Trichoderma sp. merupakan salah satu jenis cendawan antagonis yang berfungsi sebagai agensia hayati untuk mengendalikan penyakit tanaman. Cendawan ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan jamur patogen penyebab penyakit, sekaligus membantu memperbaiki kesuburan tanah melalui proses penguraian unsur hara yang terikat sehingga dapat diserap lebih mudah oleh tanaman. Karena bersifat alami dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia maupun lingkungan, Trichoderma sp. termasuk dalam kategori biofungisida ramah lingkungan yang sangat potensial digunakan dalam sistem pertanian berkelanjutan.
Sebagai biofungisida, Trichoderma sp. memiliki beberapa kelebihan, antara lain mampu berkembang biak secara alami di tanah, meningkatkan jumlah daun dan pertumbuhan tanaman, serta memberikan hasil pengendalian penyakit yang efektif dengan biaya rendah. Selain itu, agensia hayati ini tidak menyebabkan resistensi pada patogen sasaran, aman terhadap organisme non-target, dan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di sekitar perakaran tanaman.
Proses perbanyakan Trichoderma sp. dapat dilakukan secara sederhana menggunakan media beras. Langkahnya meliputi pencucian dan pengukusan beras, pendinginan, serta inokulasi dengan isolat Trichoderma sp. menggunakan alat steril. Setelah itu, media disimpan dalam plastik tertutup dan diinkubasi selama 7–14 hari pada tempat minim cahaya hingga miselium tumbuh merata. Hasil perbanyakan ini dapat digunakan sebagai biofungisida alami siap pakai.
Cara aplikasi Trichoderma sp. dapat dilakukan pada tahap pembibitan maupun pada tanaman di lapangan. Untuk pembibitan, benih dibasahi dan dicampur dengan 5–10 gram Trichoderma sp. per 100 gram benih, lalu didiamkan sekitar 30 menit sebelum disemai. Pada tanaman seperti jagung, aplikasi dilakukan dengan menaburkan 5–10 gram Trichoderma sp. di sekitar perakaran atau dengan pengocoran menggunakan larutan yang telah dicampur air dan gula merah, kemudian didiamkan semalam sebelum digunakan.
Penggunaan Trichoderma sp. sebagai biofungisida terbukti efektif dalam menekan berbagai penyakit penting pada tanaman jagung, seperti hawar daun (Helminthosporium turcicum), busuk pelepah (Rhizoctonia solani), penyakit bulai (Peronosclerospora maydis), busuk tongkol (Fusarium moniliforme), karat daun (Puccinia polysora), dan bercak daun (Bipolaris maydis). Melalui pemanfaatan agensia hayati ini, petani dapat meningkatkan kesehatan tanaman, menjaga keseimbangan ekosistem tanah, serta mengurangi ketergantungan terhadap fungisida kimia yang berisiko terhadap lingkungan.