Tebu dengan nama ilmiah Saccharum officinarum L termasuk dalam famili Poaceae atau kelompok rumput -rumputan. Secara morfologi, tanaman tebu dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu batang, daun, akar dan bunga. Tebu telah dibudidayakan sejak ribuan tahun lalu dan mendorong munculnya industri perkebunan gula komersial sejak abad 19. Tebu banyak ditanam didaerah tropis untuk pembuatan gula. Gula merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting. Gula termasuk Sembilan bahan pokok yang pengadaan dan pengaturan harganya langsung ditangani pemerintah. Oleh karena produksi dalam negeri masih belum cukup, maka sejak pertengahan tahun enam puluhan Indonesia mengimport hamper sepertiga kebutuhan gula dari luar negeri, walaupun sebelum kemerdekaan Indonesia pernah menjadi exportir nomor dua di dunia. Gula sebagai salah satu dari Sembilan bahan pokok yang diperlukan saat ini ada di persimpangan jalan, kebutuhan nasional yang mencapai lebih 3,25 juta ton pertahun hanya bisa dipenuhi produk nasional kurang dari 2 juta ton per tahun, sementara kekurangan lebih dari 1, 25 juta ton per tahun masih mengandalkan pasokan import. Sejarah mencatat bahwa pada sekitar tahun1935, Indonesia telah dikenal sebagai Negara pengekspor gula, dengan penguasaan teknologi nya (teknologi tanaman dan teknologi prosesing) telah menjadikan Indonesia sebagai kiblat Negara penghasil gula lainnya, faktanya saat ini mengalami kemunduran dalam beberapa hal : kemunduran di bidang budidaya tanaman tercermin dari rendahnya produktivitas tebu (ton tebu/ha) disbanding dengan produktivitas yang pernah dicapai atau dibandingkan dengan produktivitas tebu negara lain, kemunduran kualitas tebu tercermin dari rendahnya kandungan gula dalam batang tebu, yang terlihat dari tingkat rendemen gula, angka rendemen gula rata rata tahun 1934 di atas 11% saat ini hanya bias dicapai sebesar rata rata 7% saja atau terjadi penurunan sekitar 40%. Secara umum permasalahan yang dihadapi oleh industri gula terjadi pada kegiatan on farm dan off-farm. Disisi on-farm masalah yang cukup menonjol adalah rendahnya tingkat produktivitas gula yang saat ini hanya mencapai kisaran 6 ton/ha. Tanaman tebu merupakan komoditas yang sangat penting sebagai upaya menyeimbangkan kenaikan konsumsi dan ketersediaan gula nasional, sehingga diperlukan upaya peningkatan produktivitas. Salah satu penyebab penurunan produktivitas tebu adalah permasalahan pada penggunaan bibit, biasanya petani susah mendapatkan bibit tebu bermutu Budidaya Eksisting Tebu Budidaya eksisting tebu yang dilakukan oleh petani tebu di suatu daerah biasanya sangat sederhana diantaranya adalah pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pengkeletekan daun dan panen. Pengolahan tanah dilakukansecara sederhana, yaitu dengan melakukan pengolahan tanah hanya dengan membuat lubang tanam. Penanaman tebu hanya dilakukan sebagian 487 kecil petani (5,80%) jika ingin melakukan perluasan kebun. Bibit tebu yang sering digunakan untuk penanaman tebu baru adalah anakan tebu dari kebun yang sudah ada. Bibit tebu dapat berasal dari 2 sumber, yaitu: konvensional dan kultur jaringan. Keberhasilan budidaya tanaman tebu banyak ditentukan oleh faktor kualitas bibit tebu. Bibit tebu yang baik adalah murni, bebas dari hama dan penyakit serta gulma, sehingga mempunyai kecepatan tumbuh yang baik. Pemupukan terhadap tanaman tebu oleh sebagian petani (27,60%) hanya dilakukan dengan menggunakan pupuk organik dengan kompos kotoran sapi, sedangkan pupuk kimia anorganik tidak pernah digunakan. Penyiangan tebu jarang dilakukan, karena sebagian besar petani mengganggap tidak ada permasalahan gulma yang serius pada kebun mereka. Penyiangan secara kimiawi dilakukan oleh sebagian kecil petani (7,8%) dengan herbisida jika pada lahan penanaman baru yang terdapat banyak gulma. Kegiatan pembersihan kebun lainnya adalah pengkletekan daun tua yang dilakukan pada saat panen. Pengendalian hama dan penyakit tidak dilakukan. ditemukan beberapa serangan penggerek batang tebu, namun kerusakan yang ditimbulkan tidak berkembang. Petani menganggap tidak ada permasalahan hama dan penyakit yang serius. Beberapa petani mengungkapkan pada kebun tebu akan ditemukan tikus jika tidak dilakukan pembersihan kebun. Semua petani melakukan panen tanaman tebu dengan cara tebang pilih menggunakan sabit dan anakan yang tumbuh tetap dipelihara, sehingga tidak diperlukan peremajaan khusus. Umur tebu saat panen berkisar satu tahun atau tanaman tebu sudah mencapai ketinggian lebih kurang 2 meter dan berwarna kuning dan jumlah yang dipanen pada setiap rumpun berkisar antara 4-10 batang tergantung pertumbuhan tanaman. Hasil panen tebu selanjutnya disusun diatas sebelah kiri dan kanan motor dan dibawa ke penggilingan. Produksi tebu maksimum dapat diperoleh apabila varietas tebu yang ditanam adalah varietas tebu unggul, kondisi sifat fisik tanah dan iklim optimum untuk pertumbuhan tebu maksimum, selama masa pertumbuhan tercukupi kebutuhan air bagi tanaman tebu, dan tindakan pemberian nutrisi ke tanaman tebu secara optimum. Tindakan budi daya tebu dengan cara memberikan pupuk nitrogen (urea) ke tanah dalam jumlah banyak akan memicu/menstimulasi mikrob memakan karbon organik sehingga tanah menjadi tidak subur.(Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Endrizal. Meilin, A. Profil Budidaya Tebu Lokal Kerinci Di Kecamatankayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Jambi))