Pupuk organik cair (POC) merupakan salah satu inovasi ramah lingkungan yang kini semakin banyak dikembangkan oleh petani di berbagai daerah. POC memiliki peranan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah dan memperbaiki pertumbuhan tanaman tanpa menimbulkan efek samping negatif bagi lingkungan seperti halnya pupuk kimia. Salah satu bahan alami yang banyak tersedia di sekitar petani dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan POC adalah urine kambing. Urine kambing diketahui mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk menunjang pertumbuhan vegetatif maupun generatif.
Selain itu, dalam pembuatan pupuk organik cair, bahan tambahan yang dapat meningkatkan efektivitasnya adalah empon-empon. Empon-empon merupakan kelompok tanaman obat seperti jahe, kunyit, lengkuas, dan serai yang memiliki kandungan senyawa aktif seperti minyak atsiri, antibakteri, dan antijamur. Kandungan tersebut berfungsi sebagai bioaktivator alami yang mempercepat proses fermentasi dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Kombinasi antara urine kambing dan empon-empon menghasilkan POC yang kaya akan unsur hara serta senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi pertanian organik.
Demonstrasi pembuatan pupuk organik cair ini dilaksanakan di BPP Kecamatan Sungkai Utara, Lampung Utara. Kegiatan ini diikuti oleh para petani, mahasiswa KKN, serta pendamping penyuluh pertanian lapangan. Para peserta dengan seksama memperhatikan penjelasan penyuluh mengenai manfaat, cara pembuatan, hingga cara aplikasi pupuk organik cair di lahan pertanian. Setelah sesi penjelasan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan POC di mana peserta diajak mencampurkan bahan-bahan yang telah disiapkan.
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan POC ini antara lain urine kambing sebanyak 10 liter, gula merah atau molase sebanyak 500 gram sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, air bersih sebanyak 10 liter, serta empon-empon seperti jahe, kunyit, lengkuas, dan serai yang masing-masing digunakan sekitar 100 gram dan dihaluskan terlebih dahulu. Semua bahan dicampurkan dalam wadah berupa ember atau jerigen plastik bertutup, kemudian diaduk hingga merata. Setelah itu wadah ditutup rapat, namun tetap diberi sedikit celah agar gas hasil fermentasi dapat keluar. Proses fermentasi dilakukan selama 10 hingga 14 hari di tempat yang teduh. Selama masa fermentasi, larutan perlu diaduk setiap dua hari sekali agar mikroorganisme dapat bekerja secara merata. Setelah proses fermentasi selesai, larutan disaring dan dimasukkan ke dalam botol plastik untuk disimpan.
Pupuk organik cair yang sudah jadi dapat digunakan dengan cara diencerkan terlebih dahulu, yaitu dengan perbandingan 1 liter POC dicampur dengan 10 liter air. POC ini dapat diaplikasikan melalui dua cara utama, yaitu dengan penyemprotan ke bagian daun atau penyiraman langsung ke tanah di sekitar perakaran tanaman. Penyemprotan dapat dilakukan setiap 7 hingga 10 hari sekali pada pagi atau sore hari untuk menghindari penguapan, sedangkan penyiraman tanah dapat dilakukan 1 hingga 2 kali seminggu.
Manfaat penggunaan POC dari urine kambing dan empon-empon ini sangat beragam. Selain dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman seperti daun dan batang, POC juga membantu memperkuat sistem imun tanaman sehingga lebih tahan terhadap penyakit. Kandungan mikroorganisme yang berkembang selama fermentasi berperan dalam memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara. Selain itu, penggunaan POC secara berkelanjutan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya cenderung mahal, sehingga dapat menekan biaya produksi pertanian.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, petani diharapkan mampu membuat dan memanfaatkan pupuk organik cair secara mandiri di lingkungan masing-masing. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah didapat seperti urine kambing dan empon-empon, petani tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga ikut menjaga keseimbangan ekosistem pertanian yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi masyarakat tani untuk berinovasi dalam bidang pertanian organik yang ramah lingkungan serta memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Secara keseluruhan, kegiatan penyuluhan pembuatan pupuk organik cair dari urine kambing dan empon-empon berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi peserta. Diharapkan, pengetahuan yang telah diberikan dapat diterapkan di lapangan dan disebarluaskan kepada petani lainnya agar pertanian organik semakin berkembang. Dengan langkah sederhana seperti ini, kita dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan untuk masa depan.