Perkembangan jumlah penduduk dari tahun ke tahun mengakibatkan semakin meningkat pula kebutuhan pangan umum dan secara khususnya permintaan daging. Daging merupakan sumber pangan yang memilki nilai gizi yang lengkap dan murah. Sumber penghasil daging masih bertumpu pada ternak ruminant (sapi dan kerbau), karena muda pemeliharaan dan sumber pakan yang melimpah terutama pada sebagian besar daerah di Indonesia. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan ternak kerbau adalah sebagai berikut para peternak masih kurang pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya manajemen peternakan yang efisien, kehidupan dan nasib ternaknya masih diserahkan kepada kearifan alam, sumber pakan hanya semata-mata dari padang penggembalaan yang fluktuasi produksinya, sangat ditentukan oleh dinamika iklim dan musim hujan. Usaha Penggemukan Kerbau Dengan Sistem Kandang Kelompok Proses penggemukan kerbau secara berkelompok dianggap penting karena permintaan kerbau siap potong akan terus meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, harus dapat dipenuhi karena merupakan sumber pendapatan daerah dan income peternak. Akan tetapi bila bobot potong dan presentasi karkas yang rendah akan mengakibatkan jumlah ternak yang dipotong akan semakin banyak. Penggemukan ternak merupakan usaha untuk mempercepat dan meningkatkan bobot potong ternak kerbau dalam waktu yang singkat. Perlu dilakukan penggemukan ternak dalam satu lokasi kandang kelompok dengan pemberian pakan yang lebih baik. Pakan yang diberikan merupakan bahan yang tersedia seara melimpah di daerah tersebut, sehingga biaya pakan dapat di tekan serendah mungkin dengan pertambahan bobot badan cukupbaik dan menguntungkan bagi kelompok/peternak. Perbaikan manajemen ternak kerbau mutlak perlu dilakukan mengingat ternak kerbau merupakan ternak yang cukup berkembang dan mempunyai nilai sosial budaya yang tinggi umumnya. perlu adanya perhatian pemerintah setempat dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak ini. pertambahan bobot badan ternak kerbau sekitar 0,3 – 0,9 kg/ekor/hari. penggemukan kerbau dengan jerami fermentasi dan konsentrat selama 62 hari diperoleh PBBH sekitar 0,82 - 0,87 kg/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kerbau mempunyai potensi dan peluang yang cukup baik sebagai alternatif penghasil daging, disamping mempunyaai nilai sosial budaya penting. Perbaikan manajemen ternak kerbau perlu dilakukan secara baik dan berkesenambungan dengan pembinaan teknis dan non teknis kepada peternak, karena ternak kerbau mempunyai potensi dan peluang yang cukup baik sebagai alternatif penghasil daging dalam mendukung kecukupan daging nasional, disamping mempunyai nilai sosial budaya penting dan tinggi secara khusus di pulau Sumba. Rendahnya produktivitas ternak kerbau, mengakibatkan terkurasnya/penurunan populasi ternak dan faktor penyebab internal adalah lama bunting, jarak beranak yang panjang, sedangkan faktor eksternal adalah pakan dan sosial budaya harus diperhatikan oleh peternak dan pemangku kebijakan. (Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Hendrik Hunga Marawali, Perbaikan Manajemen Pemeliharaan Ternak Kerbau Untuk Meningkatkan Produktiviatas Menunjang Program M-P3mi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur)