Loading...

DAMPAK IKLIM GLOBAL DAN IKLIM EKSTRIM TERHADAP KOMODITI UNGGULAN DI INDONESIA

DAMPAK IKLIM GLOBAL DAN IKLIM EKSTRIM TERHADAP  KOMODITI UNGGULAN DI INDONESIA
Curah hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscillation) di Samodra Pasifik yang berkaitan erat dengan kejadian iklim ekstrim. Selain itu interkasi lautan-atmosfer di Samodra Antlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia. Berbagai studi menggambarkan terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. Wilayah Indonesia dan Asia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Nino dan sebagian kecil wilayah seperti Madras-India, suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal, sementara. Besarnya penurunan dan peningkatan hujan akibat ENSO cukup beragam antar wilayah. Kita dapat temui dari berbagai sumber (seperti dari internet dan hasil penelitian), bahwa iklim global sangat tinggi korelasinya dengan curah hujan di Indonesia hal ini sangat berdampak pada terjadinya pergeseran musim, lamanya musim dan sifat hujan. Ini sangat penting guna mengantisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan resiko kegagalan tanam dan panen. Dampak iklim ekstrim terhadap komoditi unggulan di Indonesia 1. Padi. Berdasarkan data dari Direktorat Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerin Pertanian, tahun 2009 disebutkan bahwa dampak banjir pada tanaman padi tahun 2005-2006 sebagai berikut: 1) tahun 2005 luas areal yang terkena banjir 283,660 ha dan yang puso 44,829 ha; 2) tahun 2006 luas areal yang terkena banjir 262,592 ha dan yang puso 63,568 ha. Jika dijumlah kerugian akibat banjir tahun 2005 dan 2006 adalah 546,252 ha terkena banjir dan puso 108, 397 ha. 2. Kelapa sawit. Terjadinya iklim ekstrim seperti kekeringan sangat berpengaruh pada pertumbuhan kelapa sawit yang dapat digambarkan sebagai berikut: a) Kekurangan air pada satadium I (nilai defisit air 200-300 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 21-32%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: (1) 3-4 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; (2) 1-8 pelepah daun tua patah; b) Kekurangan air pada satadium II (nilai defisit air 300-400 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 33-43%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: (1) 4-5 pelepah daun muda umumnya tidak membuka; (2) 5-12 pelepah daun tua patah; c) Kekurangan air pada satadium III (nilai defisit air 400-500 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 44-53%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: (1) 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; (1) 12-16 pelepah daun tua patah; d) Kekurangan air pada satadium IV (nilai defisit air > 500 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 54-65%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: (1) 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; (2) 12-16 pelepah daun tua patah; (3) pucuk patah. Selain kekeringan iklim ekstrim juga menyebabkan terjadinya kebakaran di lahan mineral dan gambut juga mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit yang dapat digambarkan sebagai berikut: Lahan mineral a. Tingkat kerusakan ringan, menyebabkan gangguan pada tanaman dengan gejala sebagai berikut: (1) bagian bawah tanaman kering; (2) bunga dan buah tidak mengalami kerusakan berat; (3) tanaman akan pulih dalam waktu 6 bulan. Terjadinya pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 0-20. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. b. Tingkat kerusakan sedang, menyebabkan gangguan pada tanaman dengan gejala sebagai berikut: (1) pelepah daun ke 1-8 kering; (2) pelepah lingkaran 2-5 layu. Terjadinya pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 100% pada tahun I, 40% pada tahun II dan 0% pada tahun III. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. c. Tingkat kerusakan berat, menyebabkan gangguan pada tanaman dengan gejala sebagai berikut: (1) pelepah daun 1-2 kering; (2) pelepah lingkaran 3-7 layu; (3) titik tumbuh masih normal. Terjadinya pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar100% pada tahun I, 80% pada tahun II, 60% pada tahun III dan 20% pada tahun IV. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. d. Tingkat kerusakan ekstrim, menyebabkan tanaman mati dan kehilangan hasil mencapai 100%. Sedang pengaruhnya pada lingkungan yaitu membuat lingkungan rusak, rumput tumbuh subur dan serangan hama meningkat. 3. Kakao. Iklim ekstrim kekeringan berpengaruh pada tingkat kerusakan kakao yang dapat digambarkan sebagai berikut: a. Tingkat kerusakan ringan, ditandai dengan daun kakao layu, tetapi warna daun tetap hijau dengan ranting tetap sehat; b. Tingkat kerusakan sedang, ditandai dengan daun layu dan warna berubah menjadi hijau pucat, ranting mengering dan bakal buah juga mengering. c. Tingkat kerusakan berat, ditandai dengan daun mengering dan gosong, cabang dan akar mengering, biji tumbuh cacat, kehilangan hasil mencapai 50%. 4. Kopi. Terjadinya iklim ekstrim seperti kekeringan juga sangat berpengaruh pada pertumbuhan kopi dari tingkat kerusakan ringan, sedang dan berat yang dapat digambarkan sebagai berikut: a. Tingkat kerusakan ringan dengan gejala: daun layu tetapi warna tetap hijau, ranting tanaman tetap sehat. b. Tingkat kerusakan sedang, dengan gejala: daun layu dan warna daun berubah menjadi hijau pucat, ranting lebih dari 50% mengering, tunas bunga mengering c. Tingkat kerusakan berat, gejalanya daun mengering dan gosong, ranting tanaman mengering dan mudah patah, akar mulai mengering, hampir 100% tunas bunga mengering, biji yang belum masak menguning lebih cepat, biji kopi akan mengeriput 100% dam beberapa tahun kedepan. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Jurnal Tanah dan Iklim, BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor 2007; Agroklimat dan Hidrologi, 2009, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian; Data Ditjen Tanaman Pangan, 2009.