Tanaman vanili (Vanilla planifolia) merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang penting bagi negara karena merupakan bahan ekspor ke luar negeri. Tanaman vanili di Indonesia umumnya dianggap sebagai tanaman non tradisional yang dapat menghasilkan devisa bagi negara. Tanaman tersebut dahulu banyak dikembangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merupakan sentra produksi vanili Indonesia.Vanili kini telah banyak dikembangkan di daerah-daerah seperti Aceh, Sumatera Selatan, Lampung dan Bali. Vanili merupakan salah satu komoditas ekspor andalan dari sub sektor perkebunan yang sebagian besar diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat. Luas pertanaman di Indonesia mencapai 16,883 ha. Pada umumnya pengusahaan vanili di Indonesia masih dalam skala kecil, ditanam di pekarangan atau di tanah tegalan sebagai tanaman sela. Tanaman vanili membutuhkan kondisi lingkungan tertentu agar dapat tumbuh subur, menghasilkan buah berkualitas tinggi serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Lingkungan ini dibentuk oleh faktor-faktor yang saling mempengaruhi, yaitu iklim (dibentuk oleh sinar matahari , curah hujan, angin, dan suhu udara, tanah ketinggian tempat di atas permukaan laut, tinggi rendahnya air tanah dan pengairan. Prospek pengembangan vanili di Indonesia nampaknya cukup cerah. Hal ini disebabkan oleh syarat tumbuh yang memadai, jumlah penduduk yang padat sebagai sumber tenaga kerja dalam pengelolaannya. Pengembangan vanili di Indonesia dewasa ini terutama di daerah Bali, Jawa Timur, Jawa Barat dan sebagian kecil di Lampung dan Yogyakarta. Sebagian besar produksi vanili Indonesia digunakan untuk keperluan ekspor, sehingga penanganan cara pembudidayaan dan pengolahan hasilnya harus tepat guna agar mutu vanili yang dihasilkan baik dan dapat memberikan nilai yang besar terhadap devisa negara. Persyaratan tanah untuk penanaman vanili tidaklah begitu sulit, yaitu tanah yang berstruktur lempung berpasir, banyak mengandung humus dengan pH 6-7 dan berdrainase baik. Tanah yang demikian banyak ditemukan di Indonesia. Kendala yang sering terjadi adalah kesuburan atau humus yang kurang. Hal dapat ditanggulangi melalui pupuk alami seperti kompos, pupuk kandang dan lainnya. Iklim yang cocok untuk pengembangan tanaman vanili adalah iklim tropis dengan curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun dengan 80 – 127 hari hujan, disertai dengan 8 – 9 bulan basah dan 3 – 4 bulan kering. Ketinggian tempat tumbuh berkisar antara 50 dan 800 m. Kondisi tidak berawan terutama pada musim kemarau diperlukan agar pembungaan dapat terjadi secara optimal. Suhu yang terbaik adalah kurang dari 20o C, kelembaban berkisar antara 60 dan 80%, dengan intensitas cahaya 30 – 50%. Kondisi ini banyak dijumpai di Indonesia Bagian Barat. Intensitas cahaya yang optimal untuk pertumbuhan normal adalah ± 35%. Terlalu banyak cahaya akan merusak tanaman dan menghambat pertumbuhan. Kendala yang mungkin timbul dalam penyesuaian intensitas cahaya dapat diatasi dengan pengaturan pohon pelindung yang tepat. Tanaman vanili merupakan tanaman hutan dan hidup di bawah pohon-pohon yang rindang karena tidak tahan terhadap sinar matahari. Oleh karena itu dalam bercocok tanam vanili sebelumnya ditanam pohon pelindung seperti dadap tak berduri, lamtoro, kapuk, waru, dan lain-lain. Banyaknya pohon pelindung tergantung pada tinggi rendahnya areal penanaman dari permukaan laut. Makin tinggi dari permukaan laut, makin sedikit naungan yang diperlukan. Menurut Tombe, et al (2002), dalam budidaya tanaman vanili perlu ditanam pohon pelindung atau pohon panjat, seperti gamal sebelum ditanam tanaman vanili. Hasil dari gamal juga dapat meningkatkan pendapatan petani vanili. Tanaman vanili dapat ditanam sebagai tanaman pekarangan, tanaman sela maupun tanaman perkebunan. Vanili dapat diperbanyak melalui stek batang dengan ukuran 50 – 75 cm. Stek yang baik berasal dari tanaman induk yang subur, sehat, berdaun lebar, ruas-ruas batangnya rapat, lingkar batang besar dan belum pernah berbuah atau berbunga. Tanaman vanili yang sudah pernah berbunga atau berbuah tidak baik untuk stek karena energi atau daya tahan tumbuhnya sudah terkuras untuk produksi buah. Pengambilan stek sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan zat pangan dan mineral, tanaman vanili harus dipupuk. Pemupukan vanili dilakukan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau kompos yang berfungsi meremahkan tanah, mempertahankan kelembaban tanah serta memasok zat mineral, karbohidrat,protein dan lemak. Sedagkan pupuk anorganik diberikan melalui tanah maupun daun. Pemberian pupuk daun dapat dilakukan mulai awal musim kemarau dengan interval 1 – 2 minggu sekali. Gandasil D diberikan pada tanaman muda dan gandasil B diberikan saat menjelang pembungaan. Dalam pendekatan pemecahan masalah gangguan penyakit busuk batang vanili, perlu dilakukan perubahan pola pikir pelaku utama di bidang perkebunan, dari pola pikir yang bersifat taktis berjangka pendek menjadi pola pikir yang bersifat strategis yang berjangka panjang. Pengendalian penyakit busuk batang vanili dapat dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan cara pengendalian kultur teknis meliputi penggunaan lahan yang aman, penggunaan bibit yang sehat dan tahan, penggunaan dan pengolahan pohon pelindung, dan pengendalian gulma secara selektif, penyiraman dan pemupukan yang tepat dan bijaksana dan cara pengendalian biologi, misalnya, penggunaan jasad antagonistic (Trichoderma spp., Pseudomonas fourensenes, dll) , penanaman paku-pakuan, penggunaan pestisida nabati. Waktu panen, cara memetik dan pengolahan buah vanili sangat menentukan kualitas vanili kering yang akan dihasilkan. Pemanenan buah vanili harus dilakukan tepat waktu dan cara, agar vanili basah yang diperoleh berkualitas tinggi. Kurang lebih dari 9 bulan setelah pembentukan buah, buah vanili sudah masak. Tanda-tanda mulai masak adalah warnanya berubah dari hijau tua mengkilat menjadi hijau muda suram, pada kulit jangatnya terbentuk garis-garis kecil berwarna kuning yang lambat laun menjadi besar serta ujung buahnya menjadi kuning. Untuk mempertahankan mutu buah, pemanenan harus dilakukan secara seksama. Usaha budidaya suatu komoditas harus melalui kegiatan agribisnis supaya dapat berkembang. Hal ini dikaitkan dengan pasar (pola pikir marketing oriented). Dengan memperhatikan permintaan produk bermutu tinggi, seperti tidak mengandung polutan dan residu pestisida, maka usaha pengendalian penyakit tanaman harus memperhatikan gatra lingkungan (pengendalian hayati).(Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Nurdin, M.2007, Peningkatan Daya Saing Vanili Menunjang Agribisnis Di Provinsi Maluku, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku)