Inovasi teknologi merupakan kunci utama keberhasilan budidaya tanaman yang terdiri dari varietas unggul, benih sumber, teknologi budidaya yang efisien spesialisasi lokasi dan panen/pascapanen. Dalam memilih varietas sebaiknya menggunakan benih yang bersertifikat dengan memperhatikan potensi hasilnya, kesesuaian dengan kondisi lingkungan, umur tanaman, ketahanan hama atau penyakit. Varietas jagung hibrida Kementerian Pertanian terdiri atas beberapa generasi, yaitu generasi semar 1-10 IETAS, generasi Bima 1-20, generasi HJ 21, HJ 22 dan HJ 28 serta generasi NASA 29, JH 234, JH 27-32, JH 36, JH 45, JHARING 1, JHANA 1 dan JHG. Pemberian pupuk berbeda antar lokasi dan jenis jagung yang digunakan. Dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik maka kesuburan tanah akan berkesinambungan. Rekomendasi pupuk untuk memperoleh hasil tinggi adalah 350-400 kg urea + 300 kg pupuk majemuk (phonska atau NPK pelangi). Pupuk organik diaplikasikan sebagai penutup lubang tanam benih dengan takaran 1-2 ton/ha atau 1 genggam/lubang. Persiapan lahan terdiri atas pengolahan tanah dan pembuatan saluran drainase atau saluran irigasi. Saluran irigasi dibuat untuk pengaliran air dari areal pertanaman, terutama pada musim hujan, karena tanaman jagung peka terhadap kelebihan air. Sedangkan pada sistem tanam legowo dengan mengatur baris tanam sehingga terdapat ruang yang lebih longgar dan barisan tanam lebih rapat dengan populasi tepat. Sistem tanam legowo memudahkan untuk peningkatan indeks tanam, pengendalian gulma dengan cara herbisida dan berpeluang untuk menanam tanaman kacang-kacangan pada barisan legowo. Tanaman jagung sangat peka terhadap persaingan hara dan air dengan gulma pada awal perkembangan (20hst). Sebaiknya pengendalian gulma dilakukan pada saat awal pertumbuhan yaitu 15-25 hst. Herbisida pasca tumbuh awal diaplikasikan di awal pertumbuhan biji-biji gulma. Adapun Ciri-ciri tongkol normal pada tanaman jagung yaitu : Ujung kelobot penuh berisi biji. Jagung yang kahat kalium, ujung tongkol tidak berbiji penuh, bijinya jarang dan tidak sempurna. Jagung yang kahat fosfor yaitu pembentukan biji yang tidak sempurna, tongkol kecil dan sering bengkok. Jagung yang kahat nitrogen tongkolnya kecil dan ujung tongkol tidak berbiji. Jagung yang kekeringan persarian tidak sempurna pada saat pembentukan biji. Hama yang sering menyerang pada tanaman jagung diantaranya ulat grayak fungiperda (UGF) yang menyerang semua stadia pertumbuhan tanaman, namun frekuensi menyerang aktif mulai tanaman muda sampai umur 45 hari. Kunci keberhasilan pengendalian UGF di beberapa negara yaitu dengan penyuluhan dan sekolah lapang yang menekankan tentang Good Agricultural Practices, kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta, pelatihan petani tentang cara pengendalian yang efektif, penyebaran poster dan penggunaan biopestisida berbahan nabati maupun mikroorganisme. Sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman jagung yaitu bulai, hawar pelepah dan upih daun. Cara mengendalikannya dengan menggunakan campuran Acrobat dan Regent. Keuntungan menggunakan Acrobat + Regent yaitu tanaman aman dari bulai, terlindung dari hama saat awal pertumbuhan, pertumbuhan serempak, akar serabut banyak, tanaman lebih hijau, sehat, kokoh dan produksi tinggi. Kunci utama untuk memaksimalkan produktivitas jagung adalah dengan cara penggunaan varietas jagung hibrida berpotensi hasil tinggi, penggunaan benih bersertifikat dengan daya tumbuh >90%, gunakan sistem tanam jajar legowo yang tepat, pemupukan yang tepat dan pemberian pupuk organik. Gejala kekurangan pupuk KCl (K) yaitu daun berwarna kuning, bagian pinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau, gejala warna kuning membentuk huruf V terbalik, gejala tampak pada daun bagian bawah. Gejala kekurangan pupuk ZA (S) yaitu pangkal daun berwarna kuning, gejala tampak pada daun yang terletak dekat pucuk. Gejala kekurangan pupuk Magnesium (Mg) yaitu garis-garis keputihan sepanjang tulang daun dan sering kali timbul warna ungu pada bagian bawah dari daun tua. Panen dilakukan jika kelobot tongkol telah mengering atau berwarna coklat, biji telah mengeras, dan telah terbentuk lapisan hitam ≥ 50% pada setiap baris biji. Panen lebih awal atau pada kadar air biji masih tinggi menyebabkan biji keriput, warna kusam, dan bobot biji lebih ringan. Terlambat panen, apalagi pada musim hujan, menyebabkan tumbuhnya jamur, bahkan biji berkecambah. Diperlukan manajemen pascapanen yang menunjang perbaikan mutu jagung yaitu mulai dari panen, pengupasan, pengeringan, pemipilan/pengeringan kedua, penyimpanan, pengangkutan, klasifikasi dan standarisasi mutu. (Jks)