Penyakit blas (Pyriculariagrisea) merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada pertanaman padi gogo dan sekarang sudah menjadi kendala serius pada padi sawah.Hal ini menjadi pentingartinya, terutama dengan adanya perluasan padi gogo ataupun penggunaan padi unggul yang rentan terhadap blas.Penyakit blas, dapat menurunkan hasil sampai mencapai 70% (Chin, 1975) menginfeksi pada semua stadia pertumbuhan tanaman yaitu daun, buku, leher malai, namun jarang menyerang pada bagian pelepah daun. Keadaan suhu yang kondusif pada kisaran 28°C. Suhu demikian umum nya ditemukan di wilayah-wilayah pengusahaan padi gogo, maupun padi sawah sehingga blas dapat berkembang biak dan menyebabkan kerusakan yang serius atau sering mengakibatkan puso. Berdasarkan literatur, penyakit ini mulai pertama kali menyebar pada tahun 1637 di China, kemudian menyebar luas ke seluruh dunia termasuk pada tahun 1996 di daratan Amerika.Cukup menarik mempelajari penyakit ini, terutama tentang bagaimana penyakit ini begitu mematikan dan bagaimana langkah-langkah pengendaliannya.Dan satu hal yang pasti adalah bahwa masih banyak petani yang belum faham tentang bagaimana mengendalikan penyakit blas ini. Pengertian Penyakit blas disebabkan oleh infeksi atau serangan jamur Pyricularia grisea. Penyakit blas punya banyak sebutan seperti potong leher, busuk leher dan lain-lain.Siklus jamur Pyricularia grisea tergolong singkat, kira-kira 1 minggu. Artinya untuk menghasilkan spora baru dibutuhkan waktu 1 minggu sejak infeksi spora lama (ciri-ciri infeksi yakni munculnya bercak belah ketupat pada daun). Kemudian dari 1 bercak tadi terus berkembang hingga menimbulkan ratusan hingga ribuan spora baru.Sebagaimana penyakit lain yang disebabkan jamur, Pyricularia grisea berkembang pesat pada kelembaban yang tinggi atau curah hujan tinggi. Kondisi iklim yang basah dan berembun adalah kondisi yang sangat mendukung perkembangan penyakit blas. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan Penyakit Blas Inang utamanya yaitu padi dengan inang alternatif adalah rerumputan (Digitariacilaris, Echinochloacolona) (Teng et al, 1991) serta dapat juga memanfaatkan jagung untuk mempertahankan hidupnya. Miselia patogen tersebut dapat bertahan selama setahun pada jerami sisa-sisa panen.Fase penetrasi spora cendawan ini hanya membutuhkan waktu yang singkat yaitu 6 – 8 jam, menginfeksi melalui stomata, dan periode laten untuk memproduksi kembali spora juga tergolong singkat sekitar 4 hari (Hashioka, 1985). Faktorlain yang mendukung perkembangan blas adalah keadaan kelembaban sekitar 90%. Faktor pemicu lainnya adalah pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi. Kehilangan hasil yang besar juga sering ditemukan pada infeksi leher malai. Penanaman dengan jarak tanam yang rapat serta pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa menggunakan kalium menciptakan iklim meso dan media tumbuh yang kondusif untuk berkembangnya penyakit blas pada leher malai (Ismunadji et al, 1976). Gejala khas pada malai yang sering ditemukan yaitu adanya bercak kehitaman dengan malai yang patah, atau bulir yang mengering dan hampa. Gejala Serangan Penyakit BlasJamur Pyricularia grisea bisa menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman padi yakni pada fase vegetatif dan generatif.1. Pada fase vegetatif (pertumbuhan)Serangan pada fase ini menimbulkan gejala bercak berbentuk belah ketupat pada daun padi. Warna bercak tersebut kecoklatan. Gejala ini disebut dengan blas daun (leaf blast). Pada tingkat serangan yang parah dan tanpa pengendalian, berakibat pada kematian 2. Pada fase generatif (pembuahan)Pada fase ini blas menyerang bagian tangkai malai, sehingga menimbulkan gejala bewarna coklat pada malai padi. Gejala ini disebut blas leher (neck blast). Pada tingkat serangan yang parah, berpotensi puso. Karena proses pengisian biji/bulir menjadi terganggu, sehingga banyak bulir yang kosong/hampa. Cara Pengendalian Penyakit Blas pada Tanaman Padi 1. Menggunakan varietas yang toleran dan tahan, terhadap penyakit blas sehingga resiko terkena penyakit blas dapat dicegah sedini mungkin.2. Menggunakan benih sehat dan perlakuan fungisida, yakni dengan perendaman benih dengan fungisida sistemik sebelum ditanam serta aplikasi hingga menjelang fase awal berbunga. Bahan aktif fungsida sistemik yang teruji efektif dalam mengendalikan penyakit blas misalnya benomyl, trisiklazole dan karbendazim.3. Melakukan penanaman serempak, dengan tujuan agar tanaman padi berada pada fase yang sama sehingga perkembangan dan penyebaran sumber inokulum penyakit blas di lapangan dapat ditekan, dan tidak menyebar pada penanaman padi selanjutnya.4. Pengaturan jarak tanam, yaitu menggunakan jarak tanam yang lebih lebar (jajar legowo). Jarak tanam yang lebar dapat mengurangi tingkat kelembapan sehingga jamur patogen tidak mudah berkembang.5. Melakukan pergiliran tanaman, dengan tanaman padi yang berbeda varietas pada setiap musim tanamnnya. Hal ini bertujuan untuk mencegah patahnya ketahan suatu varietas.6. Melakukan pengamatan rutin, agar jika ada indikasi serangan dapat segera diambil tindakan sanitasi sehingga tidak sampai telat.7. Melakukan sanitasi lahan, dengan membersihkan gulma atau rumput karena beberapa jenis rumput bisa menjadi inang daripada penyakit blas.8. Menerapkan pola pemupukan yang tepat dan berimbang, agar tanaman padi sehat dan tahan. Penggunaan pupuk nitrigen yang berlebihan menyebabkan tanaman lebih rentan serangan berbagai penyakit. Sumber : BelajartaniEdit :Syahdanur