Salah satu superfood yang bisa memperkuat daya tahan tubuh, adalah "pepaya jepang" (Cnidoscolus chayamansa) meski nama nya identik dengan nama buah, tapi bagian tanaman yang biasa di konsumsi adalah daunnya. Nama lain tanaman ini "Chaya", konon berasal dari mexico meskipun nama trend nya justru menyematkan negeri sakura. dI Indonesia tanaman ini juga memiliki nama yang tak kala beragam diantaranya lotes (telokates), daun gedi, dll. Beberapa literatur menyebutkan, bahwa di daerah asalnya, tanaman chaya dianggap sangat berharga terutama bagi masyarakat pedesaan. Karena tanaman ini dapat digunakan untuk makanan, tanaman obat, serta untuk tanaman hias. Bahkan Chaya itu sendiri tercatat dalam sejarah telah dikonsumsi oleh orang-orang dari suku Maya sejak zaman pra-Columbus. Keistimewaan tanaman ini juga di buktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman ini lebih bergizi jika dibandingkan sayuran berdaun hijau lainnya seperti bayam dan sawi. Kandungan protein, kalsium, zat besi, vitamin A dan C yang tinggi sangat baik untuk memenuhi asupan nutrisi sehari-hari. Disamping itu, proses budidaya tanaman ini juga cukup mudah, membuat tanaman ini banyak dijumpai pada beberapa wilayah. Karena tanaman ini bisa di budidayakan melalui biji atau batang (seperti halnya menanam singkong). Dan apabila dirawat dengan baik, pohon pepaya jepang mampu tumbuh hingga tingginya mencapai 3 meter, namun biasanya orang akan mempertahankan tanaman ini pada ketinggian 1-2 meter untuk mempermudah dalam melakukan pemanenan daunnya. Daun pepaya jepang memiliki bentuk seperti daun pepaya tetapi rasanya tidak pahit sama sekali. Akan tetapi dilansir di laman deherba.com, konsumsi daun pepaya jepang ternyata bisa memberikan efek negatif bagi beberapa orang, terutama jika di konsumsi dalam keadaan mentah oleh anak-anak dan orang-orang yang kekurangan protein. Hal itu dikarenakan ada penelitian yang mengungkapkan bahwa daun pepaya jepang juga memiliki kandungan senyawa berbahaya yaitu sianogen glikosida. Sianogen glikosida (cyanogen glycoside) adalah senyawa yang dapat melepaskan racun hidrogen sianida (hydrogen cyanide, disingkat HCN). Meski efek tersebut baru akan terjadi apabila HCN dikonsumsi dalam dosis tertentu dan bergantung juga pada reaksi tubuh setiap orang. Menurut WHO Food Additives Series 30, dosis oral akut yang mematikan dari HCN yang dilaporkan pada manusia yaitu 0,5-3,5 mg/kg berat badan. Katakanlah seseorang memiliki berat badan 60 kg, itu artinya dia sedikitnya harus mengonsumsi 30 mg HCN sebelum mengalami efek-efek keracunan HCN. Menurut laporan dari Ross-Ibarra & Molina-Cruz, dalam 100 gram daun chaya yang segar/mentah terdapat HCN kisaran 27-42 mg. Maka dalam kondisi segar/mentah, 100 gram daun pepaya jepang saja sudah bisa berbahaya bagi orang yang berat badannya 60 kg. - - - Tips Aman Konsumsi Pepaya Jepang Hingga saat ini, penelitian masih menunjukkan bahwa satu-satunya bahaya dari daun pepaya jepang berasal dari kandungan senyawa beracun di dalamnya. Jadi kalau senyawa tersebut bisa dinetralkan, maka kita bisa dengan leluasa mengonsumsi sayuran ini. Dan agar kadar HCN dapat dengan mudah dikurangi hingga batas aman jika sebelum di konsumsi, daun pepaya jepang HARUS dimasak atau direbus dalam air. Laporan dari Ross-Ibara & Molina-Cruz menuliskan waktu memasak atau merebus yang dibutuhkan adalah minimal 15 menit. Sebenarnya cara pengolahan seperti itu sudah dilakukan oleh masyarakat di daerah asalnya (Meksiko). Mereka biasa merendam dan mendidihkan daun chaya selama 20 menit, kemudian menyajikannya dengan minyak atau mentega. Selain daunnya, kuah atau kaldu dari daun ini juga aman dikonsumsi setelah dimasak. -- Selamat Mengkonsumsi Chaya, walaupun ini termasuk superfood, tetap konsumsi nya JANGAN berlebihan --