Loading...

Dari Praktik Lapangan ke Pengetahuan Ilmiah: Mengonversi Penyuluhan Menjadi Penelitian Tindakan

Dari Praktik Lapangan ke Pengetahuan Ilmiah: Mengonversi Penyuluhan Menjadi Penelitian Tindakan

Pendahuluan 

Saya masih ingat, di awal 2020, ketika baru memulai perkuliahan di Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, saya mengikuti kegiatan lapangan ke Gunung Kidul. Hari itu saya bertemu langsung dengan beberapa penyuluh pertanian, orang-orang yang selama ini hanya saya kenal lewat literatur. Ketika duduk bersama di balai pertemuan, saya melihat sosok yang familiar: bapak saya sendiri.

Ayah saya lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian dan pernah menjadi penyuluh perkebunan. Sosoknya identik dengan gambaran penyuluh yang saya temui: orang lapangan sejati, cakap giat dan cerdas. Pertemuan itu membuat saya bertanya-tanya, siapa sebenarnya para penyuluh ini? Dari latar pendidikan apa mereka berasal? Berapa usia mereka? Bagaimana “karir” yang saya pahami diaplikasikan dalam realita mereka? Apakah akan menjadi PNS? Pertanyaan itu membawa saya pada ketertarikan yang lebih spesifik, bagaimana kemudian dengan penyuluh muda, apakah mereka melihat profesi ini sebagai pilihan dan peluang karir? Seperti apa pengembangan diri dikejar penyuluh muda dengan jalur pendidikan tinggi?

Sejak saat itu saya menyadari bahwa penyuluh bukan sekadar penghubung informasi. Mereka adalah ujung tombak komunikasi pembangunan pertanian, menjembatani kebijakan dan inovasi teknologi dengan kehidupan petani. Mereka juga mendorong perubahan perilaku, memberdayakan komunitas hingga merancang solusi untuk menjawab tantangan lokal.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (pada buku Statistik Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan Petani 2023) saat ini Indonesia memiliki sekitar 37.771 penyuluh aktif, jauh di bawah kebutuhan ideal sebesar 72.724 orang, yang menunjukkan defisit hampir 48 persen. Dari sisi pendidikan, mayoritas berasal dari SMK pertanian atau diploma, dan hanya 3-4 persen berpendidikan sarjana, angka yang terbilang rendah untuk pemenuhan kebutuhan penyuluh pertanian di Indonesia.

Di tengah keterbatasan ini, muncul fenomena menarik: motivasi belajar penyuluh tergolong tinggi. Penelitian Diarsi dkk (2019) terhadap 206 penyuluh pertanian alumni Universitas Terbuka (UT) mengungkapkan bahwa 97,2% responden memiliki motivasi belajar sedang hingga tinggi, baik untuk memenuhi persyaratan jabatan fungsional dan karir dan keinginan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan profesionalisme kerja. Penelitian ini juga mencatat bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia produktif- lanjut (61,2% berusia 48-60 tahun) dan memiliki pengalaman kerja panjang (60,2% telah bekerja 15-28 tahun). Data ini mengindikasikan aspirasi untuk meningkatkan kompetensi akademik di kalangan penyuluh nyata adanya dan bukan sekedar asumsi.

Persoalan mendasar kemudian muncul : bagaimana menghubungkan praktik penyuluhan sehari-hari dengan kapasitas penelitian yang menjadi salah satu fitur dan tuntutan pendidikan tinggi ? Tidak sedikit penyuluh yang ragu: Apakah yang saya lakukan di lapangan bisa disebut penelitian ? Jawabannya adalah ya. Sebab, aktivitas penyuluhan sejatinya telah memuat unsur-unsur riset partisipatif: identifikasi masalah, aksi terencana, pengamatan dan refleksi berkelanjutan. Memahmi hal ini membuka jalan baru: praktik yang selama ini dianggap rutinitas dapat menjadi basis ilmiah yang sahih. Dengan dokumentasi yang tepat pengalaman tersebut bisa dikonversi menjadi laporan riset, publikasi ilmiah bahkan skripsi atau tesis. Artinya, meningkatkan kompetensi hingga ke jenjang S1 atau S2 bukanlah hal yang mustahil, karena penyuluh sebenarnya telah memegang modal utama, pengalaman lapangan yang kaya dan relevan.

Artikel ini bertujuan untuk mengusung gagasan bahwa penyuluhan merupakan wujud penelitian tindakan, dan oleh karena itu, penyuluh memiliki peluang besar untuk mengembangkan karir sebagai early career researcher (ECR). Dengan membangun pemahaman ini, penyuluh dapat menjembatani perannya sebagai fasilitator pembangunan dengan peran akademik melalui tiga sasaran utama tulisan ini:

  1. Menjelaskan kesamaan konseptual antara penyuluhan dan penelitian tindakan
  2. Menunjukkan bagaimana praktik penyuluhan dapat dijadikan basis riset ilmiah
  3. Memberikan panduan praktis bagi penyuluh yang ingin melanjutkan Pendidikan tinggi, tanpa kehilangan relevansi dengan kerja lapangan

Kesamaan Penyuluhan dan Penelitian Tindakan

Penyuluhan pertanian yang pada hakikatnya merupakan proses pendidikan nonformal bagi petani dan masyarakat, meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Mardikanto, 2010; Van den Ban & Hawkins, 1999). Dalam praktiknya, penyuluhan tidak hanya sekadar menyampaikan informasi teknis, melainkan sebuah proses komunikasi pembangunan yang bersifat dialogis, partisipatif, dan adaptif terhadap perubahan sosial dan lingkungan (Rogers, 2003). Karakteristik ini menunjukkan bahwa penyuluhan memiliki kesamaan fundamental dengan penelitian tindakan (action research), sebuah pendekatan riset yang dikembangkan oleh Kurt Lewin (1946) dan banyak digunakan untuk memecahkan masalah praktis melalui siklus aksi dan refleksi kolaboratif.

Action research didefinisikan sebagai proses spiral yang menggabungkan perencanaan tindakan, observasi dan refleksi secara berulang, yang dilakukan secara partisipatif dengan tujuan memperbaiki praktik dan menghasilkan pengetahuan (Herr & Anderson, 2015; Reason & Bradbury, 2008). Prinsip-prinsip ini sejalan dengan praktik penyuluhan yang melibatkan tahapan identifikasi masalah, perencaaan kegiatan, pendampingan implementasi, evaluasi dan tindak lanjut. Dengan kata lain, penyuluhan dan penelitian tindakan bukan hanya mirip dalam prosedur teknis, tetapi juga dalam filosofi dasarnya: pemberdayaan Masyarakat melalui partisipasi dan pembelajaran bersama.

1.Fokus pada Pemecahan Masalah Nyata

Baik penyuluhan maupun action research berorientasi pada persoalan konkret yang dihadapi oleh komunitas. Penyuluhan tidak bekerja pada ranah teoretis, melainkan mengatasi masalah nyata seperti rendahnya produktivitas, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya terbatas. Demikian pula, action research menolak riset yang terpisah dari praktik; ia mengedepankan pendekatan berbasis lapangan untuk menemukan solusi yang relevan secara kontekstual (Lewin, 1946; Stringer, 2014).

2. Partisipasi sebagai Prinsip Utama

Kedua pendekatan ini menempatkan partisipasi sebagai inti proses. Dalam penyuluhan, petani bukan hanya penerima informasi, tetapi juga mitra dalam proses pengambilan keputusan (Mardikanto & Soebianto, 2012). Hal yang sama berlaku dalam action research, di mana peneliti dan komunitas bekerja sebagai co-researcher untuk mengidentifikasi masalah, merancang intervensi, dan mengevaluasi hasil (Herr & Anderson, 2015). Pendekatan ini menciptakan co-creation of knowledge, di mana pengalaman praktis komunitas dipadukan dengan kerangka ilmiah.

3. Siklus Adaptif: Aksi dan Refleksi

Penyuluhan menggunakan siklus perencanaan–implementasi–evaluasi yang memungkinkan adaptasi terhadap kondisi lapangan. Siklus ini identik dengan spiral action research yang melibatkan plan–act–observe–reflect (Kemmis, McTaggart & Nixon, 2014). Kedua pendekatan ini bersifat dinamis: strategi disesuaikan dengan hasil dan umpan balik, bukan diterapkan secara kaku.

4. Tujuan: Transformasi Sosial dan Kapasitas

Action research bertujuan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus memperbaiki praktik, sedangkan penyuluhan bertujuan memberdayakan petani agar lebih mandiri dalam pengambilan keputusan (Van den Ban & Hawkins, 1999). Keduanya mengukur keberhasilan tidak hanya melalui indikator teknis (seperti peningkatan hasil panen), tetapi juga melalui transformasi sosial, yaitu peningkatan kapasitas individu dan kelompok untuk memecahkan masalah secara berkelanjutan.


Tabel 1. Perbedaan Penyuluhan dan Penelitian Tindakan

Aspek Penyuluhan Pertanian Penelitian Tindakan
Fokus Utama  Pemecahan masalah praktis petani, adopsi inovasi Pemecahan masalah nyata berbasis konteks sosial
Pendekatan Partisipatif, komunikatif, berbasis kebutuhan petani Kolaboratif antara peneliti dan partisipan
Proses Identifikasi masalah → Perencanaan → Aksi → Evaluasi → Revisi Plan → Act → Observe → Reflect (Kemmis et al., 2014)
Hasil yang 
Diharapkan
Perubahan perilaku, pemberdayaan, kesejahteraan  Perbaikan praktik, pengembangan pengetahuan, pemberdayaan komunitas 
Orientasi Pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan Pengembangan teori sekaligus pemecahan masalah praktis

Kesamaan ini menegaskan bahwa penyuluhan bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi proses ilmiah yang hidup, sehingga dapat menjadi basis bagi penelitian akademik. Pemahaman ini memberikan peluang bagi penyuluh untuk memosisikan dirinya sebagai praktisi sekaligus peneliti lapangan, membuka jalan untuk publikasi ilmiah dan pendidikan lanjutan.

Implikasi untuk Penyuluh

Memahami bahwa penyuluhan memiliki kesamaan mendasar dengan penelitian tindakan memberikan peluang strategis bagi penyuluh untuk meningkatkan posisi professional sekaligus akademik. Implikasi ini penting dalam dua dimensi: (1) penguatan kompetensi metodologis dan (2) peluang pengembangan karir melalui konversi praktik lapangan menjadi riset ilmiah.

Tantangan dan Peluang dalam Transformasi Peran

Perubahan paradigma ini menuntut penyuluh untuk melengkapi keterampilan teknisnya dengan iterasi metodologi penelitian, mencakup pemahaman tentang desain riset, teknik pengumpulan data, analisis dan etika penelitian. Tantangan utama yang sering dihadapi adalah : 1) kurangnya pemahaman akademik : sebagian besar penyuluh berasal dari latar pendidikan menengah atau diploma sehingga tidak terbiasa dengan terminologi riset. 2) Keterbatasan waktu dan fasilitas, dimana beban kerja lapangan seringkali membuat dokumentasi menjadi prioritas rendah. 3) Ketidakpercayaan diri, anggapan bahwa riset hanya untuk akademisi masih kuat di kalangan penyuluh. Sebenarnya tantangan ini juga membuka peluang. Penyuluh memiliki keunggulan yang jarang dimiliki peneliti di luar mereka, yaitu 1) Kedekatan dengan komunitas : memudahkan pengumpulan data yang otentik. 2) Akses ke seting lapangan yang kaya informasi : balai penyuluhan dapat menjadi living laboratory untuk inovasi. 3) Kepercayaan masyarakat, dimana memfasilitasi paritsipasi aktif dalam riset

Langkah strategi untuk menjadi Peneliti Pemula

Menjadi peneliti atau melakukan penelitian untuk meraih gelar sarjana atau paskasarjana tidak harus dimulai dari nol, karena praktik penyuluhan yang selama ini dilakukan sudah mengandung elemen riset partisipatif: identifikasi masalah, aksi terencana, pengamatan dan refleksi. Strateginya mencakup, mengubah mindset. Hal ini termasuk melihat setiap aktivitas penyuluhan sebagai kesempatan riset. Misalnya program adopsi varietas baru bukan hanya “implementasi kebijakan”, tetapi eksperimen sosial yang bisa dicatat dan dianalisis. Kedua, dokumentasi sistematis. Gunakan logbook atau format sederhana: tujuan, langkah, hasil, refleksi. Foto, data kuantitatif dan kutipan percakapan menjadi bahan berharga untuk laporan atau artikel ilmiah. Ketiga, Kuasai dasar metodologi. Ikut pelatihan penelitian, mempelajari metode deskriptif dan analisis kualitatif sederhana yang mengutamakan konsistensi dan kemampuan melihat validitas data. Keempat, bangun kolaborasi akademik. Hal ini termasuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi atau Lembaga penelitian. terbuka luas kesempatan bagi praktisi menjadi co-author artikel atau narasumber penelitian terapan.

Penutup

Dengan mengadopsi paradigma penyuluhan sebagai riset tindakan, penyuluh tidak hanya meningkatkan kualtias intervensi lapangan, tetapi juga memberikan nilai tambah strategis bagi institusi, seperti pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy) di tingkat daerah, peningkatan kredibilitas profesi penyuluh sebagai agen perubahan dan produsen pengetahuan, serta peluang pengembangan karir melalui jalur akademia yang terintegrasi dengan dunia praktik.

Acknowledgement:

Artikel ini dikembangkan dari salah satu bagian dari disertasi saya yang menyampaikan argumen persamaan dan perbedaan pengembangan masyarakat dan penelitian tindakan. Disertasi berjudul “Pendekatan Partisipatif untuk Ketahanan Kota: Studi Pelibatan Anak Muda di Kota Kediri” . dibuat dengan bimbingan Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. dan dr. Roso Witjaksono untuk meraih gelar doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Referensi

Diarsi, E. Y., Huda, N., Setijorini, L. E., & Farida, I. (2019). Profil dan karakteristik penyuluh pertanian lulusan Universitas Terbuka. Sosiohumaniora, 21(1), 79–86. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v21i1.20713

Herr, K., & Anderson, G. L. (2015). The action research dissertation: A guide for students and faculty (2nd ed.). SAGE Publications.

Kemmis, S., McTaggart, R., & Nixon, R. (2014). The action research planner: Doing critical participatory action research. Springer.

Lewin, K. (1946). Action research and minority problems. Journal of Social Issues, 2(4), 34–46. https://doi.org/10.1111/j.1540-4560.1946.tb02295.x

Mardikanto, T. (2010). Sistem penyuluhan pertanian. UNS Press.

Mardikanto, T., & Soebianto, P. (2012). Pemberdayaan masyarakat dalam perspektif kebijakan publik. Alfabeta.

Reason, P., & Bradbury, H. (Eds.). (2008). The SAGE handbook of action research: Participative inquiry and practice (2nd ed.). SAGE Publications.

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). Free Press.

Stringer, E. T. (2014). Action research (4th ed.). SAGE Publications.

Van den Ban, A. W., & Hawkins, H. S. (1999). Agricultural extension (2nd ed.). Blackwell Science.

Bio

Nissa Cita Adinia, dosen dan peneliti di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. Sebelum berkarir sebagai akademisi, Nissa memiliki pengalaman selama lebih dari satu dekade sebagai tenaga ahli komunikasi untuk sejumlah proyek pembangunan.  Saat ini sedang menyelesaikan studi doktor di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.