Di Jepang, petani semangka umumnya menggunakan bibit vegetatif. Penggunaan bibit vegetatif ini untuk menghindari risiko serangan penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum (EFS)f. niveum Snyder. Lahan petani semangka tercemar rata secara endemik oleh patogen penyakit layu ini. Hal ini sebagai akibat dari pengusahaan lahan komersial secara luas pada saat itu (awal budi daya semangka di Jepang) tanpa disertai sanitasi lahan. Selain itu, cara budi daya yang dilakukan pada saat itu masih bersifat tradisional. Inilah yang menyebabkan petani semangka di Jepang menggunakan bibit vegetatif. Tanpa bibit itu, petani tak akan berhasil memanen semangkanya. Di Indonesia, penyakit layu ini belum menjadi masalah bagi pembudidayaan semangka. Namun demikian, usaha penekanan dan pencegahan penyakit ini harus senantiasa dilakukan. Yaitu, dengan menggunakan benih yang sehat dan unggul, sanitasi areal tanam secara optimal, dan mengadakan pergiliran tanaman. Perbanyakan tanaman semangka secara vegetatif dilakukan dengan dua cara, yaitu pengentenan dan menyusukan. Sebagai pohon pangkal digunakan tanaman labu air atau dapat pula waluh. Adapun lebih rinci untuk melakukan penyusuan adalah sebagai berikut : Penyusuan beberapa hal yang harus diperhatikan pada penyusuan adalah sebagai berikut : - Biji labu air sebagai pohon pangkal dan biji semangka sebagai pohon atas disemai bersamaan waktunya. - Biji labu air disemai di dalam pot plastic ukuran 12 cm; biji semangka disemai di dalam pot plastik yang lebih kecil, berukuran 5 cm. Sebagai media semai digunakan kompos halus. - Penyusuan keduanya (labu air dan semangka) dilakukan pada umur 15 hari. - Agar penyusuan lebih mudah (batang bawah lebih mudah menyatu dengan batang atas), maka pada batang bawah dibuat irisan bersudut 35-400 sedalam ½ diameter batang; batang atas dibuat irisan bersudut 25-300 sedalam 1/3 diameter batang. - Penyatuan batang bawah dan batang atas dilakukan secara hati-hati dan pas sesamanya. - Pot-pot susuan diletakkan di tempat yang teduh, dingin (suhu ±200 C), lembap, dan tidak berangin. - Setelah 10-12 hari, biasanya penyusuan telah terjadi. Namun, pemotongan akar pohon atas semangka sebaiknya dicoba dahulu pada beberapa pohon. Setelah pasti penyusuan terjadi, barulah pemotongan akar itu dilakukan terhadap seluruh tanaman susuan. - Untuk membuat irisan pada pohon atas dan pohon bawah digunakan pisau silet, sedangkan untuk menyatukan susuan digunakan klip atau penjepit lunak dari plastik. - Waktu yang diperlukan untuk satu penyambungan susuan adalah 12-15 menit. Cara penyusuan - Pohon pangkal labu air berumur 15 hari siap disusukan - Pada pohon pangkal labu air dibuat irisan bersudut 35-400 sedalam ½ diameter batang - Pada pohon atas semangka dibuat irisan bersudut 25-300 sedalam 1/3 diameter batang. - Penyatuan dilakukan dengan hati-hati dan sesamanya - Setelah 10-12 hari, penyusuan telah terjadi, akar pohon atas semangka dipotong Sumber : Mochd Baga Kalie, Bertanam Semangka, 1993, Depok