Pestisida nabati dari campuran umbi gadung, daun mindi, serai, brotowali, daun sirsak, bengle, dan sabun sangat bermanfaat untuk tanaman padi karena mampu mengendalikan berbagai jenis hama seperti wereng, ulat grayak, dan penggerek batang, serta penyakit seperti blas dan kresek. Bahan-bahan tersebut mengandung senyawa aktif seperti saponin, alkaloid, minyak atsiri, dan flavonoid yang bekerja secara alami untuk mengusir, melemahkan, dan membunuh hama tanpa merusak tanaman maupun lingkungan. Pembuatan pestisida dilakukan dengan menghaluskan semua bahan, merendamnya selama 24 jam agar senyawa aktif larut, kemudian menyaring dan menambahkan sabun cair sebagai perekat. Larutan pestisida yang sudah jadi diencerkan sebelum disemprotkan ke tanaman padi, terutama pada bagian daun dan batang yang sering diserang hama. Hasil penggunaannya membuat tanaman padi lebih sehat, daun tampak hijau, pertumbuhan seragam, dan serangan hama berkurang, sementara hasil panen lebih aman dikonsumsi serta ramah terhadap lingkungan.
Pembuatan pestisida nabati ini bertujuan untuk memanfaatkan berbagai bahan alami di sekitar kita yang memiliki kandungan senyawa aktif sebagai racun serangga dan antimikroba. Bahan-bahan yang digunakan antara lain umbi gadung, daun mindi, batang serai, batang brotowali, daun sirsak, rimpang bengle, dan sabun cair sebagai perekat alami. Semua bahan tersebut memiliki kemampuan untuk mengendalikan berbagai hama seperti ulat, wereng, kutu daun, lalat buah, serta penyakit tanaman akibat jamur dan bakteri.
Langkah pertama, siapkan bahan-bahan berupa umbi gadung sebanyak 500 gram, daun mindi 200 gram, batang serai 200 gram, batang brotowali 200 gram, daun sirsak 200 gram, dan rimpang bengle 200 gram. Semua bahan dicuci bersih, lalu dipotong kecil-kecil agar mudah dihaluskan. Selanjutnya, haluskan semua bahan menggunakan blender atau ditumbuk hingga menjadi adonan kasar. Setelah halus, masukkan hasil tumbukan ke dalam wadah atau ember, tambahkan lima liter air bersih, dan aduk hingga merata.
Campuran bahan tersebut kemudian direndam selama 24 jam di tempat teduh agar senyawa aktif seperti saponin, alkaloid, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri dapat larut sempurna dalam air. Setelah perendaman selesai, saring campuran menggunakan kain kasa atau saringan halus untuk memisahkan ampas dari cairan. Hasil saringan berupa larutan pestisida nabati kemudian ditambahkan satu sendok makan sabun cair atau deterjen sebagai bahan perekat agar pestisida menempel dengan baik di permukaan daun saat disemprotkan. Pestisida yang sudah jadi bisa disimpan dalam wadah tertutup rapat dan digunakan maksimal dalam waktu tujuh hari setelah pembuatan. Sebelum digunakan, pestisida ini harus diencerkan terlebih dahulu dengan perbandingan satu banding lima (1 bagian pestisida dan 5 bagian air). Penyemprotan dilakukan pada pagi atau sore hari, terutama pada bagian daun yang sering diserang hama. Untuk hasil yang maksimal, penyemprotan dapat diulangi setiap lima hingga tujuh hari sekali, atau setelah hujan turun.
Pestisida nabati dari campuran ini memiliki banyak manfaat. Umbi gadung mengandung dioskorin dan saponin yang bersifat racun saraf bagi serangga. Daun mindi mengandung azadirachtin yang dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi hama. Serai memiliki minyak atsiri yang berfungsi sebagai pengusir serangga. Brotowali bersifat antimikroba dan dapat menekan perkembangan jamur dan bakteri penyebab penyakit tanaman. Daun sirsak kaya akan acetogenin yang mampu mematikan larva dan serangga penghisap, sedangkan bengle mengandung senyawa kurkumin dan minyak atsiri yang bersifat sebagai fungisida alami. Kombinasi semua bahan ini menjadikan pestisida nabati tersebut efektif mengatasi berbagai hama dan penyakit tanaman tanpa mencemari lingkungan. Selain efektif dan ramah lingkungan, pestisida nabati ini juga mudah dibuat dengan bahan yang tersedia di sekitar, tidak meninggalkan residu berbahaya, dan tidak menimbulkan resistensi pada hama. Melalui demonstrasi ini diharapkan peserta dapat memahami cara pembuatan pestisida alami serta mengaplikasikannya dalam kegiatan pertanian sehari-hari untuk mendukung sistem pertanian berkelanjutan dan aman bagi kesehatan.