Loading...

Busuk Daun dapat Mematikan Tanaman Kentang

Busuk Daun dapat Mematikan Tanaman Kentang
Sebagai sumber karbohidrat, kalori, mineral dan protein, pengembangan tanaman kentang memimiliki prospek yang cukup besar untuk menunjang program diversifikasi pangan, bahan baku industri dan komoditas ekspor. Sebagai bahan pangan, kentang yang nama latinnya Solanum tuberosum dapat diolah menjadi bermacam-macam hasil olahan seperti kentang goreng, tepung kentang, keripik kentang, perkedel maupun bahan olahan lainnya. Sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan, kebutuhan kentang cenderung mengalami peningkatan. Oleh karena itu, kentang mempunyai prospek yang cerah untuk dibudidayakan. Dalam budidaya kentang, salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya produksi adalah adanya serangan penyakit, apalagi jika penyakit itu merupakan penyakit yang membahayakan bagi komoditi sayuran tersebut, salah satunya adalah penyakit "Busuk daun" yang disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestans. Hal ini karena penyakit yang disebut juga dengan nama "Hawar daun (Late Bligt)" apabila serangannya sudah parah,tanaman akan mati. Dengan matinya tanaman tersebut tentunya umbi yang ditunggu-tunggu hasilnya akan mengecewakan. Bila umbi yang sakit ditanam, cendawan akan naik ke tunas muda dan membentuk konidium. Konidium dapat dipencarkan/disebarkan oleh angin ke tanaman lain melalui tanaman kentang yang sakit atau pun tanaman lain yang merupakan inang penyakit tersebut.. Tananam inang (tanaman yang dapat membantu penyebaran penyakit) busuk daun diantaranya tanaman tomat. Kelembaban dan suhu sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Kondisi suhu dan kelembaban yang cocok untuk berkembangnya penyakit. Apabila kondisi pertanaman kentang itu mempunyai suhu udara antara 16 - 24 0 C dan kelembabannya tinggi (musim hujan), penyakit akan berkembang hebat. Sedang pertanaman kentang yang di tanam di dataran rendah, umumnya serangan penyakit tidak begitu berat karena di dataran rendah mempunyai suhu udara yang tinggi. Pada suhu udara yang tinggi, cendawan Phytophthora infestans tidak berkembang dengan baik. Pencaran atau penyebaran penyakit busuk daun umumnya terjadi pada pertanaman kentang yang dibudidayakan di Jawa, Sumatera, Bali, Lombok dan Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, bagi petani yang sedang mengusahakan tanaman kentang perlu waspada terhadap kehadiran penyakit busuk daun tersebut. Gejala Penyakit ini dapat menyerang daun maupun umbi kentang. Jika penyakit menyerang daun, pada tingkat awal serangan timbul bercak nekrotik pada bagian tepi dan ujung daun. Gejala ini bertahan atau berkembang lambat pada varietas kentang yang tahan penyakit, misalnya varietas Merbabu-17, Cosima, Segunung dan varietas Cipanas atau pada cuaca kering. Pada gejala serangan tingkat lanjut, akan muncul bercak-bercak nekrotik yang berkembang ke seluruh daun tanaman dan menyebabkan matinya bagian tanaman yang ada di atas tanah. Gejala serangan pada daun umumnya muncul setelah tanaman berumur lebih dari satu bulan. Hal ini terutama terjadi pada varietas rentan (varietas yang tidak tahan serangan penyakit) dan kelembaban cukup tinggi pada suhu yang tidak terlalu rendah. Jika penyakit menyerang umbinya, pada umbi kentang yang diserang penyakit tersebut terdapat bercak berwarna coklat atau hitam ungu, masuk ke dalam umbi sedalam 3-6 mm . Gejala ini akan nampak waktu umbi kentang itu digali atau pun waktu umbi kentang tersebut dalam penyimpanan. Gejala penyakit akan nampak lebih jelas setelah penyimpanan dan dapat menutup seluruh permukaan umbi sehingga umbi akan membusuk karena perkembangan penyakit dan adanya organisme sekunder. Hal ini terjadi terutama apabila tidak ada upaya pengendalian terhadap penyakit tersebut. Pengendalian Upaya untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, , fisik/mekanis, biologi atau cara kimiawi. 1. Cara Kultur Teknis Hindari penanaman kentang yang berdekatan dengan tanaman inang seperti tomat, terutama yang lebih tua agar tidak terjadi penularan penyakit. Upayakan lingkungan pertanaman kentang selalu bersih, misalnya membuang/mengumpulkan sisa-sisa tanaman yang terserang kemudian dimusnahkan,misalnya dibakar agar tidak menyadi sumber penyebaran penyakit. Bisa juga dengan menanam varietas yang tahan penyakit busuk daun maupun menggunakan benih kentang/umbi yang sehat, tiak cacat dan benih tersebut bukan berasal dari pertanaman kentang yang diserang penyakit. 2. Cara Fisik/Mekanis Bagian tanaman yang terserang penyakit, terutama pada saat serangan awal dipetik, dimasukkan ke dalam kantong kemudian dimusnahkan/dibakart agar bagian tanaman yang sakit tersebut tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. 3. Cara Biologi Cara pengendalian ini dapat menggunakan agens hayati misalnya dengan cendawan Trichoderna atau Gliocladium dengan dosis penyemprotan 10 gram/liter air ditambah dengan zat perekat. 4. Cara Kimiawi Cara ini baru dilakukan apabila cara-cara pengendalian sulit dilakukan atau serangannya sudah parah dengan fungisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleh pemerintah dengan bahan aktif mankozeb, propinep, klorotalonil atau simoxanil. Cara penggunanaan fungsida tersebut dapat dilihat pada kemasannya. Jika belum paham bisa ditanyakan kepada Penyuluh Pertanian atau petugas pertanian setempat. Penulis : Ir.Muchdat Widodo,MM Penyuluh Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM pertanian Sumber : 1. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Buku tahunan Hortikultura Seri Tanaman Sayuran. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2006 2. Ir.Soekirno,M.Si. Pengenalan dan Pengendalian Penyakit Hortikultura Prioritas. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, 2007. 3. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum) Kab. Bandung Prov.Jawa Barat. Direntorat Budidaya Tanaman Sayuran dxan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010.