Loading...

DAFTAR PERIKSA BUDIDAYA PADI SAWAH IRIGASI

DAFTAR PERIKSA BUDIDAYA PADI SAWAH IRIGASI
Pendahuluan Tanaman padi sawah dapat ditanam pada agroekplogi, jenis tanah dan tingkat kesuburan tanag yang beragam serta musim tanam yang berbeda. Namun demikian diantara berbagai agroekologi tersebut terdapat kesamaan umum yaitu tanaman padi dapat tumbuh normal dan menghasilkan gabah yang ekonomis dengan keragaman yang relatif kecil. Pada agroekologi yang cukup ekstrim, tanaman padi memerlukan perlakuan spesifik, misalnya : varietas yang adaptif, dosis dan jenis pupuk tertentu, atau perlakuan teknis khusus lainnya. Tingkat adaptasi tanaman padi pada lingkungan tumbuh yang beragam cukup tinggi sehingga mengakibatkan teknik budidaya padi yang diterpakan oleh petani tidak bersifat baku atau tidak standar dan lebih merupakan teknik empiris berdasarkan pengalaman petani. Teknologi yang dianjurkan lebih besifat generik yang berlaku pada lingkungan umum, seperti penamabahan hara N,P,K dan hara lainnya. Praktek teknik budidaya padi bersifat fleksibel dan adaptif, oleh karena itu petani tidak perlu menerapkan semua komponen teknik dan strategi pengelolaan tanaman yang dianjurkan tersebut. Petani memiliki banyak pilihan dan alternatif teknik budidaya sesuai dengan ciri agroekologi setempat dan kemampuan atau prefernasi petani. Penerapan komponen teknologi budidaya padi akan menjadi mudah dan teratur apa bila dibuat daftar periksa “Rice Check” yang menjadi tuntunan oleh petani. Istilah Rice check atai check list hampir sama dengan SOP budidaya padi, yang membedakan hanya pada komponen wajib yang harus dilaksanakan untuk mencapai produktivitas padi optimal-maksimal. Lingkungan Tumbuh Padi Sawah Irigasi Padi sawah pada umumnya tumbuh dalam keadaan tergenang air terus menerus atau pun pada pengairan berselang-seling. Kondisi lahan yang tergenang menjadikan lingkungan tumbuh padi hampir seragam terutama dari segi tingkat kemasaman atau pH tanah dan lingkungan tumbuh relatif stabil. Pada sawah irigasi lingkungan sudah bisa diatur untuk memasukan dan mengeluarkan air ke dalam lahan sawah, sehingga tidak ada lahan yang tegenang oleh banjir atau kekeringan. Sehingga pertumbuhan padi akan selalu optimal dan bisa ditanam sepanjang musim. Pada lingkungan tumbuh yang ideal-optimal tersebut produktivitas padi sawah irigasi diharapkan dapat mencapai 8 hingga 10 ton GKP. Terjadinya keragaman produktivitas atau senjang hasil sekitar 1.0 ton/ha GLG dapat ditoleansi oleh perbedaan intrinksik lingkungan, seperti jenis tanah, kesuburan tanah, ketersediaan air, gangguan OPT. Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Irigasi Daftar Periksa Budidaya (DPB) padi sawah irigasi atau Rice Check adalah satu set komponen budidaya terpenting untuk padi sawah yang harud dipenuhi atau dilaksanakan, agar kondisi lingkungan tumbuh bersifat optimal. Berdasarkan definisi tersebut efektivitas DPB padi tergantung pada ketepatan pemilihan komponen DPB dan ketepatan dalam penerapannya. Pilihan komponen DPB dapat disempurnakan setiap tahun, untuk mengoreksi hal-hal yang kurang optimal. Validitas DPB padi terhadap lingkungan agroekologi hendaknya ditentukan oleh tim peneliti penyusun DPB. DPB padi merupakan apikasi teknik budidaya padi preskriptif, bagi wilayah produksi dengan ciri agroekologi tertentu. Pada tahap awal DPD padi sawah dapat mencakup lahan irigasi dataran rendah dibawah 500 m dpl, yang agroekologinya relatid seragam. Tujuan penerapan DPD adalah: 1) Menyediakan lingkungan tumbuh optimal bagi pertumbuhan tanaman padi, 2) Mengoreksi faktor-faktor penentu produktivitas padi yang kurang optimal, 3) Mengantisipasi dan menyediakan solusi masalah dan hambatan produksi yang mungkin timbul, 4) Melatih penyuluh dan petani untuk bertindak secara aktif menjadi dokter bagi lahan sawah dan tanaman padi di lahan sendiri, 5) mewadahi hasil-hasil penelitian padi dan mengaplikasikannya secara operasional pada budidaya padi sawah, 6) Mengoptimalkan produksi padi di wilayah regional untuk meningkatkan produksi pangan nasional. DAFTAR PERIKSA BUDIDAYA PADI SAWAH MUSIM HUJAN (Oktober/November s/d Februari/maret) No Komponen DPB Uraian Status 1. Waktu tanam Tepat musim, periode tanam: Oktober-Desmber, serempak dalam satu hamparam 2. Varietas dan benih · Varietas yang unggul untuk MH, adaptif, toleran OPT endemis, umur 110-120 hari (menkongga, Ciherang, Inpari 30 Ciherang sub 1, Inpari 32,Inpari 33, Inpari 41, Hipa 7, Hipa Jatim 2, Hipa 18. · Benih bermutu, sehat, daya tumbuh tinggi. 3. Persemaian · Persemaian bibit sehat, tidak tertular OPT · Tebar benih : 19-23 Hari sebelum tanam 4. Penyiapan lahan Pengolahan lahan matang, kedalaman lumpur 20-40 cm, gulma dikeluarkan dari petakan, pupuk organik bila digunakan, pematang diperbaiki 5. Kecukupan hara tanah Kandungan bahan organik minimal 1%;20 mg, P2O5/100g, 10 mg K2O/100g, 0,2 % N. 6. Tanam Bibit dan Populasi · Air dipetakan macak-macak · umur bibit 19-23 hari · Populasi minimal 25 rumpun/m2, 2 batang /rumpun · Jarak tanam : jajar legowo 50 x (25x12,5)cm atau 40 x (20x10) cm, persegi panjang 25x25 cm atau 20 x 20 cm. 7. Pemupukan · Pupuk dasar : 50-70 kg P2O5/ha bersamaan tanam · Pupuk N awal: 50 kg N/ha; 14 HST · Pupuk K : 30-50 K2O2/ha ; 14 HST · Pemupukan N kedua pada stadia anakan · Pemupukan N ketiga pada stadia pengisian biji atau pemupukan berdasarkan rekomendasi PHSL · Tambahkan pupuk silikat 8. Pengairan · Penggenangan 5-10 cm mulai 5 HST · Penggenangan 20-25 cm pada stadia awal pembentukan polen. 9. Penyiangan · Penyiangangulma 30-35 HST: air dikeluarkan · Air kembali dimasukan 40 HST 10. Pengendalian Hama Pemantauan keberadaan hama, disertai pengendalian, sehingga kerusakan minimal 11. Status hara N Pemerikasaan hara N pada daun · Umur 30 HST: skala 3 pada bagan warna dun (BWD) · Awal pembentukn malai · skala 4 BWD · Awal pembentukan awal makai skala 4 BWD · Awal Pengisian gabah · Segera berikan pupuk N bila hasik pemerikasaanya kurang dari ambang batas kritis, 12. Pengairan Pengenangan 5-10 cm pada stadia pengisisn gabah, hingga gabah mengisi penuh. 13. Drainase Pengeluaran air dari petakan saat gabah mulai kuning (10 HSP/hari sebelum panen) 14. Panen Panen dilakukan saat gabah telah kuning, keras dan matang 15. Penanganan lepas panen Panen gabah dibersihkan segera dijemur mencapai kadar air kurng dari 18 % 16. Hasil Gabah Minimal 8 ton/ha GKP, kadar air 16-18 % Keterangan : Pada kolom status, komponen yang sudah dilaksanakan diberi tanda √ (checked), komponen yang belum dilaksnakan harus secepatnya dilaksanakan. Apabila komponen tidak dapat dilaksnakan diberi tanda X DAFTAR PERIKSA BUDIDAYA PADI SAWAH MUSIM KEMARAU (Maret/April s/d juni/Juli) No Komponen DPB Uraian Status 1. Penyiapan Lahan · Tanah secapatnya disiapkan setelah padi MH di panen. Jerami dikeluarkan, dikomposkan, dikembalikan ke lahan untuk musim tanam berukutnya atau diinokulasi bakteri dekomposer · Pembajakan dan penggaruan secepatnya · Pelumpuran sedalam 20-30 cm · Sisa gulma dikeluarkan dari petakan 2. Varietas adaptif dan benih · Varietas yang unggul untuk MK, adaptif, toleran OPT endemis, umur 110-115 hari (Inpari 10, 13, 18, 19, 20, 33) · Benih bermutu, sehat, daya tumbuh tinggi. 3. Persemaian · Persemaian bibit sehat, tidak tertular OPT · Tebar benih : 18-22 Hari sebelum tanam 4. Waktu Tanam · Secepatnya setelah tanah diolah · Turn around time atau jarak waktu dari panen sampai tanam kurang dari 20 hari · Tanam serempak dalam satu hamparan 5. Kecukupan hara tanah Kandungan bahan organik minimal 1%;20 mg, P2O5/100g, 10 mg K2O/100g, 0,2 % N. 6. Tanam Bibit dan Populasi · Air dipetakan macak-macak · umur bibit 18-22 hari · Populasi minimal 25 rumpun/m2, 2 batang /rumpun · Jarak tanam : jajar legowo 50 x (25x12,5)cm atau 40 x (20x10) cm, persegi panjang 25x25 cm atau 20 x 20 cm. 7. Pemupukan · Pupuk dasar : 50-75 kg P2O5/ha bersamaan tanam · Pupuk N awal: 50 kg N/ha; 14 HST · Pupuk K : 30-50 K2O2/ha ; 14 HST · Pemupukan N kedua pada stadia anakan · Pemupukan N ketiga pada stadia pengisian biji atau pemupukan berdasarkan rekomendasi PHSL 8. Pengairan · Penggenangan 5-10 cm mulai 5 HST · Penggenangan 20-25 cm pada stadia awal pembentukan polen. · Penggenangan 5-10 cm, mulai gabah terisi penuh hingga gabah mulai menguning 9. Penyiangan · Penyiangangulma 30-35 HST: air dikeluarkan · Air kembali dimasukan 40 HST 10. Pengendalian Hama Pemantauan keberadaan hama, disertai pengendalian, sehingga kerusakan minimal 11. Status hara N Pemerikasaan hara N pada daun · Umur 30 HST: skala 3 pada bagan warna dun (BWD) · Awal pembentukan malai: skala 4 BWD atau 1,5 % berdasarkan NIR · Awal Pengisian gabah: skala 4 BWD atau 2 % berdasarkan NIR · Segera berikan pupuk N bila hasik pemerikasaanya kurang dari ambang batas kritis, 12. Panen Panen dilakukan saat gabah telah kuning, keras dan matang 13. Penanganan lepas panen Panen gabah dibersihkan segera dijemur mencapai kadar air 16- 18 % 14. Hasil Gabah Minimal 8 ton/ha GKP, Kesimpulan DPB padi merupakan ; “check list tindakan yang harus dilakukan untuk memperoleh produktivitas optimal dalam budidaya padi sawah DPB padi menjadi wadah penampungan hasil penelitian terbaik yang telah terbukti menguntungkan dalam sistem produksi padi. DPB padi mudah dialihkan dalam proses penyuluhan/alih teknologi dari peneliti ke penyuluh kepada petani DPB padi merupakan perangkat lunak sistem budidya padi Sumber bacaan: Daftar Periksa: Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check), Balai Besar Penelitiaan Padi, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.