Loading...

CANGKANG SAWIT BERMANFAAT SEBAGAI SUMBER ENERGI

CANGKANG SAWIT BERMANFAAT SEBAGAI SUMBER ENERGI
CANGKANG SAWIT BERMANFAAT SEBAGAI SUMBER ENERGI Saat ini kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Krisis energi listrik yang terjad karena semakin menipisnya sumber energi konvensional dan banyak pembangkit listrik di Indonesia menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utamanya. Solusinya dapat memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif yang dapat menjadi bahan bakar subsitusi yang ramah lingkungan, efektif, efisien serta berkelanjutan. Salah satu alternatif energi yang berkelanjutan adalah dari biomas sawit. Biomas tersebut khususnya dari limbah kelapa sawit yakni cangkang dan serabut sawit yang sudah erkumpul di sekitar PKS sehingga tidak memerlukan biaya pengumpulan yang terlalu besar. Bila dikelola, limbah kelapa sawit bisa digunakan sebagai energi alternatif pengganti fosil yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Berbagai studi telah membuktikan pemanfaatan cangkang sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Haris dkk (2013) meneliti Pemanfaatan Limbah Padat dari perkebunan Kelapa sawit pada PLTU di Bangka Belitung. Kemudian Erhaneli dan Elsi (2017) melakukan studi yang sama pada PLTU Muara Bungo. Jika dibandingkan bahan bakar cangkang kelapa sawit, batu bara dan solar (Syafruddin dan Rio, 2013) untuk pembangkit listrik per 10 MWh menunjukkan hal yang menarik sebagai berikut : pertama, diperlukan solar sebesar 648,82 liter atau setara dengan cangkang kelapa sawit (1,2 ton) atau setara dengan batu bara (1,3 ton). Kedua, biaya yang diperlukan ternyata yang paling murah adalah cangkang kelapa sawit. Artinya cangkang kelapa sawit merupakan bahan bakar yang paling murah untuk menghasilkan energi listrik. Sawit adalah “emas hijau” untuk manusia dibumi. Dibandingkan energi fosil, cangkang kelapa sawit merupakan bahan bakar alternatif yang murah dan berkelanjutan. Ketersediaannya tidak perlu diragukan karena luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat luas (Swadaya, Januari 2018) (Peri Hariyanto, Lunang)