Loading...

CARA PERBANYAKAN PALA MELALUI SAMBUNG PUCK SECARA EPICOTYL GRAFTING DENGAN TINGKAT KEBERHASILAN TINGGI

CARA PERBANYAKAN PALA MELALUI SAMBUNG PUCK SECARA EPICOTYL GRAFTING DENGAN TINGKAT KEBERHASILAN TINGGI
Perbanyakan tanaman pala pada umumnya masih dilakukan secara generatif yaitu dengan biji yang akan menghasilkan tanaman betina berkisar 55%, jantan 40% dan hermafrodit (berumah satu) 5%. Perbandingan jenis kelamin (sex ratio) tersebut baru bisa diketahui setelah tanaman pala memasuki fase generatif (berbunga) yaitu pada umur 6-8 tahun. Pala yang diperbanyak secara generatif apabila ditanam di lapang tidak dapat menghasilkan perbandingan yang ideal antara tanaman betina dan jantan yaitu 8:1, sehingga akan terjadi kelebihan jantan dan tercampur dengan hermafrodit dengan demikian budidayanya tidak efisien. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah tersebut di atas adalah melalui perbanyakan vegetatif secara epicotyl grafting. Melalui cara tersebut penyediaan benih pala lebih cepat 3-4 bulan, perbandingan antara jantan dan betina yang ideal di lapang dapat ditentukan sejak dini (saat penanaman) dan dipastikan mempunyai sifat-sifat unggul seperti induknya serta berproduksi lebih awal (umur ‡ 3 tahun setelah tanam) dengan vigor tanaman lebih pendek namun bercabang tetap banyak sehingga memudahkan panen buah. Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaran rempah asli Indonesia, sudah dikenal sebagai tanaman rempah sejak abad ke-18. Sampai sat ini Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia (70 - 75 %). Perkebunan pala di Indonesia sebagian bear diusahakan oleh rakyat yaitu sekitar 98,84%, dengan pola budidaya ekstensif, jarang dipelihara dan umur tanamannya rata-rata sudah tua (> 30 tahun). Sentra produksi pala di Indonesia antara lain kepulauan Maluku, Sulawesi Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Komoditas pala yang diperdagangkan di pasaran dunia dalam bentuk biji, fuli (disebut juga dengan bunga pala) dan minyak atsiri. Sedangkan daging buah banyak digunakan untuk industri makanan dan minuman di dalam negeri. Biji dan fuli digunakan dalam industri pengawetan ikan, pembuatan sosis, makanan kaleng dan sebagai adonan kue, karena aroma minyak atsiri dan lemak yang dikandungnya meningkatkan nafsu makan. Minyak pala dari hasil penyulingan merupakan bahan baku industri obat-obatan, sabun, parfum dan sebagainya. Pala termasuk tanaman berumah dua (dioecious), yaitu memiliki bunga jantan dan betina yang berada pada pohon yang berbeda sehingga dikenal ada tanaman jantan, betina dan hermafrodit (berumah satu). Buah hanya dihasilkan oleh tanaman betina dan hermafrodit. sedangkan tanaman jantan hanya menghasilkan bunga saja yang diperlukan untuk penyerbukan. Tanaman betina lebih banyak menghasilkan buah dibandingkan dengan yang hermafrodit, sehingga untuk tujuan komersial seharusnya yang dikembangkan adalah tanaman betina dan jantan saja dengan perbandingan 8:1. Namun ketersediaan bahan tanaman yang telah diketahui jenis kelaminnya masih merupakan masalah dalam budidaya pala. Sampai saat telah diketahui jenis kelaminnya mash merupakan masalah dalam budidaya pala. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat digunakan untuk mengetahui secara tepat jenis kelamin tanaman pala pada sat masih di pembibitan. Perbanyakan tanaman pala sampai sat ini masih dilakukan secara generatif yaitu dengan biji. Pada umumnya dari 100, biji yang menjadi tanaman betina hanya 55 %, sedangkan yang lainnya adalah jantan (40%) dan hermafrodit (5 %). Perbandingan jenis kelamin (sex ratio) tersebut baru bisa diketahui setelah tanaman pala memasuki fase generative (berbunga) yaitu pada umur 6-8 tahun. Oleh karena itu tanaman pala yang diperbanyak secara generatif apabila ditanam di lapang tidak dapat menghasilkan perbandingan yang ideal antara tanaman betina dan jantan (8:1), schingga akan terjadi kelebihan tanaman jantan dan tercampur dengan hermafrodit dengan demikian budidayanya tidak efisien. Selain itu posisi antara tanaman betina dan jantan kemungkinan berjauhan sehingga produksi buahnya rendah, karena banyak bunga betina yang tidak terserbuki oleh bunga jantan. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah tersebut di atas adalah melalui perbanyakan vegetatif. Melalui cara tersebut perbandingan antara jantan dan betina yang ideal di lapang dapat ditentukan sejak dini (sat penanaman) dan dipastikan mempunyai sifat-sifat unggul seperti induknya serta berproduksi lebih awal (umur + 3 tahun setelah tanam) dengan vigor tanaman lebih pendek namun bercabang tetap banyak sehingga memudahkan panen buah. Perbanyakan pala secara vegetatif di Indonesia belum banyak dilaporkan diduga keberhasilannya masih rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbanyakan pala melalui sambung puck secara epicotyl grafting dengan menggunakan batang bawah berumur 20-30 hari adalah car yang terbaik dengan tingkat keberhasilan mencapai 80-90%. Epicoty/adalah tunas embriotik di atas kotiledon. Dengan demikian epicotyl grafting adalah sambung puck dengan menggunakan bagian batang bawah di atas kotiledon. Tujuan cara penyambungan pada bagian tunas embriotik in adalah agar penyembuhan luka cepat terjadi dan kalus cepat terbentuk schingga jaringan batang atas dan batang bawah cepat bersatu/bertaut. Perbanyakan pala dengan menggunakan umur batang bawah yang lebih tua (umur 3-4 bulan) tingkat keberhasilannya sangat rendah < 20 %. Melalui perbanyakan secara epicotyl grafting bahan tanaman pala dapat tersedia lebih cepat 3-4 bulan karena tidak memelihara batang bawah terlalu lama. Oleh karena itu untuk tujuan pengembangan pala pada eshailnva menoonnakan henih hasil perbanvakan vegetatif (epicotv/+grafting), baik untuk penanaman baru maupun rehabilitasi tanaman jantan dan hermaprodit yang tidak diperlukan serta tanaman tua yang tidak produktif. Persyaratan Benih Benih berasal dari buah yang telah masak berumur + 10 bulan. Tanda buah yang masak antara lain kulit buah berwarna kusam, kuning kecoklatan. Sebaiknya benih diambil dari buah yang terbelah di pohon Benih yang berasal dari buah yang masak berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap dan fuli berwarna merah Bobot benih minimal 15 g/butir. Bebas hama dan penyakit Benih pala harus segera disemai selambat-lambatnya 24 jam setelah dikeluarkan dari kulit buah dan fulinya Penyemaian Benih Siapkan tempat penyemaian yang terbuat dari plastik atau kayu yang dilubangi bagian bawahnya (untuk drainase air penyiraman). Isi dengan serbuk sabut kelapa (cocopeat) atau serbuk gergaji yang sudah lapuk. Siram dengan air bersih seperlunya namun jangan sampai tergenang, cukup lembab saja. Letakkan benih pala terpilih dengan posisi tidur dalam bentuk barisan yang teratur dengan jarak tanam 0,50 x 1 cm atau 1 x 1 cm Selanjutnya tempqt penyemaian ditutup dengan karung goni atau koran basah untuk menjaga kelembaban Tumbuhnya tunas kecambah menandakan benih sudah sap dipindahkan ke pembibitan pada polybag Tunas akar tumbuh setelah benih berumur + 1,5 bulan setelah semai Tunas kecambah tumbuh setelah benih berumur ‡ 2,5 bulan setelah semai. Penanaman Benih dalam Polibag Siapkan polibag ukuran 20 x 25 cm. Isi 3/4 bagian polibag dengan media tanam campuran tanah dan pupuk kandang (kambing, sapi, kompos) dengan perbandingan 2:1. Isi bagian atas polibag (1/3 bagian) dengan serbuk sabut kelapa atau serbuk gergaji yang sudah lapuk Buat lubang tanam tepat di tengah polibag, kemudian tanam benih yang sudah berkecambah. Siram dengan air secukupnya. Pada waktu penanaman akar benih harus lurus agar pertumbuhannya optimal.Simpan polibag yang telah ditanami benih secara teratur di tempt pembibitan. Untuk menciptakan keadaan lingkungan yang coco bag pertumbuhan awal tanaman, sebaiknya intensitas cahaya dan daya rusak air hujan dikurangi dengan cara tempat pembibitan diberi naungan yang terbuat-dari daun kelapa, alang-alang, atau paranet yang diberi plastik transparan bagian atasnya (sebaiknya menggunakan plastik UV) dengan intensitas cahaya masuk + 25 %. Benih sip digunakan sebagai batang bawah setelah berumur 20-30 hari, yaitu setelah mempunyai 2-3 helai daun muda.(Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Teknik Perbanyakan Pala Betina Dan Jantan Melalui Epicotyl Grafting Kementerian Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 2013)