Loading...

DASAR-DASAR EKONOMI SIRKULAR DAN PEMBANGUNAN PERTANIAN REGENERATIF

DASAR-DASAR EKONOMI SIRKULAR DAN PEMBANGUNAN PERTANIAN REGENERATIF
Pertanian di Indonesia sebagian besar masih berorientasi pertanian konvensional yang mengakibatkan daya dukung lingkungan dan sumberdaya pertanian semakin tergerus dan terdegradasi dengan skala yang semakin besar dari hari ke hari, dimana tanah kehilangan kesuburan, air terkontaminasi, dan harga pupuk semakin tidak terkendali. Pertanian konvensional membuahkan kesenjangan manusia terhadap alam sekitarnya, dan memberikan dampak berupa permasalahan kesehatan, baik bagi manusia maupun bagi alam sekitarnya. Pengolahan tanah yang dilakukan dalam pertanian konvensional tersebut tidak efektif dan membantu proses perusakan struktur tanah, sehingga tanah semakin ‘bantat’ dan mati. sistem pertanian harus didesain ulang untuk dapat memproduksi bahan pangan yang mencukupi kebutuhan dunia sekaligus melestarikan alam. Ekonomi linear harus ditransformasi menjadi ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular tidak saja berkelanjutan dari apa yang kita miliki, tetapi juga fokus pada pertumbuhan yang regeneratif dan memperbaiki lingkungan yang ada, mengurangi sampah hingga nol (zero waste), mensirkulasi sumberdaya dan meregenerasi alam. Indonesia telah mengadopsi konsep Ekonomi Sirkular ke dalam Visi Indonesia 2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Ekonomi Sirkular merupakan model pembangunan nasional yang berfokus pada 5R yaitu Reduce (mengurangi dan mencukupkan konsumsi), Reuse (menggunakan kembali), Refurbish (merenovasi atau memperbaharui), Repair (memperbaiki yang rusak, sebagian atau seluruhnya) dan Recycle (mendaur ulang) yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah hingga mencapai kemungkinan zero waste. Dalam ekonomi sirkular, manusia dipandang sebagai bagian dari alam, oleh karena itu ada empat falsafah untuk memahami ekonomi sirkular dan etikanya, yaitu manusia dan alam adalah satu, manusia melakukan sesuai alam melakukannya, kebaikan dan keburukan hakekatnya satu serta manusia bagian dari alam: dari ego ke eco. Manusia adalah bagian dari alam. Manusia adalah bagian dari bumi, oleh karena itu ada empat falsafah untuk memahami Ekonomi Sirkular dan etikanya. Falsafah-Falsafah Menyatu dengan Alam yaitu : Manusia dan alam adalah satu : Manusia memakan, memasukkan bagian dari alam ke dalam dirinya, menjadi darah yang mengalir, menjadi daging dan tulang. Manusia juga mengeluarkan sesuatu yang kemudian diproses oleh alam pula. Manusia berasal dari tanah, akan kembali menjadi tanah, dalam proses penguraian. Manusia dan bumi pada hakekatnya adalah satu, saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Manusia melakukan sesuai alam melakukannya : Manusia patuh pada hukum-hukum alam. Semua rancangan manusia yang melawan alam, akan dikembalikan alam dan tidak akan mampu menahan daya kekuatan alam. Bangunan roboh, tanah longsor, banjir adalah daya kekuatan alam ketika manusia melawan hukum-hukum alam. Dengan mengikuti hukum alam, dan menjalin harmoni dengan alam, manusia dapat hidup berkelanjutan dan regeneratif. Kebaikan dan keburukan hakekatnya satu : Nilai sesuatu didasarkan tidak saja oleh persepsi tapi juga suatu kondisi. Suatu kebaikan yang berlebihan akan menjadi keburukan, suatu keburukan yang dapat dimoderasi akan menjadi kebaikan dan pelajaran. Api dalam jumlahnya sedikit dapat menghangatkan badan, memasak makanan, tetapi apabila berlebihan akan menjadi kebakaran. Air dalam jumlah sedikit membantu menghilangkan dahaga, menghidupkan tanaman, dalam jumlah berlebihan akan menjadi banjir dan petaka. Manusia bagian dari alam: dari Ego ke Eco : Manusia harus mengubah paradigma kehidupannya, dari egosentrisme, yaitu berpusat pada ego manusia, atau antroposentrisme, pandangan dunia yang meletakkan manusia sebagai pusat kehidupan dan berada pada puncak paling tinggi pada piramida makanan; menjadi ecocentrism atau berpusat pada ekosistem, atau alam, di mana manusia adalah bagian dari alam dan menyatu dengan alam. Manusia adalah bagian dari jaring makanan (food web) dan bukan piramida. Alam ini, termasuk di dalamnya bumi, kemungkinan besar akan tetap ada meskipun manusia ini tidak ada. Akan tetapi sebaliknya manusia bisa binasa, apabila alam ini hancur. Kehidupan di bumi ini usianya jauh lebih panjang daripada usia kehidupan seluruh manusia. Kerusakan alam, degradasi tanah, pencemaran air, kekeringan dan banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya adalah akibat dari pandangan bahwa manusia adalah penguasa alam. Industri yang dikembangkan manusia dan sistem perekonomiannya adalah didasarkan dari cara pandang tersebut. Dengan mengubah cara pandang ini, menjadi cara pandang yang “rendah hati” dan “kesadaran” bahwa manusia bagian dari alam dan menyatu dengan alam, maka sistem perekonomian dan industri dapat kita ubah. Demikian pula dalam hal pertanian. Selama ini manusia dikejar dengan produktivitas material, tonase hasil panen yang mengejar keuangan semata, dan mengabaikan tidak saja daya dukung alamiah tetapi merusak alam agar memberikan hasil lebih dari yang semestinya berdasarkan hukum alam, maka kehancuran alam adalah tanda dari kehancuran manusia itu sendiri. Pertanian harus mengubah paradigma dan cara berpikirnya agar menjadi pertanian selaras alam, pertanian lestari bumi atau sering disebut sebagai pertanian regeneratif yang bertumbuh dan terus bertumbuh bersama alam yang lestari. Cara pandang pertanian yang hanya mengejar keuntungan finansial semata, harus dilengkapi dan diubah dalam keutuhan yang holistik. Keuntungan dari hasil pertanian adalah niscaya, tetapi tidak harus dipertentangkan dengan kelestarian alam, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan cara, metode, desain serta pendekatan yang tepat, didasari cara berpikir dan bersikap yang benar dalam pertanian. Kearifan lokal dapat membantu dalam memahami keharmonisan antara manusia dengan alam. Eksistensi manusia harus menyatu dengan eksistensi alam pada tingkat kesadaran diri yang mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kehidupan dan desain seperti: (a) energi; (b) elemen-elemen dalam bentang alam; (c) makhluk hidup; (d) kesadaran baik secara jasmani dan rohani. Lilik Winarti (Sumber disarikan dari Modul-1 Dasar-Dasar Ekonomi Sirkular dan Pembangunan Pertanian Regeneratif, Kerjasama BPPSDMP dengan WAIBI tahun 2022)