman teh. Pada jarak setiap 1 m dibiarkan 1 – 2 pohon pupuk hijau ini sebagai pohon pelindung sementara. Pemangkasan tanaman pelindung ini pada dua musim hujan dipangkas 4 – 6 bulan sekali dan sisa pangkasan dijadikan mulsa tanaman teh. Pemberian mulsa untuk tanaman ternyata tidak akan cukup sehingga diperlukan mulsa dari tanaman seperti : rumput Guatemala, rumput-rumputan dan jerami. Penanaman pohon pelindung tetap sebaiknya ditanam 1 tahun sebelum atau bersamaan waktu tanaman teh ditanam. Pohon pelindung yang mati agar segera disulam. 5. Pembentukan Bidang Petik Pembentukan bidang petik berfungsi agar tanaman menjadi bentuk perdu, dimana kerangka tanaman percabangannya ideal dengan bidang petik yang luas sehingga pucuk yang dihasilkan banyak. Ada tiga cara membentuk bidang petik : 1) cara pemangkasan dan pemenggalan, 2) cara perundukan, dan 3) cara kombinasi. Cara pemangkasan dan pemenggalan. Cara pemangkasan dilakukan pada bahan tanaman asal biji umur 2 tahun dipangkas setinggi 10 – 15 cm. Setelah tanaman dilapangan 1 – 1,5 tahun dipangkas setinggi 30 cm, setelah 2,5 tahun dipangkas selektif dahan setinggi 45 cm dan tiga sampai empat bulan kemudian dilakukan jendangan 60 – 65 cm dari permukaan tanah. Cara pemenggalan dilakukan pada tanaman asal setek atau biji dalam polibag. Setelah bibit dilapangan umur 4 – 6 bulan, batang utama dipenggal setinggi 15 – 20 cm dengan meninggalkan minimal 5 lembar daun. Kemudian setelah cabang baru muncul setinggi 50 – 60 cm, kira-kira 6 – 9 bulan setelah batang utama dipenggal terdapat cabang yang tumbuh kuat keatas dipotong pada ketinggian 30 cm untuk memacu pertumbuhan kesamping. Tiga sampai enam bulan kemudian pada percabangan baru tinggi 60 – 70 cm dipangkas selektif setinggi 45 cm. Tunas yang tumbuh dibiarkan sampai 3-6 bulan, kemudian dijendang pada ketinggian 60 – 65 cm. Cara Perundukan Perundukan adalah suatu cara membentuk bidang petik dengan melengkungkan batang utama dan cabangcabang sekunder. Cara ini dilakukan agar bahan makanan terakumu-lasi ke bagian sisi atas dari batang. Cara pelaksanaan dilakukan sebagai berikut : - Setelah bibit di lapangan 6 bulan, batang dilengkungkan membentuk 45 ° dan pucuk peko dipotong. - Sesudah 6 bulan dilengkungkan, tunas sekunder yang telah mencapai panjang 50 cm dilakukan perundukan. Hal ini dilakukan sampai beberapa kali sehingga menutup ke segala arah. - Cabang yang masih tumbuh ke atas, dipotong 30 cm. Tunas yang tumbuh setelah perundukan kedua dibiarkan sampai ketinggian 70 cm kemudian dipotong setinggi 45 cm. - Dua sampai tiga bulan sesudah itu pucuk yang tumbuh dijendang pada ketinggian 60 cm atau 20 cm di bidang pangkas. Cara Kombinasi (centring-bending) Cara kombinasi pemangkasan, pemenggalan dan perundukan diawali dengan pemangkasan batang utama kemudian perundukan. Maksud dari cara kombinasi pemangkasan dan perundukan agar dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan dari kedua sistem ini. Cara ini dapat juga dilakukan pada tanaman asal biji yang ditanam berupa stum. Pelaksanaan cara ini sebagai berikut : - Setalah umur tanaman 6 bulan batang utama dipotong pada ketinggian 20 cm dengan meninggalkan minimal 5 lembar daun. - Tunas sekunder yang tumbuh setelah 6 bulan dibiarkan mencapai panjang 50 cm kemudian dirundukkan kesegala arah. - Setelah 6 bulan dirundukkan, tunas daun yang tumbuh 60 – 70 cm dilakukan pemotongan setinggi 45 cm. Jendangan setinggi 60 – 65 cm dilakukan 3 bulan setelah dipotong di atas. Menurut hasil penelitian PPTK Gambung, keuntungan cara centering-bending selain mudah dilakukan, kerangka perdu telah terbentuk sebelumnya dan tingkat kesalahan cara bending persentasenya kecil. Kerugian cara ini karena sebagian tanaman terbuang sehingga perkembangan akar jadi terganggu pada tahap awal. Pengaruh perlakuan centring-bending pada tahap tahap awal perkembangan tanaman agak sulit disiangi dan penutupan tanah tidak secepat bending. Pemangkasan Pekerjaan pemangkasan dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi bidang petik sehingga memudahkan dalam pekerjaan pemetikan dan mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Tujuan dari pekerjaan pemangkasan adalah: (1) Memelihara bidang petik tetap rendah untuk memudahkan pemetikan (2) Mendorong pertumbuhan tanaman teh agar tetap pada fase vegetatif. (3) Membentuk bidang petik (frame) seluas mungkin. (4) Merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. (5) Meringankan biaya pengendalian gulma. (6) Membuang cabang-cabang yang tidak produktif. (7) Mengatur fluktuasi produksi harian pada masa flush dan masa minus (kemarau). 1. Prinsip-Prinsip Pangkasan (1) Batang/cabang/ranting yang telah dipotong tidak boleh pecah atau rusak. (2) Luka pangkas pada batang/cabang/ranting harus rata membentuk sudut 45o menghadap ke dalam perdu. (3) Membuang ranting-ranting kecil dengan diameter kurang dari 1 cm (ukuran pensil). (4) Membuang cabang yang membenggul. (5) Membuang cabang-ranting yang lapuk. (6) Membuang salah satu cabang/ranting yang menumpuk, bersilang atau berdekatan dengan jarak kurang dari 5 cm (7) Bidang pangkasan harus sejajar dengan permukaan tanah. 2. Sistem dan Jenis Pangkasan Sistem pangkasan adalah urutan ketinggian pangkasan yang diterapkan dalam satu siklus pangkas dibandingkan dengan siklus pangkas sebelumnya. Ada dua sistem pangkasan, yaitu: Sistem I : Sistem pangkasan yang selalu naik - sistem ini setiap kali melakukan pemangkasan selalu menaikkan bidang pangkasan (3-5 cm) lebih tinggi dari bidang pangkasan sebelumnya sampai batas maksimal pada ketinggian 65-70 cm, kemudian turun kembali pada ketinggian 50-55 cm. Sistem II : Sistem pangkasan tetap - sistem ini setiap kali melakukan pemangkasan berada pada ketinggian yang relatif tetap sekitar 60-65 cm berulang-ulang setiap siklus pangkas. Dengan pertimbangan kontinuitas produksi dan harapan produktivitas yang lebih baik, sistem pangkasan yang banyak diterapkan di perkebunan besar adalah Sistem I. Dengan sistem ini, cabang/ranting yang tertinggal pada perdu relatif lebih muda dari pangkasan sebelumnya, sehingga akan lebih cepat menumbuhkan tunas baru yang berarti lebih cepat dilakukan jendangan. Pengaturan ketinggian pangkasan dengan sistem di atas adalah sebagai berikut: Siklus I : 50 cm (turun benggul) Siklus II : 55 cm Siklus III : 60 cm Siklus IV : 65 cm, dan kembali lagi ke ketinggian siklus I (50 cm) Untuk mempertahankan kestabilan produksi, maksimal blok yang turun benggul adalah 25% dari areal yang dipangkas dalam satu tahun. 3. Daur Pangkas Daur pangkas yaitu jangka waktu antara pemangkasan terdahulu dengan pemangkasan berikutnya, yang dinyatakan dalam tahun atau bulan. Lamanya daur pangkas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : (1) Ketinggian letak kebun dari permukaan laut; makin tinggi letak kebun dari permukaan laut, makin lambat kecepatan pertumbuhan tanaman teh dan sebaliknya. (2) Sistem petik; petikan keras akan menyebabkan naiknya bidang petik lebih lambat sehingga daur pangkasnya panjang, sedangkan petikan ringan akan menyebabkan naiknya bidang petik lebih cepat sehingga daur pangkas lebih pendek. (3) Kesuburan tanah dan pengelolaan tanaman; makin subur tanah dan makin baik pengelolaan suatu kebun, makin cepat pertumbuhan tanaman yang berarti makin pendek daur pangkasannya, bila dibandingkan dengan tanaman pada tanah yang kurang subur/kurang pemeliharaannya. (4) Pemetikan yang sering “kaboler” dan tidak "imeut" akan memperpendek daur pangkasan, ini berarti produktivitas perdaur pangkasan turun. (5) Jenis tanaman; tanaman yang berasal dari klon umumnya lebih cepat pertumbuhannya dibanding tanaman teh asal biji. Makin tinggi pangkasan sebelumnya, makin pendek dasar pangkasan berikutnya. Dengan melihat beberapa faktor di atas, maka penentuan kapan satu blok kebun harus dipangkas dilihat dari: (1) Produktivitas tanaman yang sudah mulai menurun. (2) Ketinggian bidang petik yang sudah tidak ergonomis bagi pemetik (120-140 cm). (3) Urutan dipangkas dikaitkan dengan sebaran pangkasan per bulan. Sebagai prakiraan, daur pangkasan berdasarkan ketinggian tempat adalah sebagai berikut : Daerah Umur Pangkasan (bulan) Tinggi 48 – 52 Sedang 36 – 42 Rendah 30 – 36 4. Waktu dan Sebaran Pangkasan Pertimbangan dalam waktu pangkasan dan sebaran pangkasan per bulan dari rencana satu tahun ditentukan oleh: Sebaran target produksi per bulan (bila memungkinkan juga dikaitkan dengan sebaran permintaan pasar teh), kondisi iklim mikro setempat (tanah dan lingkungan) yang masih cukup lembab serta tidak terlalu terik, sehingga pangkasan dimungkinkan dapat dilaksanakan sepanjang tahun, dan kesehatan tanaman sehingga kecepatan penutupan (recovery) daun lebih cepat. Sebagai acuan, sebaran pangkasan per semestar diatur sebagai berikut: Semester I : 60-70% dari rencana setahun. Semester II : 30-40% dari rencana setahun. 5. Persiapan Pemangkasan Untuk menghindari adanya dampak negatif (kekeringan, pertumbuhan lambat atau kematian) selama masa tanaman tidak berfotosintesa, kondisi tanaman yang akan dipangkas harus dalam keadaan sehat. Pengecekan kesehatan tanaman dilakukan satu bulan sebelum pemangkasan dengan cara test kadar pati atau tes kadar air. 6. Waktu Penyembuhan dari Pemangkasan Secara umum setelah dipangkas + 30 hari mulai terjadi bintil-bintil calon tunas dan setelah 70 hari s/d 100 hari pertumbuhan pucuk sudah siap untuk dilakukan tipping/jendangan. Tetapi periode waktu tersebut berlangsung tergantung ketinggian pangkasan, jenis klon, waktu pemangkasan, ketinggian tempat dari permukaan laut , umur tanaman dan kondisi/kesehatan tanaman. 7. Cara Pemangkasan Cara pemangkasan dan tingkat kemahiran pemangkas sangat menentukan keberhasilan suatu pemangkasan selain faktor lainnya. Sebelum pangkasan dimulai, terlebih dahulu harus dibuat contoh pangkasan (indung pangkasan) yang diawasi dengan ketat. Secara garis besarnya urutan pelaksanaan cara pemangkasan adalah sebagai berikut: Pangkasan dengan Manual (1) Memotong cabang/ranting pada ketinggian yang dikehendaki. (2) Luka pangkas pada batang/cabang/ranting diupayakan rata membentuk sudut 45° menghadap ke dalam perdu. (3) Batang/cabang/ranting yang telah dipotong tidak boleh pecah atau rusak, oleh karena itu gaet atau gergaji harus tajam. (4) Memotong cabang/ranting yang besarnya lebih kecil dari ibu jari (< 2 cm) menggunakan gaet pangkas, sedangkan yang lebih besar dari ibu jari (> 2 cm) mempergunakan gergaji pangkas. (5) Membua