Ditengah pandemic covid 19 kita dituntut untuk tetap produktif. Musibah ini memaksa kita melakukan pergeseran sosial. Kita dituntut untuk melakukan social distancing dan kampanye besar-besaran pemerintah untuk melakukan aktifitas dari rumah saja. Salah satu kegiatan yang muda dilakukan adalah memanfaatkan pekarangan rumah untuk budidaya cabai dalam polybag. Budidaya cabai tidak hanya dilakukan pada lahan yang luas tapi juga dapat dibudidayakan di dalam pot/polybag yang lahan pekarangannya sempit seperti di daerah perkotaan. Budidaya dengan sistim ini relatif lebih mudah untuk dilakukan. Salah satu cabai yang paling cocok untuk ditanam di pekarangan rumah adalah jenis cabai rawit dan cabai keriting. Jenis cabai ini sangat cocok untuk ditanam di iklim tropis dan rasanya pedas juga disukai oleh banyak orang. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Tetapi baiknya cabai ditanam pada daerah yang berada pada ketinggian 0-2000 meter di atas permukaan laut. Sedangkan suhu yang cocok berkisar 24-27oC, tetapi masih bisa bertahan terhadap suhu dibawah itu. Hal itu tergantung pula dengan jenis cabai yang ditanam. Untuk menanam cabai di dalam polybag atau pot sebaiknya tidak langsung dilakukan dari benih. Proses pertama yang harus dilakukan adalah menyemaikan benih. Hal ini untuk menyeleksi bibit cabai, agar bibit yang tidak bisa tumbuh dengan baik karena cacat atau memiliki penyakit tidak ditanam. Proses ini juga bertujuan untuk menunggu agar bibit cabai tumbuh cukup kuat untuk ditanam di tempat yang lebih besar. Persemaian benih dapat dilakukan di polybag, rumah plastik, kotak kayu, baki atau membuat petakan tanah. Media persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk kandang atau kompos (1:1). Masukkan media ke dalam kotak persemaian. Untuk persemaian di bedengan persemaian, tempat persemaian berupa bedengan berukuran lebar 1 m dan panjang sesuai dengan kebutuhan, diberi naungan atap plastik transparan yang menghadap ke timur. Penyemaian benih disebar secara merata pada alur yang berjarak 5 cm pada tempat persemaian, kemudian ditutup dengan lapisan tanah halus dan disiram secukupnya kemudian kotak semai ditutup dengan daun pisang atau karung basah. Bila bibit-bibit cabai sudah mulai tumbuh, buatlah penutup dari plastik transparan untuk melindungi bibit cabai kecil dari air hujan dan panas matahari langsung. Salah satu tanda bibit cabai sudah siap untuk ditanam adalah sudah adanya 3-4 helai daun dan bibit telah berumur sekitar 1 bulan. Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan media tanam. Gunakan pot atau polybag dengan ukuran minimal 30 cm, agar media tanam bisa menopang pertumbuhan cabai yang subur. Bila kesulitan untuk mendapatkan polybag bisa menggunakan media tanam lain seperti pot plastik, kantong semen. Bisa juga menggunakan wadah bekas yang tidak terpakai, lubangi bagian bawah agar bisa mengalirkan air. Untuk menanam cabai di dalam polybag bisa memakai media tanam dari campuran tanah, pupuk kandang, kompos, arang, sekam padi, atau bahan lain yang serupa. Selanjutnya adalah bibit yang sudah tumbuh cukup besar pindahkan dari tempat penyemaian ke dalam media tanam. Ketika memindahkan bibit cabai usahakan ketika suhu tidak terlalu panas, idealnya pada waktu pagi dan sore hari, dimana matahari tidak terlalu terik sehingga tanaman terjaga dari sengatan sinar matahari langsung. Lakukan pemindahan dengan hati-hati, perhatikan akar tanaman agar jangan sampai rusak. Buatlah lubang pada media tanam sedalam 5-7 cm. Bila pembibitan dilakukan di dalam polybag maka pindahkan bibit cabai bersamaan dengan polybag ke tempat yang lebih besar. Seperti halnya dengan tanaman yang lain, tanaman cabai memerlukan perawatan rutin agar bisa tumbuh dengan baik. Perawatan pada cabai meliputi penyiraman, pemberian pupuk, perempelan, pemasangan ajir, dan membersihan dari gangguan gulma serta pengendalian hama dan penyakit. Selain menanam cabai dalam polibag di pekarangan rumah, hal lain yang bisa dimanfaatkan adalah limbah rumah tangga yang sangat berperan dalam proses budidaya yang berdampak pada kelestarian lingkungan yang mungkin sebelumnya hanya terbuang begitu saja, misalnya sampah rumah tangga dan air cucian beras. Dampak pada pasar memang besar jika hal ini dilakukan dalam skala luas. Harapan kita, masyarakat/petani yang memanfaatkan pekarangannya akan mengurangi pengeluaran tiap hari dan bisa menkonsumsi sayuran yang sehat. Dampak yang diharapkan dari pengelolaan pekarangan ini adalah Rumah tangga bisa memproduksi dan mengkonsumsi sendiri produk pertaniannya. Sangat efektif dan efisien. Selain itu, kualitas hasil pekarangan sendiri bisa dikendalikan dengan memperhatikan faktor kesehatan. Dengan demikian kesehatan masyarakat akan meningkat. Dikutip dari berbagai sumber Penyusun : Religius Heryanto