Keberadaan hutan sebagai sumber mata air makin hari makin berkurang fungsinya. Adanya desa penyanding hutan menjadi salah satu hal yang sering disalahkan ketika terjadi banjir di daerah hulu. Saling berargumen yang membenarkan, sampai saat ini belum ada tindak lanjut untuk menyikapi keresahan masyarakat tani di daerah hulu. Namun terlepas dari hal tersebut, dampak banjir bandang yang terjadi di “Tukad Bilukpoh” pada hari Senin, 17 Oktober 2022 subuh, berdampak sangat fatal untuk lahan pertanian yang letaknya di hulu. Hujan yang intensitasnya terus menerus menyebabkan debit air sungai meningkat. Saat terjadi banjir, arus sungai membawa sampah hutan berupa kayu dengan diameter besar yang menyebabkan kerusakan di beberapa titik yang dilalui aliran sungai tersebut. Kerusakan utamanya terjadi pada lahan pertanian, perumahan, dan beberapa titik senderan sungai. Rusaknya senderan sungai memberikan dampak yang cukup besar bagi salah satu subak yang menyebabkan aliran air irigasinya berpindah. Hal tersebut disebabkan oleh tumpukan material pasir yang menutupi saluran irigasi. Pengurus subak terus melakukan koordinasi dengan pihak dinas terkait untuk membantu subak membersihkan material pasir sehingga air dapat masuk ke saluran irigasi. Rencana tanam subak mundur adalah salah satu dampak dari bencana tersebut. Dikarenakan pihak dinas belum memberikan jawaban terkait surat peminjaman alat berat, maka subak secara swadaya menyewa alat berat dengan tujuan mempercepat membersihkan material pasir yang menimbun saluran irigasi subak. Setelah 2 bulan dari terjadinya bencana tersebut, subak baru berhasil mengaliri air di saluran irigasi. Rencana tanam yang semula akan dilaksanakan tanggal 11 November diundur menjadi tanggal 1 Januari. Penulis: Dewi Wulan Gentari, S.P