Tanaman melon yang nama latinnya Cucumis melo.L. merupakan salah satu tanaman buah-buahan semusim yang mempunyai arti penting bagi perkembangan sosial ekonomi, khususnya dalam peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat dan perlusan keksempatan kerja. Konon, sebelum tahun 1980, buah melon hadir di Indonesia sebagai buah impor. Setelah itu, ada beberapa perusahaan agribisnis mencoba membudidayakan melon di daerah Cisarua (Bogor) dan Kalianda (Lampung) dengan varietas Amerika, Taiwan, Jepang, Cina, Perancis, Denmark, Belanda dan Jerman. Perkembangan berikutnya, komoditas hortikultura tersebut banyak ditanam di Ngawi, Madiun dan Ponorogo (Jawa Timur) dan di daerah Jawa Tengah seperti Sragen, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar dan Klaten. Dalam budidaya melon agar tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan buah yang optimal tidak terlepas dari adanya pemupukan. Sebab, untuk tumbuhnya tanamam membutuhkan unsur hara/makanan yang tersedia dalam tanah. Jika tanah tidak dipupuk, cepat atau lambat maka persediaan usnur hara dalam tanah akan berkurang sehingga tanaman tidak dapat tumbuh secara optimal. Pemupukan adalah memberikan unsur hara tambahan atau susulan pada tanaman. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan unsur hara/nutrisi tanaman untuk menjamin pertumbuhan tanaman secara optimal dan menghasilkan produksi dengan mutu yang baik. Jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk organik dan pupuk buatan/pupuk anorganik. Pupuk organik berupa pupuk yang berasal dari kotoran hewan seperti kotoran sapi, kerbau, ayam maupun ternak lainnya yang sudah difermentasikan. Pupuk kandang berguna untuk membantu memulihkan kondisi tanah yang kurang subur, Sedang pupuk buatan dapat berupa pupuk Urea, TSP, KCl, NPK, KNO3, Boron, Superphos, Atonik dan ZPT/PPC sesuai kebutuhan tanaman. Cara Memupuk Pupuk organik (pupuk kandang) diberikan sebagai pupuk dasar yang diberikan pada saat pengolahan tanah atau pada saat pembuatan bedengan tanaman sebanyak 10-20 ton/ha yang dicampur dengan Urea 440 kg/ha, TSP 300 kg/ha dan KCl 330 kg/ha secara merata. . Setelah benih ditanam, diberi pupuk susulan yang dilakukan 3 kali, yaitu 20 hari setelah tanam, 40 hari setelah tanam (saat melakukan penjarangan buah) dan 60 hari setelah tanam (saat buah menginjak proses pematangan buah). Pemupukan susulan I (saat tanaman berumur 20 hari) dengan dosis Urea sebanyak 330 kg, TSP sejumlah 220 kg dan 440 kg KCl per hektarnya. Pemupukan susulan II (sat tanaman berumur 40 ahri) diberi pupuk 220 kg Urea, 550 kg TSP dan 160 kg KCl setiap hektarnya. Sedang pemupukan susulan III (saat tanaman berumur 60 hari) diberi pupuk Urea sebanyak 440 kg/ha. Cara pemberian pupuk susulan tersebut, pupuk disebarkan secara merata di atas tanah bedengan pada pinggiran kiri dan kanan dengan jarak 10-15 cm. Setelah itu, tanah dibalik dengan hati-hati supaya tidak merusak akar tanaman dan pupuk dapat aman terpendam dalam tanah. Perlu diingat pada pertumbuhan vegetatif diperlukan pupuk daun. Pada pemberian pupuk daun dapat dicampur dengan pemberian insektisida dan fungisida yang disemprotkan bersamaan secara rutin sesuai anjuran yang tertera pada label pembungkus insektisida dan fungisida tersebut. Pada penanaman melon yang tidak menggunakan mulsa, bersamaan dengan penyiangan, pembumbunan, penggemburan dan pemberian pupuk susulan, dilakukan pengguludan. Sekitar 3 minggu setelah tanam, beri pupuk Urea, SP-36 dan KCl. Cara memupuknya, pupuk diberikan di sekeliling tanaman pada jarak 3 cm dari batang tanaman, kemudian ditutup dengan tanah dan disiram air. Jika pada saat tanaman berumur 4 minggu pertumbuhannya kurang subur, beri pupuk Urea dan KCl masing-masing sebanyak 15 gram yang diberikan di sekeliling tanaman dengan jarak ± 7 cm dari batang tanaman. Apabila penanaman melon itu menggunakan mulsa, pupuk susulan itu diberikan dengan cara dimasukkan ke dalam lubang mulsa. Cara lain untuk memberikan pupuk susulan pada tanaman melon dapat dilakukan 6 kali. Pemupukan susulan I (7 hari setelah tanam) diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 100 kgl/ha yang dilarutkan dalam air 4.000 liter.Pemupukan susulan II (14 hari setelah tanam) diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 30 kg/ha dan Boron 5 kg/ha yang dilarutkan dalam air 4.000 liter. Pemupukan susulan III (21 hari setelah tanam) diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 36 kg/ha, Superphos 20 kg/ha yang dilarutkan dalam air 4.000 liter. Selain itu, diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 200 kg/ha, Superphos 200 kg/ha dan KCl 100 kg/ha.yang pemberiannya dengan cara ditugalkan dengan jarak 15 cm dari tanaman. Pada pemupukan susulan IV (28 hari setelah tanam) diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 36 kg/ha yang dilarutkan dalam air 4.000 liter. Sedang dalam pemupukan susulan V (42 hari setelah tanam) diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 100 kg/ha, KNO3 20 kg/ha , Superphos 100 kg/ha yang dilarutkan dalam air 4.000 liter. Pada saat pemupukan susulan VI (50 hari setelah tanam) diberi pupuk NPK (16.:16: 16) sebanyak 36 kg/ha, KNO3 30 kg/ha yang dilarutkan dalam air 4.000 liter. Cara pemberian pupuk susulan I s.d pemupukan susulan VI dilakukan dengan cara pupuk yang sudah dilarutkan dalam air tersebut disiramkan/dikocorkan sebanyak 250 ml/pohon dengan menggunakan takaran gelas platik atau takaran lainnya. Apabila tersedia biaya, dapat diberi pupuk PPC yang diberikan pada 1 minggu setelah tanam. Selain itu dapat diberi pupuk Boron pada saat tanaman berumur 14 hari, 21 hari dan 28 hari setelah tanam. Pupuk Boron yang diberikan pada saat tanaman berumur 14 hari dan 21 hari, dosisnya 16 gram/14 liter air (1 tangki Handsprayer) ditambah Atonic 10 ml/14 liter air. Sedang pupuk Boron yang diberikan pada saat tanaman berumur 28 hari setelah tanam dosisnya 16 gram/14 liter air yang ditambah pupuk kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Cara memupuknya, pupuk disemprotkan secara merata pada tanaman . Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan Pertanian Sumber : 1. Ir.Winny Dian Wibawa,M.Sc. Standard Operating Procedure (SOP) Melon Screen House Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Jakarta, 2008. 2. Ir.W.D.Wibawa,M.Sc. Standard Operating Procedure (SOP) Melon Screen House Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Jakarta, 2009. 3.Drs.Arief Prahasta,MP. Budidaya-Usaha-Pengolahan Agribisnis Melon.C.V.Pustaka Grafika, Bandung, 2009. 4. Anonimmous. Melon (Cucumis melo L). Kantor Deputi Menegristek. Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 5. Andri Daniel, SP; Budidaya Melon Hibrida,Penerbit Pustaka Baru Press