Oleh : Pamulatningsih Singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Manihot esculenta crantz di Indonesia dikenal dengan nama; singkong, kasepe, ketela, ubi kayu, dan dalam bahasa inggris disebut cassava. Tanaman singkong dalam sistematika tanaman termasuk kelas Dicotyledoneae, dan termasuk family Eupohorbiaceae, genus Manihot yang memiliki 7.200 spesies. Tanaman singkong merupakan tanaman perdu yang memiliki umbi atau akar pohon yang panjang dengan rata-rata diameter 2-3cm dan panjang 50–80 cm tergantung dari varietas singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau putih agak kekuningan. Semenjak dahulu, nenek moyang kita telah mengkonsumsi singkong sebagai makanan sumber karbohidrat. Daun singkong dapat diolah menjadi sayuran, kulit singkong dapat diolah menjadi keripik kulit singkong atau sebagai pakan ternak. Kini, umbi singkong telah diolah menjadi aneka bahan baku aneka industri seperti; tapioka, tepung mocaf, nata de cassava, gula cair, sorbitol, bioetanol, thiwul instan, dan berbagai makanan camilan banyak disukai oleh masyarakat kita seperti gethuk goring, telo cake, bapia telo, ceriping singkong, dan lain-lain. Aneka olahan singkong tersebut, telah mampu meningkatkan nilai tambah komoditas singkong. Melihat berbagai potensi yang dimiliki komoditas singkong untuk dikembangkan menjadi berbagai macam produk olahan, maka singkong merupakan komoditas unggulan yang layak untuk dikembangkan di Indonesia. Selain ketersediaan lahan yang luas, Indonesia juga memiliki iklim dan tanah yang cocok untuk mengembangkan komoditas singkong, terlebih lagi tanaman ini mampu tumbuh di dataran tinggi dan rendah dan tidak mengenal musim. Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk mengembangkan produk-produk berbasis singkong, karena di samping memiliki lahan yang luas tapi juga iklim yang cocok. Pengembangan produk olahan singkong akan mendukung ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Cara Membuat Tepung Mocaf Tanpa Enzim Siapkan bahan baku utama, yaitu singkong kemudian kupas kulit singkong tersebut. Lanjutkan dengan membersihkan lendir pada ubi setelah mengupas kulitnya. Cara membersihkan lendir ubi bisa dengan cara direndam kedalam air kapur sirih selama semalaman. Saat merendam, posisi singkong harus terendam penuh agar tidak mengalami oksidasi. Untuk dosis kapur sirih yang diperlukan adalah 1 ons per satu kuintal ubi kupasan segar. Potong-potong singkong hasil rendaman tersebut seperti membentuk chips atau keripik yang biasa dimakan. Rendam penuh hasil potongan chip-chip tersebut selama 3 hari 3 malam dengan air bersih. Ganti air rendaman setiap 24 jam. Air bekas rendaman silahkan endapkan untuk diambil tepung tapiokanya. Setelah direndam selama 3 hari, angkat chip dan tiriskan agar kadar airnya berkurang. Untuk mempercepat, silahkan press chip terserbut dengan alat press agar kadar airnya cepat berkurang. Jemur chips tersebut sampai kering, usahakan kadar airnya tidak lebih dari 12%. Lakukan penggilingan chip kering tersebut untuk diproses menjadi teung mocaf. Silahkan ayak hasil tepung tersebut dengan ayakan mesh 80, untuk mensortir tepung yang masih kasar. Jika ada yang masih kasar bisa dilakukan penggilingan kembali. Campurkan tapioka yang sudah dikeringkan (lihat langkah no.4) lalu jemur ulang sampai kering. Packing tepung mocaf yang sudah jadi tersebut kedalam tempat yang sudah disediakan seperti wadah plastik dan tutup rapat. Manfaat tepung mocaf yang sudah jadi tersebut bisa digunakan untuk membuat berbagai macam olahan seperti roti atau kue, atau bahkan bisa dijual kepasar.