Loading...

Dari Jerami ke Rupiah, dari Kotoran ke Energi: Ketika Sawah 1 Hektar Menghidupi Padi, Sapi, dan Dapur

Dari Jerami ke Rupiah, dari Kotoran ke Energi: Ketika Sawah 1 Hektar Menghidupi Padi, Sapi, dan Dapur

Pagi masih basah oleh embun ketika langkah kaki menyusuri pematang sawah seluas satu hektar. Di ujung lahan, kandang sapi berdiri sederhana. Di sinilah sebuah pertanian terpadu bekerja diam-diam: padi memberi makan sapi, sapi menyuburkan padi, dan—lebih jauh lagi—kotorannya menghidupkan api di dapur.

Satu Hektar, Nilai yang Terus Bertambah

Pada lahan satu hektar, padi ditanam 2–3 kali setahun. Dengan produktivitas rata-rata 5–6 ton gabah per musim, petani berpotensi memanen 10–15 ton gabah per tahun. Dengan HPP gabah Rp6.500 per kilogram, nilai produksi padi mencapai Rp65–97,5 juta per tahun.

Namun nilai ekonomi itu tidak berhenti pada gabah. Setiap musim panen menyisakan 8–12 ton jerami per hektar, yang kini dimanfaatkan sebagai pakan utama 2–4 ekor sapi potong. Jerami yang dulu dibakar, kini menjadi modal yang menggerakkan kandang.

Jerami Menghidupi Sapi, Sapi Menyuburkan Sawah

Dengan pakan berbasis jerami (segar, kering, atau fermentasi), biaya pakan—komponen terbesar dalam usaha ternak—dapat ditekan signifikan. Dari sisi lain, 2–4 ekor sapi menghasilkan 7–20 ton kotoran per tahun. Kotoran ini diolah menjadi pupuk organik padat dan cair, lalu dikembalikan ke sawah.

Hasilnya terasa nyata: struktur tanah membaik, kandungan bahan organik meningkat, dan dalam beberapa musim kebutuhan pupuk kimia dapat ditekan hingga 30–50 persen. Biaya produksi turun, tanah pulih, hasil lebih stabil.

Kotoran Sapi Menjadi Energi: Biogas untuk Dapur Petani

 Di titik inilah integrasi mencapai level berikutnya. Sebagian kotoran sapi tidak hanya dijadikan pupuk, tetapi juga dimasukkan ke digester biogas sederhana. Dari 2–4 ekor sapi, petani sudah cukup menghasilkan biogas untuk kebutuhan memasak harian satu rumah tangga.

Setiap ekor sapi berpotensi menghasilkan 1–2 meter kubik biogas per hari, cukup untuk menyalakan kompor selama beberapa jam. Artinya, petani dapat mengurangi atau bahkan mengganti sepenuhnya LPG atau kayu bakar. Di tengah fluktuasi harga energi, biogas memberi ketahanan energi skala rumah tangga.

Menariknya, sisa lumpur biogas (slurry) justru lebih kaya unsur hara dan aman digunakan sebagai pupuk organik cair maupun padat. Siklusnya makin rapat: tidak hanya zero waste, tetapi multi-manfaat.

Sapi sebagai Tabungan, Energi sebagai Penghematan

Di kandang, sapi tetap berfungsi sebagai aset hidup. Dengan pemeliharaan sederhana, satu ekor sapi potong dapat dijual Rp15–20 juta. Menjual 1–2 ekor per tahun memberi tambahan Rp15–40 juta di luar hasil padi.

Sementara itu, biogas memberi manfaat yang sering luput dihitung: penghematan pengeluaran rumah tangga. Biaya LPG yang biasanya rutin dikeluarkan setiap bulan dapat ditekan, bahkan dihapus. Bagi keluarga petani, ini sama artinya dengan pendapatan tak langsung yang memperkuat ekonomi rumah tangga.

Siklus Tanpa Sisa, Tanpa Asap

Integrasi ini membentuk lingkaran utuh:

  • Padi → gabah dijual, jerami jadi pakan
  • Sapi → daging sebagai tabungan, kotoran jadi pupuk & biogas
  • Biogas → energi bersih untuk dapur
  • Slurry biogas → pupuk kembali ke sawah

Tak ada yang terbuang. Tak ada jerami dibakar. Tak ada kotoran mencemari lingkungan. Inilah pertanian sirkular yang bekerja di sawah, kandang, dan dapur petani

Lebih dari Sekadar Teknologi

Dengan HPP gabah Rp6.500, kepastian harga memberi ruang bagi petani untuk berinovasi. Integrasi padi–sapi–biogas bukan teknologi mahal, melainkan cara berpikir: menghubungkan kembali pangan, ternak, pupuk, dan energi dalam satu hamparan lahan.

Jika model ini diterapkan lebih luas, manfaatnya berlapis—dari peningkatan pendapatan, pengurangan emisi pembakaran jerami, kemandirian pupuk, hingga kemandirian energi rumah tangga petani.

Penutup

Di sawah satu hektar itu, padi, sapi, dan api dapur saling terhubung. Harga gabah yang lebih berpihak memberi napas, integrasi memberi arah. Dari jerami lahir pakan, dari kotoran lahir pupuk dan energi. Sebuah pelajaran bahwa masa depan pertanian Indonesia bisa tumbuh dari satu lingkaran sederhana yang dikelola dengan bijak.

Oleh: Penyuluh Pertanian BPP Tarogong Kidul Kabupaten Garut -Jawa Barat