Loading...

Cendawan Fusarium Pada Tanaman Jagung

Cendawan Fusarium Pada Tanaman Jagung
Penyusun : BPP Garoga Dinas Pertanian Tapanuli Utara CENDAWAN FUSARIUM PADA TANAMAN JAGUNG Cendawan tular tanah, Fusarium sp., merupakan penyakit utama pada tanaman jagung selain bulai, hawar daun, karat, dan busuk pelepah. Penurunan produksi jagung akibat infeksi cendawan Fusarium jenis Gibberella mencapai 48%, apabila kondisi lingkungannya cocok bagi perkembangan penyaki. Pada lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan cendawan Fusarium, penurunan hasil jagung berkisar antara 7-17%. Hal ini kemungkinan karena penurunan hasil akibat serangan cendawan Fusarium sangat tergantung terhadap tingginya intensitas serangan. Cendawan tular tanah Fusarium sp. juga toksin (Fusariotoksin) yang berbahaya bagi konsumen karena dapat menyebabkan keracunan. Cendawan Fusarium sp. juga mengeluarkan mikotoksin sebagai hasil biosintensis. Mikotoksin yang dihasilkan cendawan Fusarium selain menginfeksi tanaman jagung, juga dapat menginfeksi berbagai macam komoditas pertanian. Gejala awal penyakit yang terinfeksi cendawan fusarium pada tanaman jagung adalah daun mendadak layu. Setelah satu sampai dua hari, daun berubah warna menjadi kelabu dan terkulai. Batang bagian bawah berwarna hijau kekuningan, dan apabila penularannya berat warnanya berubah menjadi cokelat kekuningan. Batang pada ruas paling bawah, empelurnya membusuk dan terlepas dari kulit luar batang dan batangnya menjadi lembek. Kelayuan ini dapat menghentikan semua transportasi hara ke biji, sehingga bobot biji menurun. Tanaman yang terinfeksi busuk batang, akarnya membusuk, tanaman mudah rebah dan mudah dicabut. Umumnya perbedaan gejala penyakit fusarium bergantung pada komoditas tanaman. Pengendalian cendawan fusarium pada tanaman jagung, dilakukan sejak awal prapanen melalui (1) pengelolaan tanaman dan penyakitnya, (2) penanaman varietas tahan, (3) pengendalian secara kimiawi, dan hayati secara terpadu, serta (4) penanganan panen dan pascapanen. Langkah ini bertujuan untuk mengendalikan penyebaran cendawan Fusarium dan mencegah kontaminasi serta akumulasi mikotoksin pada tanaman jagung. Pengelolaan tanaman dan pengendalian penyakit Kontaminasi cendawan Fusarium pada tanaman jagung dapat terjadi sejak awal tanam, bertepatan dengan puncak musim kemarau dan terjadi kekeringan. Hal ini merupakan masalah utama bagi tanaman jagung, terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. Pengelolaan tanaman melalui sistem pengairan yang optimal pada fase ini sangat penting untuk mengurangi kontaminasi cendawan Fusarium. Cekaman kekeringan secara langsung berpengaruh negatif terhadap kondisi tanaman. Akibatnya, tanaman kurang sehat dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu, serangan hama pada tanaman jagung, seperti penggerek tongkol dan penggerek batang dapat menstimulasi cendawan Fusarium untuk melakukan kontaminasi pada tanaman, terutama pada bagian-bagian yang terserang hama. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan nutrisi. Kurangnya nutrisi bagi tanaman memudahkan terjadinya kontaminasi patogen. Pengelolaan air yang tepat, irigasi yang baik, dan pemupukan berimbang diperlukan oleh tanaman jagung untuk berkembang dan ketahanan terhadap patogen. Pergiliran tanaman yang bukan inang merupakan salah satu cara pencegahan yang dapat meminimalisasi penyebaran patogen cendawan Fusarium. Selain itu, pemupukan berimbang dengan pemberian N dosis rendah dan K tinggi serta populasi tanaman yang tidak rapat, dapat menekan kontaminasi dan perkembangan cendawan Fusarium di lapangan. Penggunaan varietas tahan Penggunaan varietas yang tahan penyakit merupakan Langkah awal dalam usaha mencegah adanya cendawan fusarium. Pemilihan bibit jagung sangat penting sehingga harus dipastikan membeli biibit yang bersertifikat resmi serta mengecek selalu label yang tertulis. Pengendalian secara kimiawi Pengendalian penyakit cendawan Fusarium yang dikendalikan secara kimiawi umumnya menggunakan organomerquri dan nonmerquri, seperti Arasan dan Dithane. fungisida lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit cendawan Fusarium adalah Thiram, Captab, dan Fludioxonil/Mefenoxam. Pengendalian penyakit cendawan Fusarium secara kimiawi seringkali tidak efektif karena kemampuannya yang kuat dalam mempertahankan diri sangat kuat. Selain itu, bahan kimia yang digunakan dalam pengendalian tidak efektif. Penggunaan fungisida dengan dosis yang tidak terkontrol berpengaruh negatif terhadap perkembangan mikroorganisme tanah yang bersifat antagonis. Pengendalian secara hayati Pengendalian hayati berdampak positif terhadap lingkungan sekitarnya. Agensia hayati seperti virus, cendawan, dan bakteri digunakan setelah dilakukan pengujian keefektifannya. Beberapa agensia antagonis yang terbukti efektif dalam menekan penyakit busuk batang yang disebabkan cendawan Fusarium sp. adalah cendawan Trichoderma sp. yang merupakan agensia hayati yang berfungsi sebagai pengendali penyakit cendawan Fusarium, dan dapat meningkatkan perkembangan akar, mengurangi stres, meningkatkan serapan hara dan hasil tanaman. Penanganan panen dan pascapane Untuk meminimalisasi kontaminasi mikotoksin pada tanaman jagung pada tahapan ini adalah menentukan kualitas biji yang dihasilkan. Panen sebaiknya dilakukan pada saat masak fisiologis dan tidak boleh ditunda. Terlambat panen akibat cuaca yang tidak menguntungkan menurunkan kualitas hasil. Pemanenan terlalu awal menyebabkan banyak biji jagung yang masih muda sehingga daya simpannya rendah dan banyak biji yang keriput. Secara visual, tanaman jagung yang sudah siap dipanen ditandai oleh batang, daun, dan kelobot berubah warna menjadi kuning atau telah mengering, biji terlihat mengkilap, jika ditekan dengan kuku tidak berbekas, dan terdapat bintik hitam (black layer) pada bagian biji yang melekat pada tongkol. Kadar air biji jagung yang sudah siap dipanen < 30. Setelah dipanen, biji jagung dikeringkan untuk menurunkan kadar air biji agar aman disimpan. Kadar air biji jagung yang aman disimpan berkisar antara 12-14%, dan terhindar dari infeksi cendawan atau mikroorganisme yang lain. Perubahan kadar air biji jagung dapat terjadi karena pengaruh cuaca seperti panas, hujan, pergantian siang dan malam, serta tempat penyimpanan. Sebelum disimpan, biji jagung disortasi terlebih dahulu untuk memisahkan biji yang tidak terinfeksi dengan yang bercendawan dan yang rusak karena serangga, sehingga dapat meminimalisasi kontaminasi mikotoksin.