Pemanasan bumi (global warming) menyebabkan perubahan iklim yang cenderung ekstrim dan berakibat terjadinya perubahan musim, yaitu banjir pada musim hujan dan kekeringan ekstrim pada musim kemarau. Iklim ekstrim ini berdampak terhadap pertumbuhan tanaman baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan termasuk karet. Salah satu iklim ekstrim yang harus mendapatkan perhatian adalah kekeringan. Dampak kekeringan pada tanaman karet sangat bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan (tanah, ketinggian tempat dan iklim). Dampak kekeringan terhadap pertumbuhan tanaman karet diantaranya terjadi gugur daun, produksi mata tunas untuk okulasi akan menurun, pertumbuhan tanaman terhambat, kritis terhadap kebakaran, periode penyadapan tanaman menjadi mundur, dan menurunnya produksi lateks. Antisipasi kekeringan pada tanaman karet dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi rekayasa genetik, pembuatan rorak diantara tanaman karet, penggunaan pupuk hijau dan mulsa, pemupukan, penggunaan bahan tanaman unggul, pengaturan waktu tanam, penanaman Legume Cover Crop (LCC), pengendalian gulma, pencegahan kebakaran, pembuatan kolam, pembuatan irigasi, konservasi air dan penggunaan soil conditioner. Upaya antisipasi kekeringan dengan rekayasa genetik dilakukan dengan memodifikasi atau memanipulasi genetik melalui transformasi gen/DNA sehingga tercipta varietas baru. Pembuatan rorak diantara tanaman karet dapat berfungsi sebagai penampung air dan tempat penumpukan bahan organik untuk menjaga kelembaban tanah. Rorak tidak hanya bermanfaat dalam konservasi air, tetapi keberadaannya juga mengurangi erosi dan meningkatkan poros kapiler tanah. Dengan adanya rorak kadar air tanah meningkat sekitar 5% pada kedalaman 0 – 30 cm, mampu menahan run off selama musim penghujan dan mampu meningkatkan perkembangan cacing tanah dan mikroorganisme pembusuk yang pada akhirnya akan dihasilkan pupuk organik. Selain itu rorak juga mampu menahan kehilangan nutrisi sebesar 12 – 29 kg/ha N, 5 – 12 kg/ha P dan 27 – 62 kg/ha K. Selain itu rorak juga mampu meningkatkan kapasitas menahan air tanah sehingga air yang tertahan dapat digunakan untuk suplai tanaman selama musim kering. Penggunaan pupuk hijau yang berasal dari seresah tanaman yang dibenamkan ke dalam tanah selain dapat digunakan untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah juga dapat digunakan sebagai soil conditioner (pembenah tanah) yang mampu memperbaiki kesuburan dan struktur tanah. Tanaman penghasil pupuk hijau diantaranya dari family Leguminoceae atau kacang-kacangan dan rumput-rumputan seperti rumput gajah. Jenis tanaman ini dapat menghasilkan bahan organik lebih banyak, daya serap hara lebih besar dan mempunyai bintil akar yang membantu mengikat nitrogen dari udara. Sedangkan mulsa dapat menekan kehilangan air lewat proses evaporasi, mencegah erosi, dan menjaga suhu permukaan tanah pada kisaran 250C. Penggunaan mulsa dan pupuk hijau dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman belum menghasilkan (TBM) lebih cepat mencapai matang sadap. Antisipasi kekeringan pada tanaman karet dapat dilakukan juga melalui pemupukan. Tanaman karet yang dipupuk dengan baik akan mempunyai struktur akar yang lebih lebar sehingga tanaman mampu menggunakan air tanah lebih efektif. Rekomendasi pemupukan pada tanaman karet dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun dan tidak dilakukan pada pertengahan musim penghujan karena pupuk mudah tercuci. Idealnya pemupukan dilakukan pada pergantian musim hujan ke musim kemarau dengan pupuk yang diberikan diantaranya Urea, SP-36 dan KCl. Penggunaan bahan tanaman unggul dan pengaturan waktu tanam sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman karet. Jenis bibit menentukan ketahanan tanaman karet. Tidak semua klon cocok ditanam pada semua tempat. Klon yang cocok untuk daerah kering diantaranya GT 1 dan BPM 24. Waktu penanaman juga harus diperhatikan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan sehingga bibit dan persiapan penanaman sebaiknya dilakukan sebelum waktu tanam tiba. Selain itu penanaman Legume Cover Crop (LCC) sebagai penutup tanah sangat dianjurkan. LCC berguna untuk mencegah erosi dan mempercepat matang sadap. Penanaman tanaman penutup tanah dilakukan diantara larikan-larikan tanaman karet dengan jarak 40 – 50 cm dan pemangkasan LCC pada musim kemarau perlu dilakukan agar tidak berkompetisi dalam penyerapan air tanah. Antisipasi kekeringan pada tanaman karet lainnya adalah dengan pengendalian gulma. Pada areal tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma, Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan kimia. Secara manual dilakukan 2 – 3 kali setahun sedangkan secara kimia dapat digunakan herbisida. Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sebelum kekeringan tiba untuk meminimalkan kompetisi penggunaan air, unsur hara dan cahaya matahari. Pada musim kering antisipasi bakaran juga harus dilakukan. Pada musim kemarau panjang mudah terjadi kebakaran karena adanya serasah kering di kebun karet. Untuk itu kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan larangan menyulut api di sembarang tempat. Selain itu untuk menghindari kekeringan di kebun karet juga perlu dibuat kolam atau embung untuk membantu kebutuhan air irigasi. Kolam dan embung sebagai sarana penampungan air dan sekaligus untuk pendistribusian. Kolam dapat dibangun secara permanen maupun temporer. Kolam permanen umumnya mampu menyerap dan menahan air sekitar 60% dari volume hujan di daerah tangkapan sedangkan kolam temporer hanya sekitar 30 – 50%. Kolam permanen cocok dibangun di daerah dengan tipe tanah yang mempunyai permeabilitas tinggi sedangkan kolam temporer sebaliknya. Irigasi pada perkebunan karet biasanya dilakukan hanya pada lahan pembibitan saja sedangkan pada areal TBM dan TM sangat terbatas. Pada areal TBM dan TM irigasi dilakukan dengan memanfaatkan air limpasan yang ditampung oleh bendungan atau embung. Untuk itu pembuatan embung dapat dibangun ditengah areal dengan jumlah yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sedangkan alur irigasi dapat dibuat pada waktu persiapan lahan atau sebelum tanam. Irigasi dapat dilakukan dengan memompa air dari embung yang kemudian dialirkan melalui alur irigasi. Upaya antisipasi kekeringan yang lain adalah konservasi air. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air seefisien mungkin dengan pengaturan waktu aliran yang tepat sehingga kebutuhan air dapat terpenuhi. Untuk itu penggunaan soil conditioner untuk meningkatkan kemampuan tanah menahan air perlu dilakukan. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Rusli dan Nana Heryana, 2015. Dampak dan Antisipasi Kekeringan Pada Tanaman Karet. Sirinov Vol 3 (2), Agustus 2015 . Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Sukabumi.