Pekarangan yang sempit dapat kita manfaatkan menanam tanaman obat keluarga (TOGA) dengan menggunakan polybag. Tanaman toga jika ditanam secara vertikultural beberapa penelitian menunjukkan perumbuhan yang optimal. Jenis tanaman yang dapat dikembangkan diataranya: jehe, temulawak, kunyit, kumis kucing, dan sambiloto. Toga sangat penting untuk dikembangkan dipekarangan, mudah didapat jika sewaktu-waktu dibutuhkan sebagai obat bagi kelurga yang sakit. Olehnya itu dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi keluarga, diperlukan teknologi budidaya toga agar berproduksi optimal. Tahapan budidaya teknologi tanaman obat keluarga (toga) terdisri dari: Persiapan dan penanaman Persiapan media tanam: tanah yang akan digunakan sebagai media tanam diolah dengan menggunakan cangkul atau skop dan diberi pupuk kandang sebagai pupuk dasar sebanyak 1-2 kg dengan perbandingan 2:1 Tanah yang diolah dimasukkan dalam media polybag ukuran 50 x 50 cm atau meneysuaikan jenis tanaman toga yang akan ditanam. Pindahkan bibit tanaman dengan sedikit tanah Penanaman dapat dilakukan pada pagi dan sore hari, dengan memasukkan tanaman sampai batas leher akar. Benih tanaman toga berupa rimpang yang telah disiapkan kemudian ditanam kedalam polybag dangan lubang berukuran 5-10 cm dan kedalaman 20 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas. Pemeliharan Tanaman Rimpang tanaman toga yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk, maka dilakukan penyulaman. Peyiangan biasanya dilakukan secara rutin setiap 2-3 minggu sekali. Tanaman toga yang berasal dari rimpang termasuk tanaman tidak tahan air. Sehingga diperlukan pengaturan pengairan secara optimal, agar tanaman terbebas dari genangan air sehingga rimpang tidak membusuk. Pemupukan dilakukan denagn menggunakan pupuk cair atau pupuk urea yang dilarutkan terlebih dahulu dengan dosis 1 sendok makan dilarutkan dalam 5 liter air. SP36 dan KCL diberikan satu kali saja sebagai pupuk dasar. Pemupukan selanjutnya diberikan setelah tanaman berumur 3-4 bulan denagn pupuk kandang sebanyak 1-2 kg. Lakukan penyiraman sebanyak 2 kali sehari yakni pagi dan sore pada awal pertumbuhan. Pengendalian hama penyakit secara organik Pertanian organic menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan non kimia dilakukan secara terpadu sejak awal penanaman untuk mencegah serangan hama dan penyakit yang disebut dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) terdiri dari beberapa komponan sebagai berikut: Menggunakan bibit unggul , sehat , bebas dari hama dan penyakit serta bernas dan cukup umur panen (10-12 bulan) Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami Menggunakan varietas- varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Melakukan pengendalian fisik/mekanik secara manual yaitu dengan tenaga manusia Melakukan rotasi tanaman pada setiap masa tanam, untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial. Atau melakukan penanaman tumpangsari dengan memilih tanaman yang saling menunjang. Menggunakan fungisida, insektisida, dan herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen maupun pada tanah. Penggunaan pestisida hanya dapat digunakan pada kondisi darurat. Panen Tanaman toga yang berasal dari rimpang siap dipanen ditandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetative, seperti terjadinya kelayuan /perubahan warna daun dan batang yang semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati) sampai kering. Cara penen: membongkar rimpang. Rimpang yang yang telah dibongkar dipisahkan dari tanah yang melekat. Rimpang akan ditanam kembali (dibibitkan) jangan dibersihkan dangan air kerena akan mempercepat proses pembusukan sebaiknya dibiarkan kering tanah kemudian dihamparkan di rak-rak bambu. Sumber : Balitbangtan Penyusun : Marwayanti Nas