Upaya pencapaian swasembada daging sapi yang telah dicanangkan oleh pemerintah dapat dilakukan dengan cara (1). Meningkatkan populasi sapi potong, dan (2). Meningkatkan tingkat produksi daging yang dapat dihasilkan oleh setiap Ekor sapi yang dipotong. Peningkatan populasi sapi potong secara swasembada berarti meningkatkan kemampuan beranak (reproduktivitas) sapi potong induk dan sekaligus meningkatkan mutu sapi pada generasi sapi berikutnya. Guna memenuhi maksud tersebut diperlukan adanya acuan teknologi yang berkaitan dengan peningkatan reproduksi sapi potong induk yang meliputi sistem seleksi, program perkawinan sapi, pola pemberian ransum, pola pemeliharaan Pedet pra-sapih, perkandangan, peningkatan indek kapasitas Tampung (ikt) wilayah, pengolahan limbah pertanian sebagai Pakan, pengawetan pakan hijauan, dan kesehatan sapi. Setelah proses mengawinkan sudah berjalan sempurna, proses selanjutnya adalah memelihara induk sapi bunting hingga melahirkan. Induk harus dijaga kesehatannya agar mampu melahirkan anakan sapi yang bisa diternakkan menjadi sapi potong. Sapi betina yang sudah bunting harus dipisahkan dari kelompok sapi yang tidak bunting dan pejantan. Jika ada lebih dari satu sapi yang bunting, anda bisa memisahkan sapi-sapi bunting di kandang berbeda. Memelihara induk sapi bunting tidak boleh dengan cara kasar. Pakan yang diberikan harus benar-benar diperhatikan, seperti mengandung cukup protein, mineral, dan vitamin. Selama masa pemeliharaan, sapi-sapi bunting bisa disatukan di dalam kandang. Sementara itu, saat menjelang masa-masa melahirkan, sapi dipisahkan ke kandang sendiri yang bersih, kering, dan terang. Induk yang akan bunting akan memiliki beberapa tanda, seperti ambing yang sudah terlihat membesar, membengkak, dan mengeras. Urat daging di sekitaran pelvis terlihat mengendur, pada bagian sekeliling pangkal ekor terlihat mencekung. Terlihat pada bagian vulva juga membengkak dan mengeluarkan lendir. Sapi yang akan melahirkan cenderung mengalami penurunan nafsu makan, tampak gelisah, sebentar berdiri, sebentar berbaring, dan berputar-putar. Tanda terakhir dari sapi akan melahirkan, yaitu sapi jadi lebih sering kencing. Jika sudah keluar tanda-tanda tersebut, segera pisahkan sapi ke kandang khusus melahirkan. Pedet yang baru dilahirkan akan diselubungi oleh lendir yang menutup lubang hidung dan mulut. Segera bersihkan lendir tersebut agar tidak menghambat pernapasan pedet. Selain itu, tekan-tekan dadanya untuk merangsang pernapasan pedet. Potong tali pusar dan sisakan sepanjang 10 cm. Disinfektankan tali pusar tersebut dengan yodium tincture 10 persen. Setelah 30 menit dilahirkan, pedet biasanya sudah bisa berjalan dan menyusu pada puting induk. Saat pedet sudah bisa berjalan, upayakan pedet tersebut menyusu sendiri dengan puting induk. Namun, pastikan puting dan ambing induk sudah dibersihkan. Pedet yang baru dilahirkan harus diberikan tempat pembaringan yang diberikan alas jerami atau rumput kering yang bersih dan hangat. Sebelum diternakkan sebagai sapi potong, pedet membutuhkan perlakuan khusus agar dapat tumbuh optimal menjadi bakalan sapi potong yang bagus. Faktor - faktor yang mempengaruhi kesuburan sapi Induk: Pemberian pakan yang bear, terutama pasca beranak; apabila selama period menyusui sapi induk kurang memperoleh pasokan gizi, maka sering sapi memanfaatkan cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk memenuhi produksi susu bagi pedetnya. Dalam kondisi ini sulit sekalimemperoleh period anestrus postpartum yang optimal (70- 90 hari) dan memperoleh angka konsepsi yang Tinggi. Oleh karena itu selama period menyusui sapi induk harus memperoleh pakan yang baik dan dilihat pada skore kondisi tubuhnya mempunyai skore = 6 - 8. Pemberian mineral dan vitamin; Fosfor adalah mineral yang penting berkaitan dengan mineral ini. Sapi induk menyusui apabila secara rutin memperoleh dedak padi (katul) jarang sekali terjadi defisiensi mineral fosfor. selain itu terdapat beberapa mineral mikro yang berperan dalam kesuburan sapi, tetapi di lapangan sangat sulit memperoleh informasi kandungan mineral mikro dari suatu bahan pakan, oleh karena itu dalam ransum sapi induk selalu diberi campuran mineral lengkap yang beredar di pasaran dan garam dapur. vitamin e merupakan vitamin yang berkaitan dengan kesuburan sapi induk. vitamin e banyak terkandung dalam hijauan segar, sedang hijauan kering/ jeramian sangat rendah kandungan vitamin e Pengamatan reproduksi yang sistematik Deteksi birahi yang sistematik merupakan aktifitas yang penting (tidak dapat diremehkan). minimal 2 kali sehari melakukan pengamatan birahi sapi induk yang kering (tidak bunting). pencatatan ib yang baik dan teratur sangat mutlak dilakukan. jika lebih dari 2 bulan setelah ib terakhir sapi tidak mengalami birahi lagi, patut diduga terjadi kebuntingan. Untuk memastikan sudah terjadi kebuntingan dapat dipanggil petugas asistensi Teknik reproduksi (atr) atau inseminator untuk melakukan pemeriksaan kebuntingn (pkb). Pengamatan birahi setelah beranak; apabila 3 bulan setelah beranak sapi induk belum menunjukkan gejala birahi, maka seharusnya sapi tersebut diperiksakan ke petugas atr untuk memastikan ada tidaknya gangguan reproduksi, misal corpus luteum persisten (adanya indung telur yang tertahankan), atau endometritis (radang rahim) sehingga cepat dapat dilakukan tindakan pengobatan. sistem perkandangan dibuat untuk memudahkan melakukan pengamatan birahi, misal bagian belakang sapi dalam kandang harus ada ruang terbuka. (Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Yusran. Ali,M. Hardini, Dini, Nahdia, Liizza, Arianto, Hendri. 2015. Inovasi teknologi sistem produksi sapi potong induk. Kementerian pertanian)