Loading...

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI SEKTOR PERKEBUNAN

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI SEKTOR PERKEBUNAN
Perubahan iklim telah menjadi isu global yang berdampak signifikan pada berbagai sektor, termasuk sektor perkebunan. Meningkatnya suhu global, perubahan pola curah hujan, dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem menjadi ancaman nyata bagi produktivitas pertanian dan perkebunan. Perkebunan, yang bergantung pada kondisi iklim yang stabil, sangat rentan terhadap perubahan ini. Dampak perubahan iklim di sektor perkebunan antara lain berdampak pada produktivitas tanaman, dampak terhadap kualitas hasil dan dampak terhadap sosial ekonomi. Dampak terhadap produktivitas tanaman Perubahan iklim menyebabkan perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu dan cuaca yang ekstrim. Perubahan pola curah hujan mengakibatkan terganggunya pola tanam dan periode pertumbuhan tanaman. Pada saat musim kering menyebabkan tanaman kekurangan air sehingga hasil panen menurun sedangkan pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir yang dapat merusak tanaman. Begitu pula dengan peningkatan suhu akan menyebabkan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao akan mempunyai masa pertumbuhan yang lebih pendek, kualitas buah akan menurun, dan meningkatkan risiko hama dan penyakit. Adapun cuaca yang ekstrim akan menyebabkan tanaman perkebunan, terutama yang memiliki siklus hidup panjang seperti kelapa sawit dan karet, sangat rentan terhadap kerusakan fisik akibat angin kencang dan banjir. Selain itu cuaca ekstrem juga dapat merusak infrastruktur perkebunan, seperti akses jalan perkebunan dan fasilitas pengolahan. Dampak terhadap Kualitas Hasil Selain produktivitas, perubahan iklim juga berdampak pada kualitas hasil perkebunan. Suhu yang terlalu tinggi atau curah hujan yang tidak teratur dapat mengganggu proses perkembangan tanaman, sehingga kualitas buah, biji, atau daun yang dihasilkan tidak optimal. Misalnya, peningkatan suhu dapat mempercepat pematangan buah, namun hasilnya adalah buah dengan kualitas lebih rendah. Pada tanaman teh dan kopi, peningkatan suhu dapat mengurangi kadar senyawa-senyawa penting yang memengaruhi cita rasa dan aroma produk. Selain itu, perubahan iklim juga meningkatkan risiko penyebaran hama dan penyakit tanaman. Suhu yang lebih hangat dan kelembapan yang tinggi menciptakan kondisi ideal bagi hama dan patogen untuk berkembang biak. Hal ini dapat menyebabkan kerugian besar bagi petani karena hasil panen yang tidak hanya berkurang, tetapi juga terkontaminasi. Dampak Sosial-Ekonomi Perubahan iklim berdampak juga pada sosial ekonomi pekebun. Hal ini disebabkan perubahan iklim akan mengakibatkan penurunan produktivitas dan kualitas hasil perkebunan sehingga harga produk turun yang menyebabkan pendapatan petani berkurang. Hal ini berdampak pada meningkatnya kemiskinan dan kerawanan pangan di kalangan masyarakat pedesaan yang mengandalkan perkebunan sebagai sumber mata pencaharian utama. Selain itu, dengan adanya perubahan iklim, biaya produksi di sektor perkebunan cenderung meningkat. Petani dan perusahaan perkebunan perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk irigasi, pestisida, dan perlindungan tanaman dari cuaca ekstrem. Upaya Adaptasi dan Mitigasi Untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sektor perkebunan, perlu dilakukan berbagai upaya adaptasi dan mitigasi, antara lain: 1. Pengelolaan air yang lebih baik melalui penggunaan teknologi irigasi. Dengan pengelolaan air secara terpadu seperti penggunaan sistem irigasi tetes yang hemat air atau pembuatan waduk untuk menampung air saat musim hujan dapat membantu menghadapi perubahan iklim. 2. Penggunaan varietas tanaman perkebunan yang lebih tahan terhadap suhu tinggi, kekeringan, dan serangan hama dapat menjadi solusi jangka panjang. 3. Pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu yang menggabungkan metode biologis, kimiawi, dan mekanis untuk mengendalikan hama secara lebih efektif dan ramah lingkungan. 4. Sektor perkebunan juga harus berperan dalam mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca. Misalnya, dengan mengurangi penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan, meningkatkan efisiensi penggunaan energi, dan mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan seperti agroforestri. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), 2021. Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Food and Agriculture Organization (FAO), 2019. Climate Change and Agriculture. FAO. World Bank, 2020. Impacts of Climate Change on Agricultural Productivity.